Agama dan Kekerasan

Pada ahir tahun 2014, muncul wacana tentang penghapusan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Pro-kontra pun muncul hingga saat ini. Pasalnya Agama di tengah masyarakat adalah perkara yang sarat akan kekerasan. Redaksi Cherly Hebdo Prancis luluh lantak karena intens mensuarakan satire keagamaan. Jatuhnya Andalusia, bangkitnya Konstantinopel, embargo Irak-Iran, hingga perang tak berkesudahan  Palestina-Israel adalah motif politik yang didorong atas saraf berkeyakinan agama.

Agama yang seharusnya menjadi suluh keselamatan dan perdamaian saat ini mengalami cacat publik berbentuk kekerasan. Karena kedangkalan dalam pemahaman yang semata-mata mengejawantahkan dogma hubungan manusia dengan Tuhannya. Selanjutnya, agama seolah mengabaikan penghormatan aturan terkait manusia dengan sesamanya.

Sayogyanya dengan beragamalah permasalahan seperti kerusuhan, kekejian, kemungkaran dan kejahatan tertumpas. Agama mengajarkan kehalusan dan kesantunan dengan terus menafikkan maindset apa agamaku dan apa agamamu.

Seberapa pun kuat individu dan golongan untuk menghapus agama kegagalan selalu menghampiri mereka lagi, lagi, dan lagi. Di eropa timur ada paham marxis-leninis yang begitu getol memperjuangkan hidup tanpa agama. Tapi patahan sejarah membuktikan bahwa masih banyak penduduk yang masih berpegang erat dengan agama, dan yakin adanya tuhan.

Pada dasarnya manusia memiliki hati yang berkecenderungan untuk bertuhan, beragama dan selalu ingin berbuat kebaikan. Dari situlah tiap-tiap individu yang terpuji dapat mempengaruhi cerminan agamanya masing-masing. Sebagai manusia yang beragama pada sejatinya eksistensinya tidak bisa untuk dipisahkan.

Namun menjadi ironis ketika ego pribadi atau kelompok dipaksakan atas nama agama. Mereka mengaduk adonan agama, ego, kelompok yang dipaksakan dengan cekokan kebenaran. Mereka mengatas namakan agama yang kemudian melahirkan nilai-nilai agama menjadi negatif.

Acap kali kita lihat agama hanya tumbuh subur pada simbol saja. Seperti bendera, slogan, organisasi massa tapi belum sanggup menjadi nafas dan ruh dalam menikmati hidup. Akibatnya agama hanya menjadi tempat pembenaran akan tindakannya. Membunuh dan mengalirkan darah dengan berdalih membela agama tuhan dan menjalankan perintah agama. Apakah tuhan perlu dibela sampai menghilangkan hak dasar manusia?

Sekalipun agama membawa kebenaran, akan tetapi apabila menyandangnya dengan kesalahan dapat menggugurkan nilai-nilai kesakralan agama tersebut. Sehingga mempengaruhi nilai-nilai pendidikan, budaya, sosial dan yang terpenting adalah menjadikan krisis moral.

Hal tersebut disebabkan adanya penyalahgunaan terhadap agama. Banyak sekali oknum beragama layak nya berbisnis, mencari untung rugi. Menyesatkan golongan lain, kafir mengkafirkan, memprovokasi massa lewat berbagai media sosial ternyata biar dilihat sang bos dan mendapat pesangon bonus.

 Bukan lagi hal subyektif, Islam yang dikenal agama penuh perdamaian menjadi korban ‘penunggangan’ bagi kaum religius ekstrimis dan radikalisme. Dengan penuh keegoisanya tentang absolut ajaran yang diembannya dan mempengaruhi pengikutnya melalui doktrinal. Menganggap semua yang tidak tergolong dari bagian mereka adalah musuh.

