46324_56510.jpg
Koleksi Pribadi
Keluarga · 4 menit baca

Agar Anak Tetap Senang Saat Dilarang
Seri Parenting 1

Sebagai orang tua, terutama dengan anak-anak yang masih balita, tentu kita tak ingin sedikit pun hal buruk terjadi pada sang buah hati. Kita pun akan cenderung melakukan apa saja untuk memastikan anak merasa aman dan nyaman. Tetapi, untuk alasan yang sama, banyak orang tua yang justru over protective hingga anak tak bisa berbuat banyak.

Orang tua perlu tahu bahwa seiring bertambahnya usia, anak mulai menyadari bahwa ia adalah individu yang berbeda dengan orang tuanya, terutama ibu. Karenanya, anak perlu memiliki kemandirian untuk melakukan banyak hal dengan caranya sendiri.

Hal yang biasa dilakukan oleh orang tua dalam memastikan keamanan anak adalah dengan melarang anak melakukan hal-hal yang dianggap berbahaya atau tak baik oleh orang tua. Seperti, tidak boleh bermain di tanah, tak boleh menyentuh binatang, tak boleh bermain dengan peralatan pecah belah, dan seterusnya. 

Balita memang belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Karenanya, melarang anak melakukan hal-hal yang berbahaya tentu perlu. Namun, terlalu banyak melarang ternyata justru membuat anak tidak senang.

Berikut adalah tips agar anak tetap merasa senang saat dilarang melakukan hal-hal yang berbahaya atau tak baik.

Hindari menggunakan kata “Jangan” dan “Tidak”

Kata-kata dengan makna negatif seperti “jangan” dan “tidak” sebaiknya segera dihindari penggunaannya, terutama saat berkomunikasi dengan anak. Terlalu banyak larangan yang diberikan dapat menyebabkan gangguan di masa pertumbuhan. Anak yang terlalu sering dilarang akan cenderung menjadi anak yang penutup dan penakut.

Anak-anak usia balita juga masih belum mengerti benar makna kedua kata tersebut, sementara anak akan cenderung meniru orang tua. Jika orang tua terlalu sering menggunakan kata “jangan” dan “tidak”, maka anak pun akan melakukan hal yang sama. Anak akan sering mengatakan “jangan” dan “tidak” saat berkomunikasi dengan orang tua. Pada titik tertentu, hal ini akan membuat frustrasi orang tua.

Misalkan saat anak suka menarik buku-buku yang ada di rak dan membuatnya menjadi berantakan, jangan dimarahi. Kita bisa temani dan ajari mereka cara yang seru untuk mengambil buku, membacanya, dan kemudian menatanya kembali di rak dengan cara yang asyik.

Beri Pilihan lain

Saat anak-anak melakukan aktivitas yang berbahaya atau tak baik, sering kali hal tersebut disebabkan karena mereka tak punya pilihan aktivitas yang lain. Karenanya, daripada terus-terusan mengatakan “tidak” dan “jangan”, orang tua sebaiknya menyediakan pilihan aktivitas yang lain.

Semisal, daripada bilang, “Jangan mainan air di kamar”, lebih baik bilang, “Main air di luar, yuk!”

Saat anak merengek minta dibelikan jajanan dari penjual makanan keliling yang sedang lewat, Anda bisa bilang, “Eh, si Om lagi lewat. Yuk dada .. dada, Om!” Orang tua sebaiknya berhenti melarang anak membeli sesuatu saat penjualnya sedang lewat. Kita harus mengajari anak untuk menghormati orang lain yang sedang berusaha atau bekerja. Karenanya, alihkan perhatian, jangan melarang.

Temani Anak

Sering kali anak-anak melakukan aktivitas berbahaya karena merasa sedang tak diawasi. Karenanya, hal selanjutnya yang perlu dilakukan orang tua adalah sebisa mungkin meluangkan waktu untuk menemani anak bermain. 

