Blogger
2 minggu lalu · 4834 view · 12 min baca · Budaya 96217_51412.jpg
Agnes Mo dan 2 perempuan Papua - IG @agnezmo

Agnez Mo, Papuans, dan Teguran

Kita bukan menerima gaya luar, namun merawat kebiasaan yang kita punya.

Agnes Monica kembali merayu perhatian atas unggahan terbaru di Instagram pribadinya, @agnezmo, setelah isu kolaborasinya bersama rapper French Montana. Bagaimana tidak, postingan itu langsung menyita perhatian publik, khususnya di Indonesia, lantaran di fotonya ada dua gadis Papua (tulisan berikutnya Papuans untuk orang, jamak).

Penyanyi perempuan papan atas Indonesia ini memang selalu tampil berbeda. Ia mampu menunjukkan gaya yang membuat orang mengejutkan. Orang ramai membincangkan di dunia maya, lebihnya karena dalam foto itu Agnez Mo nama panggungnya dan dua perempuan Papuans mengenakan atribut ala Papua.

Dalam artikel ini, saya akan menunjukan maksud daripada fotonya menurut hemat saya seperti uraian gayanya, keterangan fotonya, dan teguran kepada manusia Indonesia dan Papua di postingannya.

Deskripsi Gaya

Di fotonya, terlihat Agnez Mo memperlihatkan kulitnya yang makin menggelap saat berfoto bersama dua wanita Papuans. Agnes juga menata rambutnya lebih ikal layaknya gadis di bumi cenderawasih. Ia menata dengan model cornrow braids hair atau anyaman gaya kepang yang di-styling side-cut, potongan sampingan.

Juga, mengenai make-up-nya, Agnez Mo masih menyamakan dengan gaya riasan berwarna hitam-kecoklatan kedua perempuan di kiri dan kanan. Mereka bertiga serata kelihatannya.

Yang membedakan dari gaya busana adalah bahwa Agnez mengenakan baju renang dan pakaiannya ketat berwarna cream dan lebih terbuka, sedangkan kedua hawa Papuans memakai pakaian tradisional Papua - sedikit tertutup.

Jadi, Agnez sepenuhnya berhasrat untuk menunjukkan keindahan aksesori Tanah Papua, di mana ia juga mengenakan kalung berukuran besar yang terbuat dari kerang - kalau Papuans bilang kulit bia, gigi babi, dan batu-batuan alam berwarna putih. Memang pernak-perniknya adalah ala-alaan Papua.

Agnez tetap juga menggunakan aksesori bernuansa kekinian yang berwarna putih pada lengan kanan dan paha kirinya. Sayangnya, aksesori yang dipakai oleh Agnez di lengan dan paha adalah benar-benar tidak asli dari Papua.

Ini mengingatkan saya ketika ada pawai 2 Mei, hari pendidikan nasional. Karena saya bersekolah di salah satu SMA yang mayoritas muridnya berasal dari Jawa, pihak sekolah mengizinkan kami yang non-Jawa untuk memakai pakaian tradisi Jawa sementara saya lagi memakai gelang tangan bermotif bendera Papua - Morning Star Flag Papua (Bintang Kejora) atau gelang bintang kejora (GBK) dan hiasan gigi babi di leher saya.

Mengingatkan saja, gelang bintang kejora (GBK) memang jadi identitas saya. Jadi tidak ada orang yang melarang saya. Melalui GBK juga, pacar saya belikan saya gelang tersebut sebagai tanda cinta, dan tentunya bukan cincin. 


Saya juga dilandasi dengan penilaian bendera Bintang Kejora oleh (alm.) Gus Dur, presiden ke-4, yang menganggap: bendera Bintang Kejora hanya bendera kultural warga Papuans. Begitu saja kok repot? Jadi, bendera tadi adalah sebuah identitatem - identitas semata.

Meskipun demikian, sebagai manusia yang punya naluri, pasti ada berpendapat bahwa Agnez dan contoh saya saat SMA di atas mencoba untuk menerapkan bentuk yang namanya cultural appropriation atau apropriasi kultural.

