Mahasiswa
5 bulan lalu · 362 view · 3 min baca menit baca · Hukum 46283_24738.jpg

Ahmad Dhani Perlu Dibela

Saat dipenjara karena kasus ujaran kebencian, kepada seorang teman saya berujar, "Dhani harus dibela." Teman saya meragukan dan balik bertanya, "Dengan cara apa kau akan membela?" Saya berdegub lirih, setidaknya dengan pena yang mencipta wacana.

Saya memang bukan Fadli Zon yang sibuk twitteran dengan hashtag Save Ahmad Dhani. Ia melupakan tugasnya untuk merevisi UU ITE yang telah menjerat Ahmad Dhani karena pasal karet yang sudah banyak memakan korban.

Dhani adalah korban kesekian setelah Ahok yang juga terkena Undang Undang yang sama. Muncul meme Ahok dan Dhani: "Ahok keluar, Ahmad Dhani masuk." 

Siapa yang buat? Saya menduga buzzer antara dua kubu yang selalu bertikai di pilpres. Mereka manusia yang telah disesatkan dan saling caci dengan istilah kampret dan cebong, salah satunya.

Saat melihat foto Dhani dipenjara. Seandainya ada di dekatnya, ingin sekali saya dendangkan satu lagu yang saya sukai saat masa masa SMA. Meski dengan suara pas-pasan, dengan segenap keberanian akan kunyanyikan lagu:

Menangislah… bila harus memangis, 
karena kita semua manusia. 
Manusia bisa terluka
Manusia pasti menangis 
Dan manusia pun mengambil hikmah.


Lagu ini tepat untuk Ahmad Dhani. Betapapun sikap politiknya dan ragam ekspresinya, Dhani tetaplah manusia yang berhak untuk dimanusiakan. 

Sebagai bagian dari kaum waras, tak perlulah ikut-ikut bagian dari patron kebencian karena Dhani berbeda politik. Kita bukan buzzer politik yang memang hidup dengan mereproduksi kebencian.  

Politik memang kadang membawa sisi yang saling menegasikan antara satu sama lain. Namun demikian, saya termasuk yang sepakat dengan Gus Dur yang menyatakan bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. 

Gus Dur meneladankan. Saat Ahmad Dhani dituntut oleh Front Pembela Islam pada tahun 2013, saat Dhani dan Dewa dianggap menginjak lafaz Allah, adalah Gus Dur yang membelanya. Saat Dhani saat itu dianggap sebagai agen Yahudi, adalah Gus Dur yang membelanya. 

Sedikit yang saya tahu tentang sembilan nilai Gus Dur, bahwa semangat tauhid yang utuh dari Gus Dur diwujudkan untuk membela kemanusiaan. Dalam perjalanan hidupnya, sudah terlampau banyak orang-orang yang dilemahkan oleh berbagai hal apa pun, bahkan agama, Gus Dur yang membela.

Gus Dur berani terang-terangan membela Dhani saat ia dianggap Yahudi, di mana tuduhan kejam selain kafir dan komunis adalah Yahudi. Sensitivitas orang Islam menguat dan terkadang tanpa akal sehat dan tanpa rasa adil menganggap Yahudi sebagai musuh utama, meski berkelakuan baik.

Dalam tafsir saya, sikap Gus Dur juga dilatari oleh pijakan kesadaran bahwa Dhani adalah orang Indonesia, di mana sebagai orang Indoensia harus sama di mata hukum. Siapa pun itu orangnya, harus sama di mata hukum.

Nah, masalahnya, saat situasi politik semacam ini, adalah Fadli Zon yang selalu membuat gaduh dan berkicau bahwa hukum itu dikendalikan oleh politik. Karena Dhani adalah pihaknya lalu menganggap segala hal tentang Dhani adalah benar dan yang salah adalah hukum.

Saya kira ini suatu kedunguan yang terbuka. Karena Dhani dijerat oleh UU ITE. Bukankah hal ini juga yang digunakan untuk menjerat Ahok?

Kini saat UU ITE menjadi senjata makan tuan, tentu tak elok menyalahkan hukum yang telah ditegakkan. Pada saat itulah membela Dhani itu bisa dikerjakan lewat revisi UU ITE.


Karena tidak mustahil akan muncul Dhani-Dhani baru dengan pasal karet yang multitafsir dan keputusan hukumnya, salah satunya ditetapkan oleh para ahli.

Bila kita lihat, postingan Dhani tampak sederhana sekali. Dhani menulis antara lain, “Siapa saja yang mendukung penista agama adalah bajingan.” Sederhana. Ekspresi yang tampaknya wajar. Tapi karena ketokohannya sebagai artis dan dapat memicu kebencian, dilaporkan dan akhirnya kena hukuman.

Bila mau dibandingkan, kalau mau jujur, pernyataan Ahok juga sederhana. Bedanya sudah dimodifikasi. Yang kena Ahok dan Buni Yani sekaligus. Balada Surat al-Maidah menjadi salah satu jejak sejarah yang buruk yang hingga kini membekas luka yang dalam di antara sesama bangsa.

Kini tampaknya Rocky Gerung juga akan kena. Walaupun dengan pasal yang berbeda tampaknya. 

Saling serang politik memang mungkin menjadi biasa bagi elite politik. Namun tidak bagi para pendukungnya. Di bawah, soliditas kian mengental. Saya mengkhawatirkan akan terjadi kekerasan horizontal.

Pada sisi ini, saya berusaha melepaskan diri dari klaim saling dukung-mendukung salah satu paslon. Karena ketika berada di dalam ruang pilihan antarsatu capres, maka akal dan logika juga tersandera. 

Dhani harus dibela. Bukan hanya untuk sosoknya, tetapi kepada korban-korban selanjutnya. Karena istilah ujaran kebencian memiliki irisan yang tipis dengan kebebasan pendapat.

Satu sisi, kita semua tidak senang dengan ujaran kebencian. Namun demikian, kebebasan berpendapat juga bagian dari perjuangan panjang dalam reformasi. 

Hilangnya kebebasan berpendapat dan pembungkaman yang tersetruktur, pada saat itu pula kita telah kembali pada rezim orde baru. Di sinilah Dhani harus dibela.


Artikel Terkait