Luqman ibn Ad sebenarnya adalah nama yang cukup familiar dikalangan para penyair jahiliyah pra-Islam, macam Imru al-Qays, al-Nabiga, al-A’sya, dan Tharafa. Yang menjadi masalah adalah apakah ia adalah tokoh yang dimaksud dalam kisah tentang Luqman di Quran? Mari kita selidiki satu persatu.

Dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk Thabari dijelaskan, bahwa tatkala Bangsa Ad mengalami kekeringan, mereka mengirim delegasi ke Makkah untuk memohon hujan. Diantara delegasi ini terdapat Luqman ibn Ad yang digambarkan sebagai pengikut Hud dan berasal dari suku Ad.¹ Saat ia tengah berada di dalam Ka’bah, Luqman mendengar suara yang memanggilnya untuk menyebutkan keinginannya. Luqman pun memohon agar dapat hidup abadi. Suara tersebut kemudian menjawab bahwa keabadian tidak dapat diberikan kepada manusia. Meski demikian ia bisa menganugerahkan Luqman kehidupan panjang, hingga 7 masa hidup burung bangkai. Saat itu masyarakat Arab percaya burung bangkai bisa hidup hingga 80 tahun. Luqman pun kembali ke sukunya dan hidup panjang. Sayangnya kehidupannya berakhir tragis menyusul kehancuran bangsa Ad dan kegagalan Luqman untuk menghindari kehancuran tersebut.²

Meski sama-sama Luqman, namun banyak ahli Tafsir yang meragukan relasi antara tokoh Luqman sebagaimana dikisahkan para penyair Jahiliyah dengan Luqman yang terdapat dalam Quran. Alasannya jelas, Luqman dalam QS 31:12–20 adalah tokoh yang bijaksana. Thabari sendiri dalam Jami al-Bayan li Tafsir al-Quran mengutip sejumlah pendapat mengenai identitas Luqman. Diantaranya pendapat Mujahid yang menyatakan Luqman sebagai “budak abisinia, dengan bibir yang tebal, kaki lebar, dan merupakan qadi di kalangan Bani Israil”. Hal senada juga dikemukakan oleh Ibn Abbas yang menyatakan “Luqman adalah hamba sahaya asal Abisinia, Ethiopia”. Lainnya menganggap Luqman sebagai seorang budak asal Mesir yang bekerja sebagai tukang kayu dan penggembala.

Dari deskripsi fisik Luqman inilah muncul sejumlah penafsiran terkait historitas sosok Luqman. Paling populer adalah identifikasi Luqman sebagai Balaam dalam Bible Number:22. Alasan dibalik identifikasi ini adalah kemiripan etimologi nama kedua tokoh, yang mana akar nama keduanya bermakna menelan. Meski kedua tokoh memiliki kemiripan etimologi, namun kisah Balaam sangat berbeda dari Luqman. Tokoh lain yang juga diidentifikasi sebagai Luqman adalah Aesop. Tokoh asal Yunani ini selain dikenal akan nasehat-nasehatnya yang bijak, juga digambarkan sebagai seorang budak berkulit hitam dan berwajah jelek. Namun yang membuat kisah Aesop menarik, adalah isi dari kisahnya yang menurut J Rendel Harris dalam The Story of Ahikar and His Nephew Nadan merupakan adaptasi dari kisah terkenal Mesopotamia, Ahikar³.

Sebagaimana Aesop dan Luqman, Ahikar juga seorang berkulit hitam. Ia bekerja sebagai seorang penasehat raja Sennacherib dari kerajaan Asyria yang berkuasa pada 704–681 SM. Kisah mengenai Ahikar kemungkinan besar ditulis pada akhir abad ketujuh SM. Bukti paling otentik akan keberadaan tokoh ini ditemukan dalam sejumlah fragmen lembaran papyrus yang ditulis pada abad kelima SM di reruntuhan koloni militer Yahudi di pulau Elephantine, Mesir. Meskipun maksim yang tercantum dalam papyrus itu dialamatkan ke Ahikar, namun sejumlah sarjana berpendapat perkataan yang tercantum dalam lembaran papyrus tersebut sebenarnya bukanlah perkataan asli dari Ahikar. Beberapa perkataan itu bahkan memiliki kemiripan dengan Book of Proverbs Bible, lainnya mirip deuterocanonical wisdom of sirach, sisanya mirip dengan kata-kata mutiara Babylonia dan Persia. Secara ringkas, kata mutiara dalam kisah Ahikar merefleksikan kebijaksanaan yang beredar luas pada masanya.

Kisah Ahikar sendiri ditulis dalam berbagai macam versi dan bahasa, diantaranya adalah manuskrip berbahasa Syria. Dimana kita menemukan penggunaan frase yang sangat mirip dengan kisah Luqman dalam Quran, yakni frase “ya bunayya” atau “O anakku”. Berikut cuplikan nasehat dari kisah Ahikar:

8. My son, cast down thine eyes, and lower thy voice, and look from beneath thine eyelids ; for if a house could be built by a high voice, the ass would build two houses in one day : and if by sheer force the plough was guided, its share would never be loosed from the shoulder of the camel.

9. My son, it is better to remove stones with a wise man than to drink wine with a fool.

10. My son, pour out thy wine on the graves of the righteous, rather than drink it with evil men.


11. My son, with a wise man thou wilt not be depraved, and with a depraved man thou wilt not become wise.


12. My son, associate with the wise man, and thou wilt become wise like him; and associate not with a garrulous and talkative man, lest thou be numbered with him.

Selain frase “ya bunayya” kita juga menemukan referensi tentang keledai di ayat 8 yang menjadi gambaran tentang suaranya yang melengking dan keras yang tidak pantas untuk diucapkan. Hal ini paralel dengan QS 31:19 yang menggambarkan suara keledai sebagai seburuk-buruknya suara.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. 

Penggambaran Ahikar, Aesop dan Luqman sebagai orang berkulit hitam dan orang bijak, hakim, menunjukkan bila ketiga tokoh pada dasarnya merujuk pada satu orang yang sama. Meski demikian kita tidak tahu dengan pasti bagaimana nama Ahikar mengalami perubahan menjadi Luqman. Akibat kebuntuan filologis ini beberapa sarjana akhirnya menyimpulkan bila Luqman pada dasarnya merupakan composite personage. Dimana nama sang tokoh mungkin diambil dari kisah Luqman ibn Ad, tapi kepribadian dan kebijaksanaannya diambil dari kisah rakyat macam Ahikar. Yang sebenarnya tidak ada yang tahu.