Mengangkat senjata memberantas musuh untuk melegitimasi pengunaan kekerasan, perang, dan terorisme dianggap suatu ibadah mulya. Seakan lebih urgen dari pada zakat, infaq, berbagi kesenangan, tertawa bersama, membangun peradaban dalam balutan persaudaraan. Membunuh dan membombardir daerah lawan seakan mendapat sertifikat surga sebagai balasannya.

Sekilas kita melihat ke suriah, negara yang kaya namun luluh lantah akibat perbedaan keyakinan dalam menyerap inti sari agama. Membunuh seakan hobi, menyiksa layak nya main game, perang ritual wajib bagi mereka. Lantas, dimana ulama yang faham akan quran dan hadits. Apakah benar ajaran islam yang mereka yakini memerintah kan hal ini? Inikah inti ajaran quran yang dibawa Muhammad? Entahlah.

Lazisnu Jombang

Islam Rahmatan Lil Alamin, yang tidak menafikkan perbedaan namun meng-counter-nya menjadi keluasan dan keunggulan. Sudah menjadi kewajiban masing-masing dari kita untuk menjadi partisipan agen penyabar Islam yang santun, rukun dan halus sebagai bentuk manusia yang beradab dan memerangi kekerasan dengan kasih sayang.

Terdorong untuk menampilkan islam Rahmatan Lil Alamin, saya mencoba mengabdikan pemikiran, hati dan jasmani di Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah (LAZISNU) Nahdlatul Ulama Jombang. Lazisnu adalah lembaga pelaksana program Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ (PCNU) Jombang yang bergerak mengelola zakat, infaq dan shodaqoh.

Mandat pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh yang diberikan kepada LAZIS-NU adalah segala hal upaya mengumpulkan zakat, infaq dan shodaqoh dan kemudian menyalurkan kepada yang berhak (mustahiq). Dalam penyalurannya LAZIS-NU bekerjasama dengan lembaga atau organisasi pelaksana baik dari lingkungan Nahdaltul Ulama’ atau dari luar lingkungan Nahdlatul Ulama’.

Berusaha, berharap dan berdoa Lazisnu hadir sebagai wadah yang melindungi rakyat kecil serta mendidik mental mereka menjadi insan mandiri, berdiri diatas kaki sendiri. Kerangka kerja logis LAZIS-NU Jombang memiliki goal (tujuan umum) “Menjadi Lembaga Terpercaya Untuk Menciptakan Masyarakat Yang Sejahtera, Adil dan, Mandiri”, dan hasil yang diharapkan (impact) dari goal ini adalah berkurangnya masyarakat miskin (mustahiq) yang selanjutnya menjadi muzakki, munfiq atau mutashoddiq.

Pergantian ketua baru Lazisnu jombang yang sebelumnya di jabat oleh Maulana Syahiduzzaman berpindah ke Didin Sholihudin memberi warna baru dan semangat maju yang luar biasa. Peralihan jabatan ini ditandai dengan penyerahan beasiswa buat pelajar yang Tahfidzul Quran (26/05/2016).

Disamping itu, juga sudah dirancang kegiatan-kegiatan dalam bulan Ramadhan yang akan datang antara lain, Berbagi takjil dengan 4 pesantren lansia, wakaf al Quran, Parcel lebaran untuk pengurus musholla, Jaket (jariyah karpet) untuk musholla dan masjid, tebar mukenah di musholla-musholla umum dan santunan anak yatim”.

Belum genap setahun bergabung bersama lazisnu, namun hati ku berkeyakinan dapat melakukan sedikit perubahan. Saya berkeinginan menaik kan derajat kualitas islam fikih ke islam kultur dan islam system. Maksudnya, saya berharap bisa mengaktualisasikan nilai-nilai islam kedalam mekanisme system dan struktural di mana kita terlibat sebagai aktivis atau bahkan pengambilan keputusan. Memulai langkah dari organisasi yang fokus pada sosial merupakan pilihan tepat. Dari sini kita akan merasakan bagaimana berharga nya 1 kg beras, uang 10.000 ribu, rumah, keluarga, dan agama bagi rakyat kecil.