Apa itu apropriasi kultural? Menurut kamus Cambridge Dictionary: The act of taking or using things from a culture that is not your own, especially without showing that you understand or respect this culture. 

Parafrasenya kira-kira seperti, tindakan mengambil atau menggunakan budaya bukan milik kita, dengan menunjukkan bahwa kita memahami atau menghormati budaya orang lain 100%ly.

Orang mengira Agnez melakukan term apropriasi kultural. Tapi menurut keterangan fotonya, ia menunjukan ke dunia kalau negara Indonesia adalah negara yang ada keberagaman. Makanya dia menyelipkan simbol Pancasila - Bhineka Tunggal Ika - satu dalam keragaman.

Tapi poin utamanya adalah hanya persesuaian ini menciptakan kesan seksi, kuat, dan tentunya beragam karena ia sendiri membenarkan di caption fotonya dan tulis: #Diamonds. The beauty in each one of us. Strength in diversity. Bhinneka tunggal ika. Unity in diversity.

“Keindahan di setiap masing-masing dari kita. Kekuataan perbedaan, Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam perbedaan.” Dengan mentagging #Diamonds #weare #embracingmyculture.

Kita juga petik pelajaran berharga dari foto ini karena ia menunjukan paling pentingnya keberagaman bukan keseragaman. Foto tersebut adalah salah satu teguran pedis tentang terjadinya isu-isu sosial di Indonesia akhir-akhir ini dengan waktu yang tepat dengan right message.

Terutama perpanjangan izin Front Pembela Islam (FPI), ormas yang menolak Ahok sebagai calon Guberbur DKI Jakarta tahun 2014. Argumentasinya karena dia adalah etnis Cina-Indonesia dan beragama Kristen sampai penghukuman gara-gara penistaan agama tahun 2016.

Terus ada pelarangan pembangunan gereja dari oknum-oknum muslim (tidak semua orang muslim). Dan tidak kalah pentingnya adalah maha-pengusiran, diskriminasi terhadap mahasiswa/i Papua di Indonesia, umumnya di kota pendidikan - Yogyakarta

Kota saja yang dijuluki pendidikan, orangnya belum berpendidikan. Kan itu yang ditanggapi orang jika satu orang salah semua kena imbalannya? Nama baik kota dan orang jadi gasal di mata publik.

Seperti di kalangan mahasiswa/i Papuans juga sama. Satu orang Papua mabuk dan onar dilihat oleh non-Papuans, semua siswa/i jadi tempiasnya. Seantero pelajar Papuans adalah pemabuk dan pembuat onar di tanah orang. 

Malah di kos-kosan juga diusir karenanya, meskipun ia adalah siswa/i baru datang belajar. Jadi, sama saja dengan terorisme; orang anggap teroris adalah orang Islam, padahal tidak juga, bukan?

Lanjut, penyanyi cantik yang selalu menyatakan iman-Nya kepada Tuhan Yesus saat penerimaan penghargaan ini memancarkan rasa kebersamaan tanpa ada pemojokan kelompok tertentu di kehidupan kita sebagai warga setanah air - Indonesia.

Itulah kenapa, dalam keterangan tambahannya di foto, Agnes juga menafsirkan arti Diamonds atau berlian menurut sudut pandangnya guna membasmi penyakit sosial masyarakat tadi.

“#Diamonds. Symbol of rarity and beauty. Purity and innocence. Yet it represents strength in character and ethics. Loyalty to one and another,” tulis perempuan yang menggeluti dunia hiburan sejak ia umur 6 tahun lantaran ia mengeluarkan lagu album pertamanya.

“Berlian adalah simbol keunikan dan kecantikan. Kemurnian dan kesucian. Itu merepresentasikan kekuatan dari sebuah karakter dan kesusilaan. Kesetiaan satu sama lain,” jelas Agnes menurut pandangannya.

Oleh karenanya, saya berpendapat bahwa Agnez Mo adalah tidak hanya artis penyanyi, tapi juga ia adalah seorang motivator. Ia mempunyai rekam jejak yang bisa dibilang baik tentang memberi penguatan pesan-pesan rohani maupun jasmani karena dia sering mengutip ayat-ayat dalam Alkitab dan membagikannya di depan banyak orang, audiences, sembari tayangan TV secara langsung.

