Corona Viruse Disease-19 selain berbahaya, juga menyisahkan pelajaran penting tentang digitalisasi ruang. Demi menghindari interaksi secara langsung, semua orang kemudian mengubah aktifitasnya secara daring. Tak terkecuali ritual peribadatan. Agama dituntut untuk melakukan digitalisasi, termasuk mengubah format beribadah dalam mode online. 

Persatuan Gereja Indonesia (PGI) di Protestan, Keputusan Konferensi Wali Gereja Indonesia di Kristen Katolik, Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Islam, kemudian memberlakukan ibadah online dan meniadakan ibadah bersama. MUI misalnya, mengeluarkan fatwa untuk tidak melaksanakan Jum’at demi menghindari penyebaran Covid-19.

Agama Online 

Pengajian menggunakan smartphone itu biasa. Belajar agama dari Youtube juga biasa. Seiring dengan kemajuan teknologi dan dampak epidemi, agama-agama ditantang untuk memikirkan ruang ibadah online-nya melalui akun ibadah masing-masing. Ruang-ruang ibadah fisik kemudian dihentikan sementara. Dengan menyediakan kolom online, para jemaat kemudian dapat melakukan ibadah dari rumah. 

Tuntutan ibadah bersama sebagaimana diperintahkan masing-masing agama tidak hilang, karena hanya berganti secara online. Sehingga yang sebenarnya sebenarnya terjadi adalah transformasi jamaah offline ke jamaah online. Peserta ibadahnya sama. Hanya saja yang membedakannya adalah mereka terhubung dalam jaringan internet massal secara bersama-sama. Jamaah yang melampaui batas-batas shaf dan mimbar.

Mari sebentara, kita mundur ke belakang untuk menjelaskan kondisi ini. Perjalanan agama-agama dari masa ke masa selalu menyisahkan tantangan. Di era tradisional, agama-agama ditantang untuk meyakinkan perspektif awam dengan dalih teologis yang jelas. Tak jarang di era ini, dalil teologis terkadang berkelindan dengan sejumlah persepktif mitologi. 

Pasca itu, setelah bergeser ke era modern, agama dituntut untuk menyodorkan jawaban ilimah sekaligus menjawab sejumlah ketimpangan sosial-ekonomi yang terjadi. Di era ini, beribadah saja tak cukup, agama mesti dijelaskan dengan rasionalitas sains sekaligus menjadi kekuatan revolusioner dalam melawan ketimpangan. Tantangan agama bermetamorfosa dari kontestasi mitologis ke tuntutan sosiologis. 

Dari era modern, agama bergeser ke era Hyperrealitas. Pada fase ini digitalisasi justru dilakukan secara luas dengan terbukanya sejumlah ruang virtual. Agama lantas dituntut  untuk melakukan relevansi dengan sejumlah penemuan artificial inteligence

Rasanya, tujuan agama untuk membongkar mitos, dan menyelesaikan ketimpangan sosial-ekonomi saja tak cukup. Agar tampil lebih meyakinkan pengikutnya, agama harus melangkah lagi ke depan. Kehadiran agama harus bisa relevan dalam memfasilitasi tugas-tugas digital.

Pada titik ini debat teologis, tampil semakin tajam dan saling mengisi. Agama dianggap sebagai entitas “langit” yang mistik dan bersumber dari anjuran alkitab sehingga tak boleh direduksi oleh kekuatan digital yang sekuler. Digitalisasi adalah hasil dari majunya kecerdasan manusia, sedangkan agama adalah representasi kekuatan Yang Kudus. 

Standar-standarnya telah ditetapkan dalam waktu yang cukup lama. Sehingga, siapa saja yang akan mengubahnya dianggap turut mengotori kesuciannya. Misalnya saja anjuran melaksanakan ibadah secara berjamaah, bersalaman setiap kali berjumpa, atau melakukan pengajian secara langsung. 

Manusia tak boleh mengubah standar-standar yang telah diyakini sebagai “rukun-rukun” tersebut dengan kecanggihan teknologi. Alasan paling utama yang diajukan adalah, digitilasi agamany memiliki dampak pada berkurangnya kualitas kekhusyukan.

Perspektif ini kemudian digugat secara tiba-tiba, seiring merebaknya pandemi Covid-19. Dengan alasan keselamatan, seluruh interaksi harus dikurangi. Sejumlah ibadah kemudian dilakukan secara online. Alternatifnya, agama mau tak mau harus menyesuaikan. Agama dituntut untuk melakukan relevansi dengan sejumlah kemajuan digital. 