Memahami serta menyadari dan kemudian mempunyai sikap untuk turut serta dalam menerjemahkan islam rahmatal lil alamin dalam segala bidang tentu hal yang harus dikerjakan, lebih-lebih dalam bidang social dimana unsure berbagi dan kepedulian serta kebersamaan tampak begitu nyata didalamnya. Sifat  yang dimiliki oleh para ulama’ pejuang dan menjadi sifat-sifat dari seorang yang disebut pahlawan.

Jauh-jauh hari ulama yang tergabung dalam wali songo sudah mengajarkan kita metode dakwah yang indah dan menarik. Pendekatan yang mereka lakukan bukan dengan cara barbar melainkan rasa kekeluargaan yang lebih ditonjolkan. Wayang, gamelan, kesenian rakyat, contoh kecil usaha memasukkan islam dalam berbagai sendi masyarakat oleh para pendahulu kita yang luar biasa.

Selanjutnya ada pemuka agama sekelas Hadrotus syeach Hasyim Asya’ari, Kiyai Wahab Chasbullah, Kiyai Wahid Hasyim yang berjuang lewat organisasi bernama Nahdlatul Ulama. Dari NU tumbuh pula organisasi bernama Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujar, Lazisnu, muslimat, Ansor dan lain sebagainya. Tapi, kesemuanya tetap setia fokus membangun kekuatan sosial masyarakat indonesia.

Memikirkan dan ikut serta secara massif dalam agenda-agenda social modern merupakan langkah kongkrit untuk bisa memberikan dan berkontribusi dalam mengamalkan inti sari ajaran agama. Melalui Lazisnu saya mencoba membantu dan memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat. Menurut keyakinan saya Lazisnu adalah bentuk perjuangan baru yang bisa dikerjakan pada era ini. Dari pada berkelit dan berputar masalah paling benar dan salah, kegiatan mengabdi pada buruh, rakyat miskin kota dan pendidikan di pedesaan lebih mengena. Berikan mereka makan, minum, modal usaha, pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan bukan dalil-dalil sesat. Memanfaat kan kelemahan orang awam untuk kepentingan kelompok dan ideologi tentu sebuah tindakkan yang tak pantas dilakukan, apa lagi mereka yang di juluki pemimpin umat.

Lazisnu memang bukan lembaga sosial yang besar, tepatnya masih merintis menuju kesana. Yaitu organisasi yang mampu membina insan mandiri, cerdas, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam Rahmatal Lil Alamin. Tapi setidaknya saya telah berada pada jalur benar untuk menerapkan ilmu dan ide yang mendekam di otak. Sebuah aksi nyata walaupun tidak besar tentu lebih penting dari hanya sekedar diskusi, seminar, pelatihan tanpa tindakan nyata di lapang. Lebih baik gagal dalam mencoba dari pada tidak pernah gagal karena takut mencoba. Hanya itu slogan ku.

Tulisan ini mencoba menghadir kembali islam kosmopolitan, modern, kekinian agar mudah dipahami dan sekaligus relevan dalam menghadapi persoalaan yang dihadapi Negara tercinta ini. Cerita tentang rasa optimis, kebaikan, hal yang murni dari hati sampai kapan pun akan menjadi inspirasi pada pembacanya, jangan kan kawan atau pun pendukung. Musuh pun bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran dari lawan yang tangguh. Karena itu lawan yang tangguh lebih baik dari kawan yang baik tapi menikam dari belakang.

Pena memang luar biasa, goresan nya bisa menjadikan ajaran dikemudian hari dan diartikan sebagai kebenaran. Walaupun itu hanya peng-abadian sebuah pemikiran. Kitab-kitab suci atau pun kitab-kitab resi adalah pikiran pujangga yang diabadikan.

#LombaEsaiKemanusiaan