Berpulang Sabtu 15 2021, tepat pukul 20.00 wita (Makassar). Tidak saja sebagai guru, tetapi juga dosen, muballig, pengasuh pondok pesantren, dan sederet atribut lainnya yang ditekuni sampai akhir hayatnya.

Malam keduapuluh tujuh Ramadan 1442 H, allahuyarham masih berada di masjid raya Makassar untuk menyampaikan ceramah. Begitu pula tetap mengikuti tarawih sampai akhir.

Tidak sampai tiga hari di bulan Syawal, gurutta berpulang. Kabarnya beliau menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit Primaya, Makassar, dikenal juga dengan rumah sakit Awal Bros.

Awalnya mengalami sakit perut sejak Jumat, 14 Mei 2021. Plt. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman yang datang menjenguk sehabis maghrib menawarkan agar gurutta dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Putra sulung gurutta, Irfan Sanusi menyampaikan bahwa diagnose dokter bahwa gurutta sebelum berpulang ke rahmatullah menderita kolik abdomen. Dimana ini merupakan sakit perut yang hebat, hanya saja sifatnya hilang timbul. Sakit inilah yang menjadi jalan penjemput maut.

***

Menjelang Ramadan bersama Syamsul Arif dengan menemui sekretaris umum Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan, AGH Prof. Dr. Muhammad Galib. Pertemuan ini sebagai silaturahmi sekaligus mendiskusikan kemungkinan untuk mengadakan acara daring dengan tema tafsir berbahasa Bugis yang telah diterbitkan MUI Sulsel.

Pembicaraan ini tidak lagi akan berlanjut dan bahkan tidak pernah lagi akan sama. Kalaupun tetap dilaksanakan, kita akan tetap merindukan keberadaannya. Puang, tidak akan lagi bersama dengan kita. Padahal, justru sebuah kesempatan emas untuk mendapatkan pandangan almarhum secara langsung terkait tema diskusi dan meneruskan harta karun ini ke generasi berikutnya.

Bukan saja karena beliau menghabiskan waktu paling tidak 25 tahun sebagai ketua umum MUI, juga beliau terlibat langsung dalam proses penulisan sampai diterbitkannya tafsir tersebut. Karya yang menjadi warisan MUI Sulawesi Selatan.

Mengenal beliau ketika masih nyatri di Pesantren IMMIM. Dimana beliau pernah menjabat sebagai direktur kedua. Sekaligus juga menjadi pengurus di DPP Ikatan Masjid Musallah Indonesia Muttahidah (IMMIM).

Dalam peringatan hari besar ataupun ceramah rutin di masjid pondok, beliau yang menjadi salah satu penceramah. Dengan suara yang kadang lebih rendah berbanding hiruk-pikuk santri tetap saja jamaah masjid akan diam jikalau beliau sudah memulai ceramah. Berbanding dengan senior-senior kibar dengan suara sekeras apapun terkadang tidak mampu membuat para santri untuk diam.

***

Ketenangan menjadi ciri utama beliau. Mimbar yang ditempatinya tidak pernah meledak-meledak. Bahkan cenderung datar dan tidak “bergelombang”. Tidak ada kata makian, justru yang ada hanyalah diksi yang berterima.

Walaupun demikian, tetap saja menyimaknya dengan sepenuh perhatian. Gaya bertutur beliau datar tetapi diselingi dengan humor yang sepenuhnya mengikut ke gaya baginda Rasulullah. Hanya menyatakan yang benar. Sekaligus tidak menyinggung siapapun. Justru humor yang disampaikan terkadang hanya berupa pertanyaan.

Sebagai contoh, dalam satu kesempatan halalbilhalal di Universitas Hasanuddin. Beliau mengemukakan tentang ritual bangun subuh yang perlu didahului dengan wudhu. Kemudian beliau menimpali dengan kalimat “cuci tangan terlebih dahulu. Kalaupun kita yang punya tangan tetap saja tidak mengetahui dimana tangan kita sepanjang malam.”

Sebuah humor yang mengandung pesan. Bukan untuk setakat membuat jamaah ikut tertawa. Ketika jamaah tertawa, sang penceramah juga ikut tersenyum dan menanti tawa jamaah reda sebelum melanjutkan kembali ceramahnya.