Agama tak bisa bertahan dengan format lamanya yang telah memabaku, dan diatur sebagai rukun-rukunnya. Tuntutan kondisi dan kemajuan digital hari ini, mengharuskan agama, untuk tidak saja bergerak sebatas perlawanan atas eksploitasi—seperti ketimpangan ekonomi—melainkan bergerak satu langkah untuk melakukan relevansi (Harari, 2018). Tentu saja dengan tetap mempertahankan substansi beragama. 

Agama untuk Kemanusiaan

Digitalisasi agama bertujuan untuk menjadikan agama menjadi relevan sekaligus menyelematkan manusia. Bagaimanapun, puncak dari ke-beragama-an kita adalah kemanusiaan (Hidayat, 2002). Iman menemukan kembali kekuatannya lewat praksis keseharian. 

Alasan pendeknya juga, pertama, tentu karena agama tak datang untuk Tuhan melainkan menjadi panduan bagi manusia. Tuhan tak membutuhkan apa pun. Silogismenya, jika Dia butuh berarti Dia tergantug. Kedua, agama hadir untuk menyelamatkan manusia, sebab Tuhan yang Maha Penguasa tak butuh diselamatkan. 

Sehubungan dengan itu, pemodelan ibadah online, harus dimengerti sebagai relevansi atas kemajuan teknologi demi keselamatan manusia dan alam seisinya. Bukan keselamatan agama, apalagi keselamatan Tuhan.  Keduanya akan selamat, meskipun secara offline maupun online.

Digitalisasi agama hendak membawa manusia ke dalam ruang beragama tanpa ruang. Sebuah prinsip beragama yang sebenarnya tidak terjebak pada simbolitas semata, dan terekslusi oleh dinding rumah ibadah. Agama tidak tersandera pada jebakan-jebakan ruang fisik itu. Toh, keberserahan manusia pada yang Dia Yang Kudus  juga melintasi sekat waktu apalagi ruang. 

Dalam perspektif inilah, ketiadaan ruang fisik bagi ibadah agama-agama, selain dimengerti sebagai solusi kondisional, juga seyogyanya dimengerti sebagai petunjuk bagi agama untuk siap menghadapi kemajuan digital. Sehingga, tantangan agama hari ini tidak hanya sejauhmana agama memberi dampak sosial, melainkan kesiapan para pemeluknya untuk menghadapi agama-agama tanpa simbol, tanpa ruang, dan tanpa standarisasi (rukun-rukun) yang telah diyakini sejak lama.

Relevansi agama dengan dunia digital tersebut harus dilihat sebagai solusi penting di abad-21. Bukan malah dipandang sebagai reduksi atas sakralitas dan keberadaan agama. Agama dan pengikutnya akan tetap ada meskipun ruang-ruang fisik beragama itu telah tiada. Bahkan, keberadaannya melampaui seluruh sekat dan standarisasi yang pernah dibuat. Entah itu regulasi, pertimbangan politis, maupun ukuran demografi.

Kehadiran agama semenjak awal tak membutuhkan semua standar itu. Jika kita tak lagi membutuhkan standar-standar itu, maka problem klasik yang selalu terjadi, seperti kesulitan mendirikan rumah ibadah, standarisasi kolom KTP, pertimbangan politis dalam kategori agama dan non-agama, dan sejumlah ekslusi lain mungkin bisa berkurang bahkan hilang. 

Kehadiran ruang-ruang digital secara masif telah memberikan tempat tersendiri bagi para penganut agama untuk menyalurkan ekspresinya secara bebas. Berbekal ibadah online, mereka bisa beribadah dengan tanpa takut akan persekusi, pembubaran serta teror.

Bukan tak mungkin, jika rumah ibadah dan semua standarisasi itu kemudian tak lagi digunakan, semua orang bisa dengan bebas beribadah secara online, berpindah dari satu room ibadah online ke room ibadah yang lain, bahkan bisa menciptakan agama-agama baru dengan memanfaatkan room ibadah online yang lain. 

Tergantung aksesnya ke ruang digital itu. Tak ada lagi kategorisasi rumit yang memisahkan orang untuk mengekspresikan kebebasan beragama. Secara umum, agama pada akhirnya tak lagi dijebak pada ritus, simbol, regulasi dan ruang-ruang fisik peribadatan. 

Satu kesiapan penting, yang bisa dilakukan adalah tak lelah melakukan relevansi agama dengan sejumlah perkembangan zaman. Prasyaratnya adalah ruang terbuka bagi diskursus keagamaan yang lebih fleksibel.