Seorang anak umur 8 tahun dibunuh oleh bapak dan ibunya. Demikian judul berita di berbagai media. Diduga bapak dan ibunya emosi lantaran anak tersebut sulit sekali diajari belajar daring. Duh Gusti, kok tega banget ya.

Kondisi saat ini memang bisa membuat kita gampang stres. Sudah 6 bulan lebih kita berada pada masa pendemi. Belum jelas kapan kondisi ini akan berakhir. Dari hari ke hari penambahan kasus positif Covid-19 ini makin mengkhawatirkan.

Kebijakan sekolah tatap muka seperti biasa sudah dicoba, namun kemudian ada daerah yang memutuskan untuk menghentikannya. Kegiatan belajar mengajar pun kembali dilakukan dengan metode daring.

Para ibu yang menjadi tumpuan pekerjaan rumah tangga, kini juga harus bertugas menjadi guru. Materi yang biasa diajarkan di kelas, kini berpindah ke rumah. Belum lagi masalah ekonomi yang dibuat porak poranda akibat pandemi. Stres pun menjadi-jadi.

Sekolah sebenarnya sudah melakukan inovasi. Ada yang membuat video pembelajaran. Ada juga sekolah yang menerapkan guru keliling ke rumah siswa secara bergantian. Namun sepertinya cara ini masih kurang efektif guna menyampaikan materi kepada siswa.

Tugas-tugas dari sekolah terus diberikan. Orang tua pun kelimpungan. Terlebih harapan agar anak mendapat nilai sempurna dalam semua pelajaran. Sekolah daring pun menjadi beban.

Agar sekolah daring tidak membuat pusing, satu-satunya jalan adalah berdamai dengan kondisi yang terjadi saat ini. Mengatur kembali emosi agar dapat melewati masa pandemi ini dengan baik.

Perlu kita sadari, bahwa kita memang bukan guru sekolah. Orang tua memang wajib mendidik anak-anaknya. Namun kewajiban itu lebih ke karakter dan kepribadian anak. bagaimana agar anak jujur, disiplin, dan mandiri, adalah hal-hal yang sangat perlu diajarkan di rumah. Sedangkan urusan akademik memang dirancang agar dapat disampaikan di sekolah.

Para guru berangkat ke sekolah fokus untuk mengajar. Tidak ada guru yang mengajar sambil jemur baju, ngepel, atau tiba-tiba keluar ruangan karena ada tukang sayur lewat. Murid pun sudah terkondisikan untuk menerima pelajaran dengan tertib.

Pemikiran seperti ini bukan dimaksudkan agar orang tua lepas tangan terhadap pendidikan anaknya. Namun semata untuk mengurangi beban pikiran orang tua. Jangan berkecil hati ketika tidak mampu mengajarkan matematika ke anak. karena itu memang bukan bidang kita. Bahkan seseorang yang berprofesi sebagai guru pun belum tentu bisa mengajarkan semua mata pelajaran kepada anaknya sendiri.

Memang ada beberapa orang tua yang berhasil menerapkan home schooling. Namun kurikulum yang diterapkan tidaklah sama dengan kurikulum yang diberlakukan di sekolah pada umumnya. Target utama dari home schooling tersebut tetaplah karakter dan kepribadian anak.

Agar tidak stress, kita pun perlu menyederhanakan target dari pembelajaran daring ini. Orang tua akan bangga ketika anak-anaknya meraih nilai sempurna. Dengan keterbatasan yang ada, sangat wajar jika nilai ujian anak-anak lebih rendah daripada biasanya.

Tak perlu risau ketika melihat unggahan orang tua lain di sosial media tentang kemahiran anak-anaknya. Percayalah, apa yang diunggah di laman medsos seseorang cenderung menampilkan sisi baiknya. Seorang ibu tidak akan mengunggah foto ketika anaknya marah-marah karena lelah belajar. Atau anak yang membuang bukunya karena sudah sangat ingin bermain.

Lihatlah unggahan orang lain sebagai motivasi untuk lebih bersemangat mendampingi anak belajar. Namun jangan menjadikan kemahiran anak sebagai ajang persaingan bagi orang tua. Tak perlu minder ketika teman-temannya sudah setor hafalan, sementara anak kita masih terbata-bata melafalkan huruf demi huruf.

Kesalahan terbesar orang tua dalam proses pendidikan adalah selalu menuntut nilai sempurna dalam setiap mata pelajaran. Di saat anak-anak belajar di sekolah pun tuntutan meraih nilai sempurna akan menjadi beban tersendiri bagi mereka. Terlebih di masa pandemi seperti ini.

Standar pendidikan di sekolah selama ini mengedepankan nilai akademik. Di masa pandemi ini kita sebagai orang tua dapat menetapkan standar lain dalam pendidikan anak. salah satunya adalah kemandirian anak. Hal tersebut dapat dilatih dengan membiasakan anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Masa pembelajaran dari rumah dapat dimanfaatkan untuk melatih kemandirian anak. Selama mereka sekolah, orang tua sering tidak tega menyuruh anak-anak mnegerjakan pekerjaan rumah tangga. Inilah saatnya melatih anak agar terbiasa mengurus rumah. Selama ini orang tua menyepelekan peran anak dalam mengurus rumah. Padahal ini adalah skill dasar yang seharusnya dimiliki oleh semua orang.

Mereka akan lebih mudah beradaptasi ketika harus berpisah dengan orang tua. Pada waktu kuliah maupun bekerja di luar kota, mau tidak mau mereka harus mengurusi keperluannya sendiri. di saat inilah kemampuan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga diperlukan.

Anak-anak yang sudah terbiasa mengurusi pekerjaan rumah tangga tentu tidak mengalami kendala. Hal ini turut membantu mereka dalam berkonsentrasi terhadap kuliah maupun pekerjaan. Tak heran jika anak-anak yang terbiasa mengurus rumah akan lebih sukses.

Masa ini memang berat. Selain kesehatan raga, kita pun perlu menjaga kesehatan jiwa. Anak-anak memerlukan lingkungan rumah yang nyaman. Rumah bagi mereka adalah tempat untuk beristirahat.

Pandemi ini mungkin hanya akan berlangsung dalam waktu 1-2 tahun. Namun masa depan anak-anak masih sangat panjang. Jangan sampai masa ini menyisakan trauma yang menggelayuti masa depan mereka.