Sudah sejak lama agama ditafsirkan oleh banyak kalangan sebagai wadah untuk membangun relasi yang lebih intensif dengan suatu kekuatan yang tak terbatas, atau yang biasa disebut “Yang Ilahi”. Oleh Rudolf Otto, “Yang Ilahi” itu digambarkan sebagai pribadi yang menggentarkan sekaligus begitu mengagumkan (tremendum et fascinosum).

Oleh karena “Yang Ilahi” itu adalah pribadi yang menggentarkan sekaligus mengagumkan, tak jarang yang kemudian menjadikannya sebagai pusat dan arah keberpihakan manusia yang takut sekaligus kagum kepada-Nya. Ada pula yang kemudian yakin bahwa “Yang Ilahi” itulah yang menciptakan agama, sehingga kehidupan beragama harus selalu terarah kepadanya.

Dari sudut pandang yang lain, muncul gagasan yang berlawanan dengan hal itu. Agama yang awalnya dianggap sebagai “titipan” dari Tuhan kini ditafsirkan sebagai sebuah institusi yang tidak lebih dari ciptaan manusia belaka. Menurut Sigmund Freud, itu adalah ciptaan alam bawah sadar manusia. Menurut Emile Durkheim, agama lahir dari rasa solidaritas dan kesatuan manusia untuk tetap berkumpul dan bersatu.

Menurut Karl Marx, agama sebagai sebuah sistem kepercayaan terhadap “Yang Ilahi”, lahir dari kekecewaan atas kekalahan dalam perjuangan kelas. Agama adalah pelarian dari realitas. Gagasannya ini mirip dengan pemikiran Friedrich Nietzsche yang mengatakan bahwa agama tidak lebih dari sekadar sebuah institusi yang diciptakan untuk melampiaskan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht) dari kaum budak.

Meskipun orang-orang ini ateis, mereka sebenarnya tidak menolak agama atau hendak menghapuskan agama. Mereka hanya ingin agama menjalankan fungsi dalam mengembangkan individu dan masyarakat, bukan sekadar larut  mempertahankan argumen tentang “Yang Ilahi” sehingga melalaikan dimensi-dimensi sosial. Jika tidak, pandangan Karl Marx bisa jadi benar yakni agama bisa menjadi opium bagi masyarakat.

Agama tak lebih dari sekadar ilusi penghilang rasa sakit dan tidak membuat perubahan apa-apa. Namun, bagaimanapun juga keempat pandangan ini sangat reduksionis dan hanya menilai agama dari fungsinya. Mereka sama sekali tidak berpikir akan adanya kerinduan mendalam dalam diri manusia untuk mengenal lebih dekat pribadi yang jauh melampaui kekuatan manusiawi, yang oleh Mircea Eliade disebut sebagai “Yang Sakral”.

Pertanyaannya sekarang ialah apa makna agama bagi manusia? Apakah agama hanya sekadar kumpulan konstitusi-konstitusi religius yang membolehkan dan melarang manusia melakukan sesuatu? Apakah ia juga hanya berperan sebagai institusi yang menuntun pada kesucian dan kesalehan? Tentu saja tidak.

Agama pun bukan hanya mengatur perihal sembah-menyembah atau komunikasi dengan “Yang Ilahi”. Jika kita menafsirkan peranan agama hanya dalam ranah tersebut, kita keliru. Itu sama halnya kita menganggap para tokoh peletak dasar ajaran keagamaan sebagai orang-orang yang berwawasan sempit dan tidak peduli pada masalah kemanusiaan.

Meskipun demikian, tidak bisa disangkal bahwa konservatisme dan fundamentalisme masih membayang-bayangi hidup beragama tanpa terkecuali. Ada yang memang karena keyakinan tertentu menolak segala sesuatu yang tidak berada dalam “tulisan-tulisan suci”, seperti para skripturalis, namun ada pula yang dengan sengaja hanya ingin memicu pertentangan dengan memelihara kelompok dan pandangan fundamentalis demi kepentingan-kepentingan tertentu.

Inilah permasalahan yang sebenarnya menjadi tantangan berat bagi agama dalam melancarkan aksi-aksi kemanusiaan terutama dalam penanganan kemiskinan dan keterbelakangan secara serius.

