Melihat perkembangan politik Jakarta menjelang Pilkada 15 Februari 2017 nanti, saya tiba-tiba teringat sebuah pepatah Arab. Pepatah ini kerap saya dengar lewat tausiah-tausiah pimpinan pesantren saya dulunya. Saking melekatnya di kepala, kami para santri sering melafalkan pepatah itu dengan berbagai aksen dan bacaan.

Pepatah itu sederhana: 

kesehatan adalah mahkota bagi orang yang sehat. Sayangnya, dia tidak terlihat kecuali oleh orang yang sedang pesakitan. 

Dalam versi Arabnya, pepatah itu berbunyi: 

Al-shihhatu taajun ala ru’usil ashihha’ la yaraha illa al-mardha.  

Bagaimana memahami pepatah ini? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lupa bahwa tatkala sehat walafiat, sesungguhnya kita seperti sedang mengenakan semacam mahkota. Gagah sekali mahkota itu bersemayam di kepala.

Berbekal mahkota itu, kita bisa petantang-petenteng tanpa halangan. Tapi sayangnya, kita sering pula alpa bahwa kita sedang mengenakan mahkota. Kita lupa, sehat adalah mahkota dan nikmat yang layak disyukuri. Tatkala jatuh sakit, kita baru sadar bahwa mahkota kesehatan itu sedang menghilang dari kita.

Seringkali, hanya orang sakit yang betul-betul tahu betapa besarnya nikmat sehat. Orang sehat malah tak.

Apa hubungannya dengan Ahok dan perhelatan Pilkada Jakarta?

Bagi saya, Ahok adalah mahkota yang sedang dikenakan segenap warga Jakarta. Gagah, mewah, indah sekali mahkota itu. Ia padu-padan di kepala warga Jakarta.

Ia mampu membenahi dan mempercantik Jakarta. Sungai-sungai dia buat jernih, nyaris mungkin dibuat mandi. Potensi banjir sangat jauh berkurang. Jalanan, bendungan, jembatan, dia benahi. Pasukan jingga siap sedia menjaga kebersihan seantero ibukota. Transportasi, pelayanan birokrasi, kesehatan, pendidikan, jauh lebih baik dari zaman sebelumnya.

Semua yang saya sebutkan tadi merupakan gejala-gejala baik yang menunjukkan bahwa Jakarta sedang bugar-bugarnya. Jika Ahok diberi kesempatan untuk melayani masyarakat Jakarta lagi, saya yakin ibukota akan lebih baik dan kian menjadi kota yang kian manusiawi dan nyaman untuk dihuni.

Sayangnya, semua gejala baik dan sehat itu kini tengah tercemari oleh trik-trik dan intrik politik untuk menjatuhkan Ahok dan bahkan menghalanginya untuk memimpin lagi.

Sehatkah warga Jakarta?

Survei SMRC bulan Agustus menunjukkan mereka masih segar bugar. 75% warga Jakarta puas dengan kinerja Ahok-Djarot. Survei Poltraking Indonesia bulan September menyebut tingkat kepuasan warga Jakarta terhadap kinerja Ahok masih di angka 68,72%. Survei Charta Politika bulan November menyebut angka 63,3% untuk kepuasan masyarakat Jakarta atas kinerja mereka.

Dari berbagai survei tadi, kita tahu bahwa warga Jakarta masih sehat walafiat. Mereka mampu melihat dengan mata kepala sendiri betapa baiknya kinerja Ahok-Djarot.

Namun, apakah kewarasan itu nantinya akan diterjemahkan dalam bentuk mandat baru agar Ahok-Djarot kembali melayani ibukota? Belum tentu! Ini sangat tergantung pada dinamika politik menjelang pencoblosan 15 Februari 2017 nanti.

Kalau kita perhatikan dinamika politik Jakarta 2 bulan belakangan ini, tampak sekali bahwa masyarakat Jakarta yang sehat walafiat tadi tampak sedang dirundung wabah masuk angin. Sebagian cukup terpengaruh oleh isu-isu primordial dan rasial yang kini sedang menggempur Ahok dari berbagai penjuru.

Beragai survei terakhir menunjukkan bahwa kini Agus-Sylvi unggul tipis atas Ahok-Djarot dalam soal elektabilitas. Angka-angka jelas sekali menunjukkan bahwa Agus-Sylvi adalah kubu yang paling diuntungkan dibandingkan Anies-Sandi dari kisruh politik yang kini sedang menimpa Ahok.

Dapat saya katakan, kondisi sebagian warga Jakarta saat ini persis seperti pepatah di atas: mereka sebenarnya sedang mengenakan mahkota, tapi mereka tidak mampu lagi melihat hiasan nan indah itu. Ahok adalah mahkota yang sedang terhijab dan terlupakan!

Situasi ini tentu sangat ironis jika kita bandingkan dengan kondisi berbagai daerah di Indonesia yang dipimpin oleh mereka-mereka yang la yusmin wala yughni min ju’.

Sebagian daerah mengalami kutukan karena sedang dipimpin oleh mereka yang “tidak menyejahterakan dan tidak pula mampu menghilangkan sengsara” warganya. Itulah istilah Quran yang cocok untuk menggambarkan kinerja sebagian gubernur, walikota, atau bupati yang sedang memimpin mayoritas daerah di Indonesia. Beberapa daerah malah dipimpin oleh orang-orang yang tidak berguna sama sekali.

Karena sempat atau sedang tertimpa sakit, warga di berbagai daerah itu mungkin saja dapat melihat secara lebih jernih bahwa Ahok adalah mahkota yang sedang bertahta di kepala warga Jakarta.

Sebagian mereka ingin sekali mahkota itu berpindah ke kepala mereka karena tak kuasa menahan sakit akibat dipimpin kepala daerah yang nirkinerja, hanya memperkaya diri, keluarga dan elit-elit koalisi mereka. Bahkan sebagian pemimpin mereka malah mendekam di penjara akibat mencuri anggaran.

Karena itu, masyarakat Jakarta seyogyanya jangan masuk angin dan mesti lebih banyak bersyukur lagi. Jakarta saat ini telah punya pemimpin terbaik se-Asia dan dunia menyaksikan pada kita harapan. Jaga kewarasan masing-masing kepala kita agar tidak tersirap oleh hasutan.

Jangan biarkan ibukota jatuh ke tangan pemimpin yang tak punya etos melayani dan mungkin hanya berambisi untuk melanggengkan dinasti keluarga. Jangan biarkan kemajuan Jakarta justru mangkrak atau terbengkalai oleh janji-janji manis masa singkat kampanye.

Wahai warga Jakarta, Ahok adalah mahkota yang kini sendang bertahta di kepala kita. Jangan biarkan mahkota itu mengapung atau justru diseret arus kelalaian!

Selamat tahun baru, pastikan tetap Ahok di 2017!