Desa Tanggir semula adalah desa yang masih tradisional, baik perilaku masyarakat maupun kondisi alamnya. Namun, sejak berkembangnya teknologi pertanian dan maraknya pembangunan, lambat laun membuat semua berubah.

Efek urbanisasi membuat sebagian masyarakat menjadi materialis. Petani lebih suka mengerjakan pertaniannya dengan peralatan mesin.

Konflik dimulai dengan tampilnya Dirgamulya sebagai calon Lurah Desa Tanggir. Pemerintahan desa yang semula bermasalah, dengan adanya penyelewengan, sepertinya makin bertambah runyam karenanya.

Pak Dirga, sapaan Dirgamulya, bagi warga desa Tanggir, adalah contoh apik bagi sifat politikus yang cukup cakap bersiasat untuk memenangkan pilihan. Ditambah dengan sifat warga yang selalu pasrah dan nrimo, perubahan sepertinya sulit dilakukan.

Terpilihnya pak Dirga menjadi Lurah Desa Tanggir makin mengukuhkan bahwa kekuasaan tidak butuh orang yang punya perilaku baik untuk menjalankannya. 

Ahmad Tohari menggambarkan dengan baik politik di negeri ini lewat novel Di Kaki Bukit Cibadak ini. Gambaran buruk wajah kekuasaan yang selalu berhasil memanfaatkan keluguan dan ketidakpedulian masyarakat berhasil dilukiskan dengan sempurna.

Dirga yang ahli judi dan banyak istri berhasil mengalahkan Pak Badi yang berijazah tinggi dan baik budi pekertinya. Dengan menggunakan kekayaan yang dimilikinya, ia pun melenggang dengan sempurna menjadi Lurah Desa Tanggir. Ternyata kejujuran bukan jaminan memenangkan proses pemilihan lurah di desa. Dan bukankah itu juga terjadi di mana pun tempat di negeri ini?

Kehadiran Pambudi berhasil membuat angin perubahan Warga Tanggir yang semula bermental nrimo. Kebobrokan akibat penyelewengan kekuasaan sering kali disebabkan oleh mental apatis dan nrimo hingga kekuasaan menjadi tanpa kontrol. 

Melihat kondisi seperti ini, Pambudi bertekad membuat perubahan meski dia paham risiko yang akan diterimanya.

Sebagai pemuda yang mempertahankan idealisme, Pambudi hadir memberikan pembuktian bahwa kemanusiaan selalu ada di antara kita. Ahmad Tohari dengan cerdik menampilkan Pambudi sebagai figur yang inspiratif bagi pemuda kita di tengah kepungan kecurangan dan korupsi.

Bagaimana penolakan Pambudi pada ajakan Dirga yang culas, untuk berkolusi memperkaya diri sendiri, adalah cermin idealisme itu.

Pambudi pun harus rela menyingkir saat berhadapan dengan penguasa. Ia memutuskan meninggalkan desa dan melakukan perlawanan dari luar. Dan ia melakukannya dengan cara yang tepat, yaitu melalui pedang kata kata; menjadi jurnalis. Ia melawan kesewenang-wenangan di desanya dengan mengkritisinya melalui media massa.  

Selain itu, keberanian yang telah dilakukannya juga harus dibayar Pambudi dengan mengorbankan nalurinya sebagai pemuda, yaitu kehilangan cinta dari bunga desa pujaannya.

Cerita dalam novel ini dikemas sangat alamiah. Apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat desa seolah tampil apa adanya. Bagaimana kondisi masyarakat yang lemah di hadapan penguasa banyak dilukiskan secara detail.

Warga miskin dan jeratan tengkulak yang berkongsi dengan aparat desa tak lepas dari pengamatan penulis. Kemiskinan memang membuat seseorang lemah secara sosial.

Intrik politik dalam hal pemilihan lurah, lengkap dengan kebiasaan masyarakat desa yang masih kental dengan mitos-mitos, muncul dalam adegan interaksi dengan dukun desa.

Novel yang muncul pertama kali di tahun 1994 ini berhasil mengungkap sisi gelap kekuasaan yang pada saat itu masih tabu untuk diungkapkan. Gambaran korupsi, kolusi, dan nepotisme berhasil dilukiskan secara simbolis dan mengena melalui kondisi sosial politik masyarakat desa.

Ahmad Tohari mencoba menggambarkan wajah perpolitikan di negeri ini lewat latar pedesaan. Apa yang terjadi dalam pemilihan kepala desa yang penuh intrik dan pilitik uang adalah sebuah keadaan yang tak bisa dimungkiri juga terjadi dalam skala nasional.

Sebagai penulis, Ahmad Tohari dikenal sebagai pengarang trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dinihari (1985), dan Jantera Bianglala (1986). Dia lahir 13 Juni 1948 di Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah dari keluarga santri.

Novel ini juga menjadi salah satu pemenang sayembara Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979.

Meski sudah lama ditulis, apa yang disajikan Ahmad Tohari masih relevan bagi kita untuk mengambil pelajaran darinya. Kekuasaan harus dikontrol untuk meminimalkan penyelewengan. 

Tiadanya kontrol karena sifat masyarakat yang pasrah dan apatis adalah bibit yang menyemai penyelewengan itu. Pambudi berhasil menggugah kesadaran masyarakat desanya meski banyak yang harus dikorbankan olehnya. Dan dia rela menjadi martir demi sebuah perubahan yang lebih baik.

Kita bisa meniru dan meneladani cara perlawanan yang dilakukan Pambudi terhadap kebusukan yang dilakukan penguasa. Meski sulit, namun setidaknya perlawanan itu ada. Jangan nrimo.

  • Judul: Di Kaki Bukit Cibalak
  • Penulis: Ahmad Tohari
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Cetakan: kelima 2015
  • Tebal: 176 hlm