Mempertimbangkan Gagasan Kiri

Terminologi “gagasan kiri” dalam berbagai hal sangat mengandung konotasi negatif terutama ketika digunakan dalam konteks negara kita, Indonesia. Secara umum, gagasan kiri diidentikkan dengan Marxisme dan Komunisme. Tidak mengherankan jika selama berpuluh-puluh tahun, buku-buku yang berhaluan “kiri” dilarang untuk beredar di Indonesia. Terminologi ini akan semakin membuat orang mengernyitkan dahi tatkala dikaitkan dengan masalah agama.

Saya kagum dengan pemikiran seorang filosof dan teolog Muslim kontemporer dari Mesir, Hassan Hanafi, yang menggunakan terminologi ini dengan sebutan al-Yasar al-Islami. Hanafi berangkat dari kondisi objektif dunia Timur pada umumnya yang masih merepresentasikan tanda-tanda keterbelakangan yang diwarnai oleh kemiskinan dalam berbagai aspek.

Sementara itu, kapitalisme global memberikan sejumlah tawaran estetis berupa proyek rasionalisasi dan sistem pengorganisasian sosial yang bersifat absolut. Hal ini menjadi dilema bagi dunia Timur. Di satu sisi, kita dihadapkan pada situasi untuk menerima kapitalisme global dan segala implikasinya, namun di sisi lain kondisi objektif dunia kita masih diselimuti oleh problem internal berupa ketidaksiapan dalam berbagai aspek terutama dalam dimensi-dimensi sosial.

Dalam kata pengantar dari jurnal yang digagasnya, “al-Yasar al-Islami”, Hanafi mengemukakan bahwa proyek Kiri Islam melanjutkan usaha Al-Afghani dan Muhammad Abduh dalam rangka menyatukan ummah untuk melawan imperalisme dan memodernisasi Islam dengan menggerakkan massa Muslim ke arah kepentingan politik dan sosial. Dia menginginkan  alim multazim (perlawanan) dalam menciptakan sebuah pemahaman yang lebih mementingkan nilai-nilai sosial-kemanusiaan.

Menurut Hanafi, Kiri Islam lahir setelah melihat berbagai kegagalan dalam metode pembaruan masyarakat dunia Timur (Islam) dalam beberapa generasi dalam menangani keterbelakangan dan kemiskinan. Hal ini disebabkan karena: pertama, berbagai tendensi keagamaan terkooptasi oleh kekuasaan yang menjadikan agama hanya sekadar ritus dan kepercayaan-kepercayaan.

Sementara itu, kecenderungan keagamaan yang tidak terkooptasi, terjebak dalam fanatisme primordial dan berorientasi kekuasaan. Kedua, liberalisme yang pernah berkuasa, ternyata didikte oleh kebudayaan Barat, berperilaku seperti penguasa kolonial dan hanya melayani kelas-kelas elit yang menguasai negara (dalam hal ini, Hanafi berbicara dalam konteks Mesir).

Ketiga, Marxisme yang berpretensi mewujudkan keadilan sosial dan menentang kolonialisme ternyata tidak diikuti dengan pembebasan rakyat dan perwujudan tujuan-tujuan kemerdekaan nasional. Keempat, nasionalisme revolusioner yang berhasil melakukan perubahan-perubahan radikal dalam sistem politik dan ekonomi, ternyata tidak berumur lama, banyak mengundang pertentangan, dan tidak memengaruhi kesadaran mayoritas rakyat.

Tugas Kiri Islam adalah menguak unsur-unsur revolusioner dalam agama, dan mencari pokok-pokok pertautan antara agama dan perubahan sosial. Menurutnya, agama adalah perubahan itu sendiri, dan nabi-nabi adalah para pembaru sejati.

Ibrahim adalah cerminan perubahan rasio yang menundukkan tradisi-tradisi buta, yaitu revolusi tauhid dan berhala-berhala; Musa merefleksikan revolusi pembebasan melawan otoritarianisme; tindakan Nabi Isa adalah contoh revolusi atas dominasi materialisme, sedangkan Muhammad merupakan teladan kaum miskin dan komunitas tertindas dalam menghadapi para konglomerat elit Quraisy dalam perjuangan mereka menegakkan masyarakat yang bebas, penuh persaudaraan, dan mengutamakan prinsip-prinsip egaliter.

Bukan Marxisme

Dari pandangannya tentang Kiri Islam, tampak bahwa Hanafi sedang memperjuangkan sebuah teologi yang berciri antroposentris. Maka, dia berupaya untuk mengembangkan kesatuan masyarakat tanpa kelas, kaya atau miskin. Perbedaan kelas bertentangan dengan kesatuan dan persamaan eksistensial manusia.

