Ingar bingar perayaan kemerdekaan Republik Indonesia bulan lalu, nyaris tak sejalan dengan kebabasan beragama yang tetap menyayat kalbu. Sebuah potret miris penyegelan masjid kembali terjadi, dan lagi-lagi Ahmadiyah yang harus mengalami untuk kesekian kali.

Perayaan kemerdekaan di tengah negara yang berdaulat tidak bisa dinikmati oleh Ahmadiyah Sintang, untuk bisa beribadah tenang di masjid yang mereka bangun secara swadaya. Padahal, jika melansir berbagai situs resminya, Ahmadiyah bukan lah organisasi penentang pemerintah.

Jemaat ini memang mengusung khilafah. Akan tetapi, khalifah yang dimaksud tidak lain adalah pimpinan spiritual, bukan pimpinan politik yang mempersyaratkan penggeseran pemimpin negara yang sah di NKRI.

Peristiwa ini memang bukan yang pertama di Indonesia. Masih panjang antrean peristiwa yang terjadi, dalam daftar pemangkasan hak kebebasan beragama dan beribadah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing.

Mengutip penjelasan di kanal resmi komnasham.go.id, kebebasan beragama dipandang sebagai hak positif dan negatif. Dalam konteks hak negatif, tidak boleh ada paksaan dari siapapun kepada siapapun untuk beragama dan berkeyakinan.

Sementara hak positif adalah, setiap orang berhak memilih agama dan keyakinannya, termasuk untuk tidak beragama. Sebuah pilihan yang fair, bahkan untuk tidak memilih.

Dengan demikian, mari sejenak lihat apa yang terjadi di Kabupaten Sintang. Ketika pemerintah Kabupaten Sintang melalui aparatnya justru melakukan penyegelan masjid, hanya karena berbeda paham.

Bahkan lebih dari itu, mereka telah kehilangan masjidnya, ketika massa menyerbu dan membakarnya secara tiba-tiba. Hari Jumat, 3 September 2021, barangkali akan tercatat dalam ingatan traumatis para Ahmadi di sana.

 

Ahmadiyah Sintang di Tengah Persekusi

Jika mengingat sebuah peristiwa terbitnya SKB 3 Menteri untuk Ahmadiyah Tahun 2008, tidak satupun klausula yang menyatakan bahwa Jemaat Ahmadiyah harus bubar. Hal itu berarti, pemerintah pun seharusnya masih harus menjamin eksistensi dan keamanan Ahmadiyah.

Mereka tetap harus mendapat jaminan sebagai warga negara yang ingin menjalankan ibadah di masjidnya. Masjid yang mereka bangun sendiri, di tanah sendiri, dengan biaya sendiri.

Namun demikian, kekeliruan kerap terjadi di lapisan akar rumput, yang menjadikan SKB 3 Menteri tersebut sebagai “dalil” untuk menghentikan mutlak seluruh kegiatan Ahamdiyah, termasuk menutup masjid-masjid yang mereka miliki.

Masjid yang dibangun adalah swadaya para anggota Ahmadiyah. Tanah dan bahan bangunan adalah usaha mandiri para anggota. Jemaat ini besar dari dan untuk anggota. Tidak ada afiliasi dengan organisasi manapun.

Ahmadiyah dan Kemerdekaan Indonesia

Beragam tindakan yang disinyalisasi sebagai pelanggaran hak beragama dan berkeyakinan ini, memang seharusnya menjadi bahan renungan bersama. Kemerdekaan seharusnya dimaknai dengan jaminan kemerdekaan bagi seluruh warga negara Indonesia.

Ahmadiyah memang bukan pahlawan nasional yang nama-namanya banyak dikenal. Akan tetapi, bukan berarti Ahmadiyah tidak berkontribusi untuk kemerdekaan negeri ini. Jemaat ini memiliki ikatan kuat dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Khalifah Ahmadiyah ke-II, pernah menyampaikan bahwa, “jika negara mendapatkan kemerdekaan 100%, maka hal tersebut akan berdampak besar bagi kemajuan Islam”. Beliau bahkan mendoakan secara khusus agar Indonesia meraih kemerdekaannya.

Hal itu juga ditindaklanjuti dengan sebuah langkah konkret yang harus dilakukan oleh mubaligh-mubaligh Ahmadiyah, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, mengakui, dan mengumumkannya dalam berbagai tulisan.

Sementara itu, salah seorang tokoh Ahmadiyah, Maulwi Sayid Shah Muhammad Al-Jaelani, adalah tokoh Ahmadiyah yang juga berperan dalam kemerdekaan. Beliau adalah salah satu panitia pemulihan pemerintahan RI pusat, yaitu lembaga yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara.

Lagu Indonesia Raya yang sangat agung, juga terlahir dari seorang Ahmadi, Wage Rudolf Supratman. Sebuah kiprah yang mustahil dilakukan, jika organisasi ini dan anggotanya hanya mementingkan kemajuan organisasinya saja, dan menginginkan penguasaan wilayah secara politik.

Peran yang diambil oleh Ahmadiyah, tentu saja bukan tindakan spontan, melainkan sebuah pengamalan bela negara yang juga turut diperintahkan oleh Khalifah Ahmadiyah.  Pimpinan spiritual jemaat ini tetap menggarisbawahi pentingnya menghormati pemerintahan yang berdaulat.

Mencintai tanah air bagi para Ahmadi, adalah bagian dari keimanan. Menghormati keragaman, adalah juga bagian dari ketakwaan.

Kebhinekaan dengan Batasan

Indonesia sudah merdeka dari penjajah. Tujuh puluh enam tahun bukan lagi usia anak muda. Alangkah indahnya jika bangs aini bisa mengepakkan sayap-sayap kebhinekaan bersama-sama, bukan hanya ingin terbang sendiri saja.

Ahmadiyah di Indonesia, juga warga negara yang sama dengan yang lainnya. Mereka memilih jalannya, karena mereka memiliki keyakinan dari dalam hatinya masing-masing. Apa bedanya dengan agama yang lain yang juga bebas dipilih dan diyakini.

Indonesia sudah berdiri lama, dalam budaya saling menerima dan menghormati pilihan sesama. Maka jika ada organisasi yang pandangannya berbeda dengan kebanyakan orang, kenapa harus diangkat sebagai ‘gorengan’ aliran menyimpang yang harus dibubarkan?

Ahmadiyah dengan masjid dan keyakinannya, termasuk salah satu yang turut mendoakan Indonesia dan dunia supaya wabah ini cepat selesai. Gerakan memakai masker dan vaksinasi massal juga digagas di banyak masjid-masjid Ahmadiyah di dunia dan Indonesia.

Masjid Ahmadiyah ‘Baitul Futuh’ di London menjadi tempat vaksin massal bagi siapapun, tidak khusus untuk Ahmadi saja. Masjid Ahmadiyah Padang yang juga mengubah setting-nya sejenak untuk tempat baksos dan vaksin masal.

Ditambah lagi, deklarasi Desa Siaga Covid di Tenjowaringin Tasikmalaya, yang juga mayoritas warganya adalah Ahmadi. Hal itu barangkali bisa menjadi contoh konkret bahwa komunitas ini bukanlah penentang program pemerintah.

Mereka yang dianggap sesat, mengapa masih baik dan mau mendukung gerakan pemerintah? Bagaimana jika ternyata, doa-doa untuk kebaikan negeri ini ternyata terkabul karena kebaikan mereka yang terzalimi?

Semoga panjang umur, Indonesia. Bersatulah dalam keragaman. Melajulah dalam kebhinekaan.