Penerimaan penghargaan Album Terbaik Terbaik- AMI 2010; contohnya, Agnez Mo membacakan ayat yang terdapat di 1 Timotius 4:12 TB, yang berbunyi:

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”


Hormati Gaya Kamu Sendiri

Perempuan yang berdomisili di Los Angeles, California, Amerika ini seakan mengerti juga tentang tanah Papua dan Papuans. Tanah yang kaya budayanya. Orang bilang the most beautiful culture and island is Papua. Tapi Indonesia masih suka buat ketidak-manusia-an sama Papuans.

Papuans; namun demikian, kadang mencari alternatif lain sehingga mereka bisa diterima di masyarakat dengan cepat. Memaksa tubuh mereka selayaknya seperti teman-teman lain di Indonesia. 

Contoh, saya masih menemui ada orang yang jual produk pemutih kulit, body lotion serta rambut-rambut palsu ke warga Papuans. Saya pikir ini maksudnya apa? Apakah biar mereka tidak kelihatan hitam? Emangnya kalau menjadi cantik itu harus jadi putih dan berambut lurus? Menurutku tidak juga.

Saya setuju dengan imbauan yang disampaikan oleh Kapolda Papua Barat, Brigjen Rudolf Albertg Rodja. Bapak Albert diingatkan, "Polisi wanita (polwan) asli Papuans yang berdinas di Papua Barat tidak meluruskan atau rebonding rambut mereka." (Detik, 20 Maret 2019).

Jika rambut orang asli Papuans lurus, maka itu akan mengurangi ciri khas ke-Papua-an.

Tanah Papua dan Papuans adalah unik; maka dari itu, Papuans harus memperlihatkan keasliannya supaya mempertahankan jati diri sebagai putri Papuans dalam hal ini dan manusia Papuans umumnya.

Agnez Mo memang benar adanya saat ia menyebutkan, the beauty in each one of us - kecantikan ada di diri kita masing-masing. Orang Papua (Papuans) tidak perlu ikut-ikutan gaya orang lain karena itu bisa menimbulkan ketidak-apresiasi budaya sendiri dan kecantikan diri kita sendiri yang Tuhan sepenuhnya memberikan atas dasar tertentu.

Kita bukan menerima gaya luar, namun merawat kebiasaan yang kita punya.

Kita mengambil teladan Allah. Berbagai macam orang dan agama akan mendefinisikan Allah dan menyebutkan kata Allah sesuai dengan agama dan keyakinannya mereka. Dan menyerukan nama Allah dengan bahasanya mereka.

Saya sebagai orang Kristen Protestan kemudian berdoa sama seperti keyakinan Agama lain misalnya Islam, itu akan terlihat aneh kedengarannya kalau saya pinjam bahasa Inggris uncomfortable atau tidak nyaman kecuali aku sudah mualaf (sebutan bagi orang non-muslim yang mempunyai harapan masuk agama Islam) seperti Deddy Corbuzier.

Namun demikian, memiliki kulit putih atau membuat tubuh semuanya kita adalah pilihan. Makanya banyak orang membuat pernyataan bahwa keinginan seseorang adalah hak setiap individu.

Sekali lagi, terlihat cantik akan ada banyak artinya yang luas. Kita mendefinisikan bergaya jelita tidak dapat bergoreng dengan hanya satu objek saja. Menjadi cantik tidak harus punya payudara ukuran kecil, hidung tajam, kurus, mata miring, atau kulit putih cerah. Dalam hal ini, sejak saya tulis tentang Agnez Mo, kita tidak harus seperti gayanya.

Dalam kasus kakak-kakak polwan asli Papuans di atas, mereka kelihatannya seperti rasa malu saja (tra da yang kata lain, sa tau tu) untuk tampil berbeda. Wakapolda Papua Barat juga menegaskan kalau berambut lurus adalah bukan (aturan), tidak ada UU tentang itu, hanya mengingatkan saja.