Selain dapat mengontrol langsung tingkah pola anak, menemani anak bermain juga bisa membangun kedekatan. Anak yang dekat dengan orang tua akan tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan mandiri.

Saat menemani anak bermain, izinkan anak melakukan beberapa kesalahan kecil; anak-anak belajar banyak dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Tugas orang tua hanyalah menemani anak bermain, bukan mengambil alih permainan hingga anak merasa tak nyaman.

Beri Pengertian

Saat anak ngeyel minta sesuatu yang dianggap tak baik atau berbahaya, orang tua bisa melarangnya dengan memberi penjelasan atau pengertian. Anak perlu tahu mengapa ia dilarang melakukan atau meminta suatu hal. Biasakan untuk berdialog dengan anak agar mereka tumbuh menjadi individu yang terbuka dan tidak ngeyel.

Memberikan pengertian terhadap larangan memiliki dampak baik untuk jangka panjang. Saat anak-anak mengerti mengapa mereka dilarang, kecil kemungkinan mereka melanggar larangan tersebut. Orang tua tak perlu bersikap keras atau galak; anak butuh orang tua yang bisa disayangi, bukan ditakuti.

Jika terpaksa, katakan “jangan” dan “tidak” dengan lembut

Jika cara-cara di atas belum mempan untuk menahan anak, kita tentu boleh mengatakan “tidak” atau “jangan”. Namun, pastikan kedua kata tersebut diucapkan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Buat anak mengerti bahwa ia dilarang sebab ia disayang.

Orang tua sebaiknya merendahkan posisi kepala hingga sejajar dengan kepala anak saat mengucapkan dua kata di atas, sambil duduk misalnya. Dengan menyejajarkan posisi setara dengan anak, mereka akan mengerti bahwa orang tua tidak sedang memerintah, melainkan mengajak berunding. Sebisa mungkin pancing anak untuk bertanya “kenapa” agar orang tua bisa memberi penjelasan.

Biasakan untuk membuka ruang diskusi dengan anak. Suara mereka juga perlu didengarkan oleh orang tua. Bukankah kita memang banyak belajar dari anak?

Ajak untuk bertanggung jawab

Saat anak melakukan beberapa kesalahan kecil seperti menumpahkan air dari gelas, hal yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah segera mengambil lap dan minta anak untuk membantu menyeka air yang tumpah. Dengan begini, anak akan tahu bahwa mereka akan bertanggung jawab terhadap hal-hal yang mereka lakukan.

Jika anak tak mau ikut membantu, pastikan anak melihat saat orang tua melakukannya.

Berikan hadiah saat anak nurut

Hadiah di sini tidak selalu bermakna barang yang bisa dibeli. Karena hadiah terbaik yang bisa diberikan kepada anak adalah kasih sayang tulus dari orang tua.

Memberi hadiah di sini bermakna memberi penghargaan kepada anak saat mereka mau berkompromi dengan orang tua. Hadiah yang bisa diberikan bervariasi, mulai dari pujian, ucapan terima kasih, diajak jalan-jalan, diajak renang, dan lain-lain.

Orang tua sebaiknya tidak membiasakan memberi uang kepada anak sebagai hadiah. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini akan membuat anak menganggap orang tua sebagai ‘ATM Hidup’. Cukup beri penghargaan, buat mereka tahu bahwa mereka sangat disayang.

Antisipatif

Hal terakhir yang perlu dilakukan adalah antisipatif. Orang tua harus mengenal betul kebiasaan anak, termasuk hal-hal yang pasti akan menarik perhatiannya. Karenanya, sebelum anak sempat meminta sesuatu, segera alihkan perhatiannya.

Misal, saat orang tua tahu hujan akan segera turun, dan kebetulan anak sangat suka bermain air, segera ajak anak masuk. “Main di dalam rumah, yuk!”

Orang tua tentu perlu memastikan agar anak aman dan nyaman, namun ini tidak berarti kita boleh terlalu sering melarang; biarkan anak belajar. Jikapun harus melarang, lakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang.