Ahok bisa kalah itu pasti. Ahok pasti kalah? Tentu tidak!

Sebelum peluit akhir dibunyikan apapun bisa terjadi. Oleh karena itu jangan pernah beranggapan bahwa Ahok sudah menang! Itu keliru, dan akan merugikan Ahok dan pendukungnya.

Untunglah pertarungan tidak jadi satu lawan satu. Andai demikian, entahlah akan seperti apa dashyatnya gempuran terhadap Ahok. Seperti energi yang terakumulasi dan fokus diarahkan kepada satu titik, maka sangat besar kemungkinannya energi itu akan mampu menerobos sesuatu yang sangat keras dan kuat sekalipun.

Demikian juga dengan segala hal yang tidak sejalan dengan Ahok, andai semua energi mereka dikumpulkan dan difokuskan untuk menghantam Ahok, maka anda bisa bayangkan seperti apa jadinya. Ahok bisa babak belur, terkapar.

Coba bayangkan sekiranya ketidaksukaan, kebencian, dendam terhadap Ahok karena faktor: SARA, Ekonomi, Politik dan Persekongkolan bertemu di satu wadah.

Jika kesemuanya itu bisa terakumulasi dan fokus hanya untuk menghantam Ahok, sangat mungkin Ahok tumbang. Beruntunglah ada tiga kontestan yang maju ( walau masih menunggu pengumuman KPUD). Setidaknya konsentrasi lawan Ahok terpecah. Selain menumbangkan Ahok, juga menyingkirkan kontestan lain. Yang semestinya mereka hanya berhadapan dengan satu lawan dengan kekuatan yang sangat besar, sekarang harus terpecah dan juga harus menghadapi tambahan lawan.

Demikian juga senjata yang hendak mereka gunakan tidak lagi bisa dengan kekuatan maksimum akibat fokusnya tidak lagi satu, moncongnya sudah menjadi dua arah. Tenaga atau dayanya juga sudah pasti berkurang.

Lantas, apakah pertarungan kali ini menjadi lebih mudah buat Ahok dan pendukungnya?

Sebaiknya jangan pernah berpikiran demikian! Apa saja bisa terjadi di arena. Dan jangan pernah menganggap enteng lawan, tetap waspada!

Kekalahan sangat bisa terjadi pada mereka yang menganggap dirinya kuat dan sudah menang. Padahal belum tentu, karena pertandingan belum usai, dan selalu ada peluang bagi mereka yang tidak pernah menyerah dan terus berjuang, termasuk pesaing Ahok.

Dalam konteks Pilkada DKI, sebaiknya pendukung Ahok jangan senang dulu karena lawannya bukan Yusril dan tidak head to head pula. Sebab ada kecenderungan pendukung Ahok terjebak melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang dilakukan pembenci Ahok selama ini.

Jika pembenci Ahok tak henti-hentinya mengeksploitasi kebencian terhadap Ahok, dan sisi buruk personal dan kebijakan Ahok, maka semestinya pendukung Ahok mau belajar dari kesalahan mereka. Jangan pernah mengekploitasi hal yang sama dari pesaing Ahok.

Jangan pernah meremehkan Agus Yudhoyono sekalipun ia berpangkat Mayor dan masih muda. Boleh saja ia belum punya pengalaman, tetapi jangan pernah merendahkan anak dari Pak Beye yang adalah mantan Presiden . 

Jangan sepele terhadap Anies sekalipun ia terkena reshuffle Pak Jokowi. Jangan anggap kecil kekuatan Sandiaga, ia orang kaya dan banyak orang suka berteman dengan orang kaya.

Jangan kedepankan antipati terhadap mereka dengan maksud mendapatkan simpati untuk Ahok! Stop eksploitasi kebencian, apalagi dengan fitnah. Tetap waras dan rasional, itu lebih bermartabat.

Lebih baik fokus pada kinerja dan prestasi Ahok dan hal hal positif lain yang sudah dan akan didapat melalui kepemimpinan Ahok, Itu lebih simpatik. Ahok bisa menang dan diterima karena ia berbeda. Berbeda dalam hal positif tentunya.

Jangan berandai-andai Ahok akan menang satu putaran, walaupun hal itu bisa saja terjadi. Lebih baik rendah hati, sampaikan bahwa Ahok butuh sebanyak mungkin warga untuk mendukung dia, bukan sebaliknya seolah olah Ahok tidak butuh mereka. Berusaha jugalah meyakinkan warga,bahwa mereka perlu Ahok untuk kebaikan Jakarta. Dengan jalan demikian banyak konstituen akhirnya bersimpati.

Ya, Ahok bisa kalah. Akan tetapi pendukungnya harus berusaha supaya ia jangan sampai kalah. Apalagi kalah oleh karena sikap pendukungnya yang menganggapnya sudah menang. Pertandingan belum selesai, dan apapun masih bisa terjadi.

Waktunya bekerja dan tetap waspada. Kedepankan simpati bukan benci, apalagi tinggi hati!