Hasilnya, kakak-kakak polwan asli Papuans sendirilah yang merasa inferioritas saat bergaya seperti ke-Papua-an di tempat kerjanya. Padahal, lagi-lagi, Indonesia adalah cantik saat perbedaan itu diterapkan. Mudah-mudahan anak-anak milenial Papuans tidak ikut jejaknya polwan asal Papuans.

Tapi tidak dipungkiri juga, orang melakukan hal-hal ini dikarenakan dunia terutama di Indonesia masih ada orang-orang yang tidak berkaca dengan arti dari Pancasila dan tidak adanya rasa merangkul orang lain seperti memperlakukan keluarganya sendiri.

Embracing Nasionalisme

Terakhir adalah image di Insragram pribadi Agnez Mo itu; di sisi lain, menjadi ukuran Agnes untuk disebut nasionalis. Ia tidak salah juga jika ia dilabelkan seorang nasionalis. Tapi cara berpakaian itu menandakan hanyalah atribut semata sembari menghormati pancasilais.

Menurut Agnez Mo, menguatkan rasa nasionalisme itu, kita bisa memancarkan nama Indonesia ke kancah internasional. Itu bukan karangan penulis, Agnez yang kerap kali menuturkan sesaat dia lagi dalam wawancara atau di talkshow.

Perempuan yang fasih Inggris ini, suatu kesempatan di talk show, ia bilang, “ If our nation want to be a great nation, we have to learn from great nation and learn from great talented people, too.” 

Motivasi itulah yang mendorong dia berdomisili di negara Paman Sam untuk belajar sambil berkolaborasi bersama orang terkenal di dunia permusikan seperti Chris Brown, Timothy Zachary Mosley atau Timbaland, dan orang terhebat lainnya.

Saya berasumsi bahwa pertemuan Agnez Mo dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, awal tahun 2019, menandakan kalau Jokowi ingin anak-anak bangsa yang sudah go internasional apalagi tinggal lama di negara orang, harus bernasionalis tinggi dan tidak lupa negara asalnya.

Hal ini diucapkan oleh Moeldoko, kepala staf kepresidenan saat ditanyakan tentang pertemuan Jokowi dan Agnez Mo, "Kami punya database seperti itu. Jangan sampai anak-anak hebat kita malah keluar, malah diambil oleh orang luar," (nusabali, 12/1/19)

Asumsi saya itu benar adanya karena rapper asal Indonesia Rich Brian nama panggungnya yang naik daun di Amerika juga diundang Jokowi di gedung putih Bogor, di bulan Juli.

Saya sebagai penulis tidak tahu pembahasannya apa, tapi paling tidak Jokowi sebagai kepala negara bangga kepada anak-anak Indonesia yang bersaing dengan orang lain di luar Indonesia, apalagi di Amerika. 


Tidak kalah penting juga adalah Jokowi ingin menanamkan kepatriotannya kepada Indonesia itu jangan sampai dilupakan meskipun mereka bertanding dan tinggal di luar negeri.

Hasil dari pertemuan itu, saya berpendapat, memang benar juga penyanyi multitalenta Agnez ini tulis di foto keterangannya dengan: “Kita memakai pakaian tradisional Papua (Wilayah paling timur Indonesia, termasuk perhiasan Papua).

#Diamonds #WeAre Indonesians. We’re wearing one of many Indonesian traditional outfits (incl. accessories), from Papua (east side of Indonesia).

Kata-kata seperti We Are Indonesians sambil pakai busana Papua menandakan mereka adalah orang Indonesia. Dengan kata lain, mereka berpelukan budaya berarti rasa nasionalisme dan patriotisme sudah diterangkan di foto itu.

Sekali lagi, Agnez mendapat banyak pujian dari para netizen karena ia bisa merangkul berfoto bersama duel gadis cenderawasih yang jelitanya minta ampun.

Tapi waktu yang bersamaan, postingan tersebut bertolak belakang karena negara enggan memerdekakan anak-anak Papuans. Khususnya siswa-siswi Nduga, Papua. Mereka tidak bisa belajar dengan baik di sekolah lantaran TNI/Polri dan TPM-OPM baku bunuh.

