Penikmat Kopi Senja
1 tahun lalu · 15616 view · 3 menit baca · Politik 85399_27591.jpg
mediasulut.co

Ahok Bebas, Jokowi Galau

LPI (Liga Politik Indonesia)

Barcelona FC yang memiliki skuad cukup lengkap ternyata tetap menambah kekuatan dengan mendatangkan Coutinho, pemain asal Liverpool. Posisi mereka di liga domestik cukup aman, namun mereka memiliki visi untuk masa depan.

Coutinho diharapkan dapat mengganti peran Andrea Iniesta bila dia pensiun atau cedera. Regenerasi tersebut sebagai langkah pencegahan tim goyah pada paruh musim kedua. Paruh musim pertama mereka sukses, tentu masih ada paruh musim kedua agar menutup kompetisi sebagai juara.

Jokowi juga ingin melakukan hal yang sama pada periode keduanya. Ada beberapa nama yang sudah disiapkan guna mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019. Kapolri (Tito), mantan panglima TNI (Gatot), dan sahabat lamanya, mantan Gubernur DKI Jakarta (Ahok).

Tito Karnavian yang saat ini merupakan Kapolri memang sangat loyal pada Jokowi. Tito juga dekat dengan Ahok saat menjabat sebagai Kapolda. Tito bisa dibilang memiliki elektabilitas yang tidak jelek, namun Jokowi butuh pendamping lebih dari itu.

Kandidat yang kedua, Gatot Nurmantyo yang merupakan mantan panglima TNI, saat ini sangat dikenal. Popularitas dan elektabilitasnya sebanding. Bahkan ada wacana agar Gatot menjadi capres bukan sebagai cawapres.

Kandidat terakhir yang akan segera muncul sebagai cawapres Jokowi adalah Ahok. Meskipun masih ditahan, Ahok punya peluang menjadi cawapres bila menang di MA. Mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sepertinya belum puas atas vonis 2 tahun penjara yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Jakarta Utara kepada dirinya.

Peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung merupakan hak setiap warga negara. Langkah hukum tersebut akan berdampak politik. Bila Ahok menang dan dibebaskan dari segala tuntutan, maka Jokowi memiliki 3 kandidat cawapres ideal pada Pilpres 2019.

Baik Tito maupun Gatot, pastinya sangat ingin mendampingi Jokowi. Akan tetapi, hati Jokowi sudah terlanjur "cinta" pada Ahok. Namun demikian, Jokowi tak boleh gegabah, emosional, dan mengedepankan perasaan dalam memilih wakilnya. Jokowi harus cermat dan tepat dalam menentukan wakilnya.

Bebasnya Ahok tentu saja opsi cawapres bagi dirinya semakin banyak dan di saat yang sama akan membuat galau. Salah satu partai pendukung Jokowi, partai Golkar, misalnya, menginginkan Gatot yang mendampingi Jokowi. Walaupun mereka akan tetap setuju bila Jokowi memilih yang lain.

Sementara suara pendukung Jokowi yang mengharapkan Tito mendampingi Jokowi juga tak sedikit. Demikian pula dengan Ahok yang memiliki pendukung loyal se-nusantara. Bahkan, Ahok menjadi sangat terkenal di dunia ketika demo umat Islam beberapa waktu yang lalu.

Jokowi memiliki "utang" jasa pada Ahok. Di pilpres 2014, Ahok malah terkesan mendukung Jokowi ketimbang kandidat dari parpolnya sendiri. Hubungan keduanya sudah sejak lama terjalin yang berarti keduanya lebih mudah berkomunikasi sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Mereka pernah sama-sama berjuang di Jakarta. Soal kecocokan, mereka telah lama cocok. Parpol pendukung Jokowi juga mendukung Ahok pada Pilgub DKI Jakarta (2017). Hal itu berarti Ahok akan sangat mudah diterima menjadi cawapresnya Jokowi.

Namun demikian, politik bukan soal cocok tak cocok. Toh Jusuf Kalla yang lebih tua dari Jokowi serta merupakan mantan wapres SBY harusnya tak cocok menjadi wapresnya Jokowi. Fakta sejarah mengatakan, mereka menang dan sebentar lagi mengakhiri masa jabatannya.

Hitungan politik harus jeli, cermat, dan akurat serta memiliki validitas. Bukan tidak mungkin pada Pilpres 2019 Jokowi kalah karena salah memilih cawapres. Itu sebabnya Jokowi pantas galau dengan bebasnya Ahok. Tak memilih Ahok sebagai cawapres juga dapat membuat para pendukung Ahok kecewa.

Barangkali Ahok juga kecewa bila Jokowi lebih memilih Tito maupun Gatot daripada dirinya. Langkah PK yang dilakukan tim kuasa hukum Ahok pastilah tidak main-main. Mereka pasti sudah mempertimbangkan segala aspek hukum, termasuk kemungkinan Ahok bebas dari segala hukuman.

Bila Ahok bebas, tentu bursa capres dan cawapres 2019 semakin menarik. Tentu bukan hanya Jokowi yang galau memiliki wapres yang tepat, lawan-lawan politiknya pun akan merasakan hal yang sama. Politik memang selalu menampilkan kejutan dan kontroversial.

Kali ini kejutan besar akan terjadi bila Ahok diajak Jokowi untuk kembali mendampinginya sebagaimana Pilkada DKI Jakarta. Jokowi memang satu-satunya kontestan yang telah memegang tiket Pilpres 2019. Lawan politiknya terus memunculkan nama-nama agar direspons publik.

Jokowi juga melakukan hal yang sama. Namun, tim Jokowi hanya memunculkan nama cawapres. Dan hingga kini baru dua nama: Tito dan Gatot. Nama Ahok akan kembali muncul bila MA memutuskan Ahok bebas, termasuk hak politiknya.

Calon alternatif seperti Anies memang sengaja dihembuskan lawan-lawan politik Jokowi guna menambah galau dirinya. Kemenangan spektakuler Anies pada Pilkada DKI Jakarta tak bisa dianggap remeh. Apalagi Jokowi juga bermula dari kemenangannya di Pilkada DKI.

Elektabilitas Anies terus beranjak. Jokowi tak bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri. Jokowi harus segera menentukan siapa cawapresnya; Ahok, Tito atau Gatot. Kita akan nantikan siapa yang akan dijadikan wakilnya. Menurut Anda, siapa?