“Ini waktunya sholat apa?”, tanya ibu saya setiap hendak memulai sholat. Ibu saya bahkan tak dapat mengingat lagi hari, bulan, dan tahun yang tepat, saat dokter spesialis syaraf bertanya kepada ibu mengenai waktu. Dokter lalu mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kegiatan sehari-hari yang ibu saya lakukan, dan bagaimana ibu berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, diajukan dokter spesialis syaraf sebagai tes, untuk melihat tingkat kepikunan ibu saya. “Jawabannya tidak harus betul ya, Bu.”, kata dokter berusaha menenangkan ibu agar tidak merasa kuatir memikirkan jawabannya.

Alhamdulillah, dokter spesialis syaraf mendiagnosa bahwa ibu saya hanya mengalami demensia atau pikun ringan saja. Hal ini diketahui dari respon yang baik saat diajak berkomunikasi, meskipun ibu tidak selalu mampu menjawab pertanyaan dokter dengan jawaban yang tepat.

Sesekali ibu saya juga lupa apakah beliau sudah makan atau belum, bahkan sesaat setelah meninggalkan meja makan. Gawat deh! Bisa-bisa, orang mengira saya ngga mau lagi menyiapkan makan untuk ibu. Mumpung beliau tidak ingat kalau sudah makan, sekalian saja saya tambah porsi makannya. Sebab dalam kondisi ingatan normal, ibu justru kurang bernafsu makan.

Kesulitan memakai mukena saat akan sholat, juga ibu saya alami. Terkadang beliau geram mengomeli sandalnya yang miring, dan tidak pas di kaki. Rupanya itu terjadi, karena syaraf motorik, dan kemampuan kinestetiknya mulai menurun. Sebagai care taker, saya musti siap membantu, misalnya memakaikan mukena, mengancingkan pakaian, atau mengenakan alas kaki. Saya juga harus membantu menyiapkan obat, karena ibu sudah sulit mengingat nama, dan dosis obat tersebut.

Namun dokter spesialis syaraf berpesan, agar tidak semua kegiatan harian ibu harus dibantu, terutama jika dalam kondisi sehat. Berbeda dengan penderita penyakit fisik, yang tubuhnya lemas, penderita demesia tidak boleh terlalu banyak tidur dan harus tetap beraktifitas. Kebanyakan tidur, bisa mengakibatkan penderita demensia ‘blank’, dan lupa cara melakukan aktifitas mandiri. Lalu lama kelamaan mereka makin malas, hingga mandi harus dimandiin, dan makan minta disuapin.

Sekelumit cerita di atas adalah pengalaman saya merawat ibu yang menderita demensia, atau lebih sering disebut pikun. Kepikunan yang diderita ibu saya dilatar belakangi oleh riwayat tekanan darah tinggi, dan stroke ringan yang dulu pernah diderita.

Ada baiknya kita memahami gejala-gejala demensia pada lansia, agar bisa mengambil tindakan perawatan yang tepat. Beberapa gejala demensia bisa dikenali saat orang tua kita mulai mudah lupa, kehilangan memori dengan orang-orang terdekat, tidak bisa mengingat waktu, disorientasi tempat, sulit menemukan kata-kata saat mengobrol, gampang cemas, dan terkadang mengalami perubahan emosi, serta perilaku. 

Jika gejala-gejala demensia sudah mulai muncul, maka sudah saatnya kita mengajak orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis syaraf, atau psikiater, agar diberikan terapi yang tepat, sehingga kepikunan tidak bertambah parah.

Meski membutuhkan kesabaran, kita tidak perlu panik apabila orang tua kita menderita demensia. Seiring dengan bertambahnya usia, jumlah sel syaraf manusia memang berkurang, begitu pula kemampuan sel otaknya juga menurun. Akibatnya memori otak para lansia mengalami penurunan daya ingat, dan menurunnya kemampuan kognitif. 

Mengajak mereka mengobrol, bercanda, berdiskusi tentang hal-hal yang disukai orang tua kita, bisa membantu memulihkan daya ingat. Mengisi teka-teki silang, dan bermain puzzle juga dapat melatih otak untuk aktif dan mencegah pikun. Selain itu, berolah-raga ringan, dan bersosialisasi dengan tetangga, teman, serta silaturahmi keluarga, merupakan cara yang baik pula untuk memulihkan atau mencegah kepikunan.

Selain dari luar, dari dalam tubuh, pencegahan dan pemulihan demensia bisa ditunjang dari makanan yang baik gizinya. Buah berry yang mengandung anti oksidan tinggi, dan alpukat dengan kandungan lemak baik, dan sayuran hijau yang mengandung serat, sangat baik untuk dikonsumsi para lansia penderita demensia. Begitu pula dengan biji-bijian, kacang-kacangan, dan ikan yang mengandung omega 3, bisa meningkatkan daya ingat dan fungsi kognitif.

  • Menitipkan orang tua yang menderita demensia di panti jompo ‘is a big no!’. Lingkungan panti tidak selalu sesuai dengan kondisi mental orang tua kita. Pembiaran terhadap penderita demensia akan memicu depresi. Sebagai anak, kita adalah perawat yang terbaik, karena penderita demensia memang butuh perhatian khusus.

  • Anggap saja ini kesempatan istimewa yang Allah berikan kepada kita untuk berbakti dan melatih kesabaran. Merawat orang tua yang pikun bagi saya, bagaikan masuk ke lorong waktu yang membawa saya ke masa kanak-kanak. Masa dimana saya masih sering rewel, berkali-kali bertanya tentang hal yang sama, saat saya masih dimandikan ibu, dan sering merengek-rengek minta sesuatu, namun ibu tidak mengeluhkan kerepotan yang beliau alami akibat ulah saya. Maka sepantasnya kita bersyukur jika masih ada waktu untuk merawat orang tua, meski perhatian kita tak akan sebanding dengan kasih sayang ibu dan ayah sepanjang masa.