Kawan saya berujar dalam satu kesempatan usai mendengarkan ceramahnya, dua kata dari ceramah beliau “malise dan ceramah untuk hati”. Malise, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia secara harfiah dapat digunakan kata penuh makna. Dimana penyampaian sepanjang ceramah mulai dari awal sampai akhir semuanya merupakan pesan-pesan keagamaan. Tidak ada yang terlewatkan tanpa mengandung pesan ataupun hikmah.

Kedua, bukan kepala yang diajak untuk berpikir. Tetapi ceramah beliau ditujukan sepenuhnya untuk kelapangan hati. Tidak banyak ceramah beliau yang saya simak secara langsung. Hanya saja, tidak satupun dari ceramah tersebut yang membicarakan persoalan fikih. Lebih banyak pada moralitas beragama, atau juga topik persatuan umat.

Khusus tentang ini, persatuan umat, kesamaan pandanganlah yang membawanya juga aktif di IMMIM. Selepas wafatnya Fadeli Luran, Ketua Umum DPP IMMIM, gurutta bersama dengan AGH Drs. Muhammad Ahmad bergiliran sebagai presidium sementara DPP IMMIM sampai terpilihnya ketua umum baru dalam musyawarah.

Berkesempatan menyimak ceramah ataupun diskusi yang diadakan oleh DPP IMMIM, baik dalam acara halalbilhalal, tarawih, ataupun diskusi bulanan. Dalam kesempatan-kesempatan tersebut saya tidak ingat sama sekali atau bahkan tidak memiliki memori dimana beliau yang ditunggu untuk memulai acara.

Ciri khasnya, selalu tepat waktu dan dengan pakai yang selalu rapi. Dugaan seorang senior di pesantren, bahwa gurutta termasuk individu yang mengamalkan bacaan doa bercermin dan berpakaian.

Salah satu pesan yang juga menjadi amalan santrinya adalah dengan tidak membiarkan rambut jatuh. Jangan sampai menghalangi sujud. Termasuk bisasaja menghalangi pandangan. Sehingga rambut beliau selalu tersisir rapi.

***

Kegiatan terakhir bersama beliau dimana bersama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah & Keguruan UIN Alauddin mengadakan tablig akbar dalam rangka tahun baru Muharram.

Beliau dengan bantuan putranya, bersedia menerima tim teknis yang membawa peralatan kamera dan laptop untuk “menyiarkan” acara tersebut. Pelaksanaan tablig akbar sepenuhnya menggunakan media tatap maya. Kami diberikan izin untuk datang ke kediaman beliau. Tidak hanya itu, bahkan masih diberikan kesempatan untuk berbincang seusai pelaksanaan tablig akbar.

Melihat kondisi beliau yang teramat senior, satu pertanyaan yang dengan jawaban yang direkam dengan gawai seadanya “apa pesan bagi para mahasiswa?”. Beliaupun memberi banyak pesan termasuk soal adab kepada guru atau dosen. Tidak pertanyaan itu saja, kamipun bertanya terkait dengan belajar di Mesir.

Beliau menceritakan pengalaman dimana perjalanan ke kairo bersama dengan allahuyarham Gus Dur dan Gus Mus. Dimana perjalanan saat itu masih menggunakan kapal. Seusai menyelesaikan pendidikan di jurusan syariah Universitas Muslim Indonesia, mendapatkan beasiswa Departemen Agama untuk melanjutkan Pendidikan ke universitas Al Azhar, Mesir.

Dalam ingatan beliau, Gus Dur sejak dulu tipikalnya humoris. Sekaligus ini yang menjadi jawaban untuk pertanyaan terkait kedekatan beliau dengan Gus Dur. Dalam haul Gus Dur yang diadakan di Jombang, Gurutta yang menjadi penceramah masa itu. Bukan saja karena keberadaan beliau sebagai pengurus NU, tetapi juga sebagai teman belajar dan bahkan teman perjalanan menuju Mesir.

***

Gurutta telah berpulang. Begitu pula dengan segala kearifan beliau telah hilang bersamanya. Namun, murid-muridnya tersebar dalam pelbagai institusi. Beliau juga pernah berkhidmat sebagai dosen IAIN Alauddin, bahkan mendapatkan anugerah doktor honoris causa.

Sampai akhir hayat beliau juga menjadi pimpinan dan pengasuh pondok pesantren Nahdhatul Ulum di Maros, tanah kelahirannya. Juga menjadi pembina di Universitas Islam Makassar, dan lembaga lainnya. Sebagai guru, beliau tetap memegang fungsi itu sampai nafas terakhir dihembuskan.