Sejarawan
1 bulan lalu · 1544 view · 5 min baca · Budaya 36716_78786.jpg

Ahok Bosan Jadi Cina

Ahok, sebuah nama yang lekat dengan kontroversi. Tak henti-hentinya pria keturunan Cina Hakka ini menjadi magnet problematika dan membuat publik di Jagat Mayantara selalu terpuaskan dengan asupan-asupan drama yang melingkupi kehidupannya.

Selepas menjalani hukuman di balik dinginnya jeruji besi dan seusai memutuskan jalinan perkawinan dengan mantan istrinya, Veronika Tan, Mantan Gubernur DKI Jakarta ini tak hanya hadir dengan nama panggilan baru, BTP (singkatan dari Basuki Tjahaja Purnama), namun kembali siap menyapa publik dengan rentetan-rentetan kehebohan berdaya ledak tinggi.

Menyoal biduk rumah tangga Ahok yang karam, memang patut disesalkan. Khususnya, apabila kita mengikuti postulat hukum yang berbunyi: "Apa yang telah diputus oleh Hakim harus dianggap benar" (Res Judicata Proveritate Habetur), maka tentu beban kesalahan jatuh di pundak Veronika Tan, yang kehilangan hak asuh atas buah hatinya sebagai konsekuensi perbuatan serongnya dengan pengusaha rupawan bernama Julianto Zhang.

Namun, seakan ingin melakukan retaliasi atas segala sedu sedan yang ia tanggung, Ahok segera saja mengikat tali asmara dengan seorang gadis Huana (Pribumi Austronesia) bernama Puput Nastiti Devi. Sesuatu yang cukup menggegerkan bagi kebanyakan Huaren (etnis Cina) yang dahulu sangat getol mendukungnya.

Mulai dari sini, penulis akan mulai menggunakan terma yang penulis rasa cukup sesuai. Huaren untuk Etnis Cina, mengacu kepada Huaxia, Konfederasi suku-suku Sinitic di Huabei Pingyuan, sebagai awal mula formasi Peradaban Cina. Sedangkan untuk pribumi Austronesia (Jawa, Sunda, Batak, dll.), penulis memilih menggunakan istilah 'Huana' karena istilah dalam bahasa Hokkien itu memang dipakai sejak lama untuk menyebut suku Austronesia di Taiwan dan juga orang Melayu di Penang.

Kembali ke pokok masalah, tak cukup menggegerkan sesama Huaren dengan pasangan hidupnya yang baru, Ahok juga secara kontinu terus menebar cerita seputar dimensi dursila dari mantan istrinya. Seperti kelemahan Veronika dalam meracik penganan sehari-hari, termasuk di antaranya membuat Kuweh. Seolah Veronika tak memiliki andil jasa dalam epos kehidupan pria bernama asli Zhong Wan Xue itu.


Sikap Ahok yang demikian tak hanya menciptakan jurang antara ia dengan sesama Huaren, namun juga dengan kedua anaknya, Natania dan Daud, yang karena faktor usia amat terpengaruh dengan perpisahan kedua orang tuanya.

Kali ini, rahasia dapur rumah tangga Ahok kembali ia umbar di rumah ibadah, tepatnya di Gereja Reformed Injili Indonesia Samarinda. Tak cukup sampai di situ, seolah tidak jera menabrak batu sandungan yang dahulu membuatnya terjerembab sebagai narapidana, Ahok juga menambahkan bumbu berupa kritik pedas terhadap adat serta kepercayaan leluhurnya.

"Kita selama ini kalau jadi orang, terutama orang keturunan Chinese yang belum Kristen, mau tau Tuhan bicara gimana caranya, suka lempar-lempar gitu loh, kalau buka, ketawa, diketawain, kalau ketutup, gak ngomong. Atau yang cara kedua, masukin, yang kocok-kocok, yang loncat keluar itu loh. Kalau loncat keluar dua, balikin, kalau loncat keluar satu, lalu kita lihat, oh Tuhan ngomongnya gitu..."

Sudah jelas, yang dikritik oleh Ahok adalah praktik Ciamsi dan Pwa Pwee, sebuah metode prekognisi klasik yang dikembangkan oleh masyarakat Huaren, sekaligus sarana membangun relasi interpersonal antara manusia sebagai entitas profan dengan entitas transendental seperti Dewa Kongco alias Guan Yu dan Dewi Makco alias Tian Shang Sheng Mu.

Mudahnya begini, apalabila kita pergi ke Klenteng untuk mengambil ciamsi atau bertanya peruntungan, kita harus tanya dulu apakah Dewa yang bersangkutan sedang hadir atau tidak. 

Kita harus mengambil sepasang pwee, dua keping kayu berbentuk seperti biji mete. Yang satu sisi cembung, yang satu datar. Lalu kita bertanya, "Kongco, owe mau tanya. Kongco ada di tempat tidak?"

