“Jadi jangan diteruskan belanja ini (toa), dan ini boleh jadi museum, contoh sukses promosi barang," begitu kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dalam video rapat pengendalian banjir yang diunggah akun YouTube Pemprov DKI Jakarta pada 5 Agustus 2020. 

Kalimat itu merupakan bagian dari rangkaian instruksi Anies agar pengadaan toa sebagai instrumen peringatan banjir dihentikan, dan toa-toa tak berguna hibah dari Jepang yang sudah ada agar dimuseumkan saja.

Pernyataan Anies soal memuseumkan toa-toa mubazir itu tak urung membuat saya tergelitik. Meski tampaknya bercanda, pilihan kalimat tersebut sesungguhnya mencerminkan kesalahkaprahan dalam memahami museum dan apa yang semestinya menjadi koleksi museum. 

Museum dianggap sebagai tempat penampungan barang-barang yang tidak berguna atau tidak terpakai lagi. Dan, gubernur ibu kota ini bukan satu-satunya orang yang beranggapan seperti itu.

Sekilas search dan scroll di lini masa media sosial membawa saya pada penggunaan ratusan kata ‘dimuseumkan’ sebagai tindakan yang patut dilakukan pada hal-hal yang tidak berguna. Seorang teman, misalnya, menulis, ‘…itu orang-orang yang arogan monggo dimuseumkan dulu’. Hampir senada, seorang lainnya menulis, ‘…otaknya udah nggak kepake lagi kayaknya, harus dimuseumkan’.

Selain soal ketidakbergunaan, kata dimuseumkan juga sering kali digunakan sebagai gambaran tindakan yang bisa dilakukan pada barang yang sudah rusak alias rongsokan. 

Sebagai contoh, ada teman yang mengeluh bahwa telepon genggamnya rusak dan tidak ada pilihan lain selain dimuseumkan. Teman lain berkisah soal layar komputernya yang ngadat, dan lagi-lagi disertai kalimat ‘sudah saatnya dimuseumkan’. 

Saya jadi ingat, lima tahun silam, saya pernah mengomentari postingan seorang motivator dengan follower ratusan ribu, yang sedang membahas soal perusahaan bangkrut yang menurut dia selayaknya dimasukkan ke museum saja.

Mengapa di mata banyak orang, citra museum adalah tempat pembuangan barang-barang rongsokan, yang tidak terpakai lagi dan tidak berguna? Kalau ini bukan hanya persepsi satu-dua oknum melainkan terjadi pada banyak orang, siapakah sesungguhnya yang salah? Orang-orang itu yang salah kaprah, atau museum kita yang memang begitulah menampilkan dirinya?

Apakah gara-gara kesan bahwa museum itu kotor, gelap, dan tak terawat?

Ah, kalau itu dikatakan dua puluh tahun yang lampau, hal itu mungkin benar. Tapi beberapa tahun terakhir ini, kebanyakan museum secara fisik telah berbenah: menambah penerangan, memastikan lantai kinclong mengkilat, melakukan perawatan secara berkala, bahkan merenovasi bangunan. 

Survei soal museum dan milenial yang saya lakukan tahun lalu membuktikan hal tersebut: banyak responden mengaku kaget-tapi-senang dengan tampilan fisik museum yang berubah menjadi jauh lebih baik dalam dua tahun terakhir.

Jadi, kenapa persepsi bahwa museum adalah tempat pembuangan ternyata masih saja ada?

***

Tahun 2014 waktu saya kuliah di Inggris, seorang dosen pernah bertanya, “Kamu tahu apa yang menjadi alasan orang tidak pergi ke museum?”

Karena museum tidak menarik, mungkin. Itu jawaban saya ketika itu.

Sang dosen mengejar lagi, “Padahal museum berisi jejak-jejak peradaban hebat dari masa ke masa. Gimana bisa itu tidak menarik?”

Saya menjawab dengan tetek-bengek teknis seputar tampilan museum yang kalah atraktif jauh dibanding mal atau taman bermain. Dosen saya menyetujui. 

Ya, hal-hal seperti itu memang berpengaruh. Tapi, lanjutnya, sesungguhnya ada satu persepsi mendasar yang membuat orang tidak pergi ke museum. Museums have nothing to do with our daily lives. Museum tidak berhubungan dan tidak relevan dengan hidup kita sehari-hari.

Itu adalah kritik yang datang dari hasil penelitian tahun 1988, 32 tahun silam. Tapi, mendapati kenyataan bahwa orang-orang masih, entah dengan atau tanpa sadar, menggunakan kata ‘dimuseumkan’ untuk hal-hal yang tidak lagi berguna dan rongsokan, saya jadi menyadari bahwa kritik itu masih sangat relevan sampai sekarang.

Museum mungkin memang menyimpan dan menampilkan hal-hal hebat nan keren dari masa lalu. Museum Nasional di Jakarta, misalnya, punya rupa-rupa koleksi mahkota emas dari berbagai kerajaan di Nusantara. Wow, kurang keren apa coba?

Begitu pula dengan puluhan museum daerah lain di Indonesia. Semua menyimpan koleksi berupa bukti-bukti kejayaan masa lalu di daerahnya. Sebagai contoh, Museum Sonobudoyo di Yogyakarta punya ribuan koleksi adiluhung dari kebudayaan Jawa, dan baru saja menggelar pameran temporer tentang kisah perak yang megah.

Contoh lain, Museum Negeri Banten di Serang menyimpan jejak fisik bahwa berabad silam, Sultan Ageng Tirtayasa rupanya telah merancang sebuah sistem teknologi pengairan.

Tapi, apa gunanya semua kekerenan masa lalu itu bila tidak ditarik benang merahnya dengan kehidupan kita di masa sekarang? Sekadar bernostalgia dan membanggakan diripun bisa jadi sulit, karena sebagian besar dari kita mungkin tidak merasa punya hubungan langsung dengan kerajaan-kerajaan itu.

Selain museum yang dikelola oleh pemerintah daerah, kita juga punya ratusan museum swasta dengan berbagai tema spesifik. Di museum khusus seperti ini, jarak waktu antara apa yang ditampilkan di museum dengan kehidupan saat ini mungkin tidaklah terlalu jauh. 

Namun, mereka menghadapi masalah lainnya: karena temanya yang spesifik, boleh jadi tidak banyak orang yang merasa terhubung dengan tema tersebut. Museum Timah di Pulau Bangka, misalnya, secara khusus berkisah soal perkembangan teknologi penambangan timah dari masa ke masa, termasuk yang masih dipakai hingga saat ini. 

Tapi, kalau tidak ditarik benang merahnya dengan kehidupan kita secara umum, berapa persen kah orang yang akan merasa hidupnya terkait dengan penambangan timah itu?

Agar dapat lepas dari anggapan sebagai tempat pembuangan barang rongsokan yang tidak lagi berguna, museum tampaknya perlu melihat lagi, apakah narasinya sudah dirancang dan dikaitkan agar relevan dengan kehidupan audiensnya?