Saya bermimpi saja kalau mendorong anak-anak Papuans untuk memeluk nasionalisme ke-Indonesia-an. Saya pikir bukan berfoto-foto denganPapuans, lalu seakan kedamaian Papua di mata Indonesia dan Internasional baik-baik saja. Tentunya dalam hal ini, foto prajurit bersamaan dengan anak-anak Papua di sekolah di area pegunungan Papua.

Atau jangan-jangan Agnez Mo membagikan foto yang berpotret dengan kedua wanita Papuans ini memberikan khalayak bahwa di Papua keadaan baik-baik saja akhir-akhir ini, sementara di Nduga, Papau, dikabarkan sekarang hampir 182 orang mati saat mencari perlindungan dalam konflik Nduga?

Dilaporkan menurut media The Jakarta Post dengan judul, "182 reportedly die while seeking refuge in Nduga conflict," tulis Ardila Syakriah pada tanggal 1 Agustus 1, 2019

Maaf, Patriotisme?

Maaf saja, saya punya teman SMA dibunuh negara di Paniai. Sekarang terkenal dengan sebutan Paniai berdarah.

Kisah tragis ini bermula dari kejadian sepele. Tepatnya pada 7 Desember 2014, ketika sekitar 11 anak-anak sedang berada di luar pondok menyanyikan lagu Natal dengan ruang di depan api unggun di Enarotali, Paniai, Papua.

Kemudian, singkat ceritanya, tentara datang mengancam sampai membunuh orang, termasuk saya punya teman di esok harinya saat masyarakat demo menuntut keadilan apa yang terjadi dengan anak-anak di pondok Natal semalam.

Pidato perdana Jokowi di Jayapura, Papua berjanji penuntasan penembakan teman saya di lapangan Karel Gobai, Enarotali, Paniai, namun ia menipu Papuans. 

Setelah saya menyelimuti rentetan kisah horor ini, apakah saya sebagai orang Papua well-deserved atau layak melestarikan rasa patriotisme dan nasionalisme indonesia? Tentu saja tidak, bukan?

Papuans menyarankan Jakarta meluruskan sejarahnya Papuans (meluruskan berarti pengungkapan kebohongan negara terhadap sejarah dan HAM di Papau sampai akar-akarnya, seperti yang anak-anak mudah Papuans mengutarakan setiap demonstrasi), bukan oles-mengoles luka Papuans semata.

Untuk menghindari terjadinya kelakuan ketidakcintaan negara seperti pemain sepak bola Amerika, Colin Kaepernick. 

Protesnya yang diam-diam terhadap ketidakadilan sosial antara minoritas di Amerika. Colin berlutut sebagai protes selama Lagu Kebangsaan Nasional berkumandangkan dan marah besar kepada Presiden Amerika, Donald Trump. 

Colin berpandangan, menghormati sambil mendengarkan lagu kebangsaan untuk apa sementara ketidaksetaraan dan kata-kata kotor khas Trump masih saja terjadi di kalangan minoritas di Amerika.

Jangan sampai hal itu terjadi sama milenial Papuans, Jakarta seharusnya lebih pertimbangkan. Sebelum anak-anak Papuans bicara dan dengar kata nasionalisme Indonesia sepenuhnya adalah jijik dan berfoto dengan Papuans di Indonesia adalah hanya pencitraan. 

Saya pikir Jakarta buat rumus yang dikemukakan oleh Gus Dur, yakni once visiting, big change - sekali mengunjungi, perubahan besar bagi orang Papua. Jangankan bapak pluralis, Papuans pun memberi nama bapak Papua.

Tapi semuanya itu hanya satu kata, saya pencinta berat Agnes Monica. Bukan karena dia terkenal di domestik dan internasional. Bukan karena ia berangkat dari beragama kristen dan minoritas di Indonesia.

Tapi Agnez Mo berfoto dengan kedua perempuan cantik luar biasa Papuans di Amerika. Itu membuat penulis bangga sekaligus berdoa buat Agnes dan orang Indonesia lain paham tentang orang Papuans dan latar belakang penempatan Tanah Papua di Indonesia.

Artikel Terkait