Pwee dilempar secara vertikal, lalu lihat posisi jatuhnya. Apabila pwee yang satu telungkup, alias sisi cembung di atas dan yang satu telentang, alias sisi cembung di bawah, itu Sio Pwee, artinya 'ya'; Sang Dewa ada di tempat. Kalau dua-duanya telungkup, atau dua-duanya telentang, itu artinya Sang Dewa sedang absen di tempat. 

Hendaknya, kita bersabar, dan mencoba lagi di lain kesempatan. Kemudian, kita bisa coba tanya Biokong atau penjaga klenteng, Kongco jam berapa ada di tempat? Lalu mereka akan menerangkan kapan waktu keberadaan sang dewa agar kita dapat berkonsultasi. 


Misal, Kita bisa menanyakan pada Makco, mengenai pelbagai perkara duniawi. Contoh, anak gadis kita dilamar oleh pemuda yang tinggal di Karawaci dan lahir dengan Shio Naga, sedangkan putri kita Shio Babi. 

Untuk mencari apakah ada sinergitas pada kedua insan tersebut, maka tabung berisi batang-batang bambu yang dibubuhi angka satu hingga puluhan yang dimiringkan dan dikocok, "Crek! Crek! Crekk!," sampai salah satu batang jatuh ke lantai sebagai jawaban atas pertanyaan, lalu diambil dan ditancapkan ke hiolo. 

Kita ambil sepasang pwee, lalu bertanya kepada Makco soal jodoh anak gadis kita, pwee dilempar: Satu telungkup, satu telentang. Sio Pwee, ternyata pas. Lalu kita intip nomornya: ciamsi no 10, KUI IU. Kemudian, kita ambil kertas ciamsi di laci sebelah altar, yang isinya sebuah syair pendek, dan tafsir yang memuat aspek negatif serta positif dari ramalan tersebut.

Praktik Ciamsi dan Pwa Pwee tak lekang ditelan zaman dan tetap menjadi andalan banyak saudagar Huaren. Bahkan mampu bersaing dengan suhu Guamia yang kalau kita bertanya, 'Bisnis owe seret nih tahun ini', sering kali direspons :"wah Shio lu Jiong tahun ini, kantor lu banyak Sha Chi (energi pembunuh) nih, aaa bekas kuburan sih, mesti pindah ke tempat yang banyak Seng Chi (energi positif) laaa".

Penolakan Ahok terhadap praktik ritual lawas tersebut sebenarnya sinkron dengan rekam jejak Ahok yang pernah mengimbau konstituennya agar tak usah mengindahkan Al-Maidah ayat 51 serta tak perlu menggubris imbauan ulama-ulama yang membawa-bawa ayat tersebut dalam khotbah maupun pengajian.

Setidaknya terdapat dua elemen vital yang menjadi landasan rancang bangun pemikiran Ahok. Pertama, elemen teologi Kristen yang antitakhayul. Kedua, paradigma sekular-modern yang berkelindan dalam sanubari Ahok.

Mengenai elemen pertama, penolakan agama Kristen terhadap praktik magis di negeri tirai bambu bisa menjelaskan kenapa Kaisar Wuzong dari Dinasti Tang memersekusi penganut Kristen Nestorian dan mengapa Dinasti Ming pernah menyatakan agama Kristen sebagai aliran sesat dan justru Islam yang dianggap sebagai agama yang sejalan dengan nilai-nilai Konfusianisme. 

Dilema antara ritus pemujaan leluhur dengan ajaran Kristus terus mengendap hingga terbit titik terang pada Konsili Vatikan Kedua.


Adapun elemen kedua, apabila kita mengenal betul sepak terjang Ahok, kita akan dengan mudah menyimpulkan bahwa Ahok itu sangat modern dan beton-minded, menjadikan pembangunan fisik sebagai panglima. 

Karenanya, kendati banyak orang Bali yang mendukung Ahok, namun mereka bersikap ambigu dan ambivalen ketika didesak oleh sejumlah oposan Ahok untuk menampung beliau sebagai Kepala Daerah di Pulau Dewata. Karena jelas, bagi Ahok, menggusur satu-dua situs sakral tak jadi soal. Sofistikasi tata kota harus dikedepankan dibanding nilai religio-magis.

Yang terakhir, kritik dan caci maki yang dilontarkan Ahok terhadap ritus budaya Huaren yang sudah berkembang sejak 5500 tahun yang silam ini seolah ingin mengirim sinyal bahwa dirinya lebih memilih menjadi Hanjian (pengkhianat Huaren) selevel Wu Sangui dan Wang Jingwei demi menegakkan prinsip yang ia rasa benar. 

Bahkan, sesama Huaren yang kerap dilabeli sebagai Hanjian karena keikutsertaannya dalam Aksi 212, seperti Lieus Sungkharisma alias Li Xue Xiung dan Zeng Wei Jian alias Kenken, pun tak sampai hati untuk mencela tradisi leluhurnya sendiri.

Oleh karenanya, jika Ahok tak merasa bangga lagi untuk mendaku sebagai Huaren dan mungkin, ingin menjadi Huana, so be it. Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Namun mulai sekarang, Ahok sendirian.

Artikel Terkait