Pemikiran seperti ini jelas sangat berarti bagi terwujudnya kesatuan kemanusiaan tanpa diskriminasi ras, tanpa perbedaan ekonomi, tanpa perbedaan masyarakat maju dan masyarakat berkembang.

Meskipun Hanafi terinspirasi dari Karl Marx dalam mengembangkan gagasan Kiri Islamnya, dia bukanlah penganut Marxisme. Jika dalam perjuangan a la Marxis semuanya bisa dilakukan dengan menghalalkan segala cara, rekonstruksi teologi dan gagasan Hanafi  memakai prinsip kesejahteraan.

Perjuangan harus memerhatikan kesejahteraan umum dan tidak melegalkan perjuangan yang bersifat brutal. Dengan kata lain, ada metode-metode orisinal yang dikembangkan oleh Hanafi sendiri.

Gagasan Hanafi tentang Kiri Islam adalah langkah berani dalam upaya untuk meningkatkan kualitas Islam, salah satunya dengan menyatukan kelas-kelas dalam masyarakat. Namun, patut dipertanyakan, apakah masyarakat tanpa kelas itu bisa terealisasi atau tidak.

Tampaknya perjuangan Hanafi dalam gagasan Kiri Islam terlalu teoretis. Tanpa sikap kritis, gagasan-gagasannya bisa menjadi sekadar material-duniawi. Hal tersebut bisa menggiring pada pemahaman agama menjadi sekadar agenda sosial, praktis, fungsional, dan lepas dari muatan-muatan spiritual-transenden.

Untuk Indonesia

Data tahun 2015 menyebutkan bahwa 88,2 persen umat Muslim mendiami Nusantara. Oleh karena itu, fenomena aktivitas keislaman dipastikan sangat semarak di seluruh Nusantara.  Upacara keagamaan bernuansa Islam tak pernah berhenti diselenggarakan. Bukan hanya Islam. Hal itu terjadi di semua agama di seluruh Nusantara. Semarak orang pergi ke gereja, pura, dan wihara, serta masjid tak lagi terbantahkan.

Sayangnya, semarak artikulasi keagamaan  di negeri ini masih terkesan formalistis. Para penganut agama terbelenggu dalam kesadaran palsu keagamaan yang sebenarnya membius karena tak memiliki kesadaran kolektif untuk berbagi, menyantuni, mengayomi, serta menyelamatkan pihak-pihak yang sebenarnya masih sangat membutuhkan uluran tangan.

Dapat disaksikan sendiri bagaimana maraknya aktivitas doa bersama, ziarah, atau naik haji tak berbanding lurus dengan berkurangnya kemiskinan, kejahatan, dan keterbelakangan yang malah kebanyakan dilakukan oleh mereka yang menyatakan diri beragama.

Kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, kasus pemerkosaan, korupsi, dan lain sebagainya menjadi bukti nyata bahwa kaum beragama dalam masyarakat saat ini bisa dikatakan hanya ramai diartikulasikan dalam kesalehan individual, tetapi sepi dalam praktik sosial.

Sering terlihat, agama justru dijadikan mesin penarik uang oleh para pemimpinnya. Masih terlalu banyak umat beragama yang tak dapat menikmati kebahagiaan hidup baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat karena kekurangan kebutuhan pokok. Masih terlalu banyak keluarga miskin di negara ini yang hidup serba kekurangan, padahal mereka adalah orang-orang yang aktif  beragama.

Fenomena ini dibidik oleh Hanafi dalam gagasannya tentang Kiri Islam. Melalui  Kiri Islam, manusia dan kehidupan bersama mendapat perhatian penting. Oleh karena itu pemikiran Hanafi tentang pentingnya sosialitas dapat membantu mencari jalan keluar bagi permasalahan ini.

Pandangan Hanafi mampu menganalisis fenomena keterbelakangan umat beragama yang terjadi di Indonesia. Akan tetapi, gagasan tanpa aksi jelas, bagaikan seekor marmut yang seakan berlari begitu jauh, namun ternyata tidak berpindah tempat. Gagasan ini harus diikuti dengan tindakan, yakni keluar dari pola lama yang konservatif-reaksioner ke pola baru yang aktif membuat aksi.

Agama yang membebaskan hanya akan mampu terwujud jika para penganutnya sendiri saling bergandengan tangan, saling mengangkat, memperhatikan kepentingan sosial dan didukung oleh pola pikir yang progresif-transformatif.

#LombaEsaiKemanusiaan