Setelah membaca pengantar Karen Armstrong dalam karyanya, Masa Depan Tuhan, kita akan mendapati bahwa kasus akhir-akhir ini yang berkaitan dengan terorisme ternyata memiliki hubungan erat dengan fundamentalisme. Karen Armstrong menyebut ini sebagai fenomena rasionalisme.

Selain itu, Karen Armstrong juga menyebut ateisme sebagai salah satu fenomena tersebut. Apakah ateisme juga memicu terorisme? Tulisan ini akan membahas lebih lanjut kedua fenomena rasionalisme ini dalam agama, dan juga, mengapa kedua fenomena tersebut mungkin menyebabkan terorisme.

Semenjak jargon Descartes mewarnai dunia modern (aku berpikir maka aku ada/cogito ergo sum), akal maupun rasionalisme menjadi sebuah mitos keseharian kita. Apa pun keseharian kita selalu berhubungan dengan akal, bahkan pada agama sekali pun. Padahal, agama adalah sesuatu yang berbeda. 

Pernyataan Descartes “aku berpikir maka aku ada” jelas menggambarkan kebenaran yang sangat diyakini oleh para pemikir rasionalis. Dengan berbekal pengetahuan yang pasti tentang keberadaan dirinya sendiri, Descartes berharap mampu membangun sebuah dasar yang kokoh bagi semua bentuk pengetahuan manusia. 

Baginya, pengetahuan tentang objek yang berada di luar dirinya adalah kombinasi antara kesadaran akan keberadaan dirinya sendiri (res cogitans dan res extensa) dan argumen bahwa Tuhan itu ada, serta tidak menipunya dengan semua bentuk pengetahuan yang masuk melalui indra. Inilah sebabnya mengapa pikiran begitu pasti dan pengalaman tak pasti. 

Mungkin Descartes mengikuti ajaran Plato tentang bagaimana bentuk duniawi begitu absurd. Sedangkan dalam fundamentalisme, kita berusaha mencari hal yang paling mendasar melalui agama. Setelah kita mendapatkannya, kita pun sudah memastikan bahwa hal itu yang paling benar bagi kita, sedangkan kita belum mengujinya melalui pengalaman. 

Pikiran tentang tuhan pun begitu kita puja hingga kita berani menganggap agama-agama yang lainnya hina. Kehinaan itulah yang menghasilkan akibat membunuh, terorisme, kita menganggap penganut agama lainnya patut dibantai karena tidak memiliki kepercayaan sama dengan kita. 

Fundamentalisme mungkin ada di dalam setiap ajaran agama mana pun tapi bukan berarti kita mengabaikan pengalaman. Itulah perlunya kajian kritis terhadap kitab suci. Dengan adanya kitab suci, kita tidak bisa menafsirkan sembarangan tentang agama, apalagi tentang tuhan.

Di sisi lain, yang tak beragama atau sebut saja ateisme justru melihat agama sebagai sumber kekacauan. Kata Richard Dawkins dalam bukunya Delusi Tuhan berisi bahwa iman bisa sangat berbahaya, dan dengan sengaja menanamkannya ke dalam pikiran yang rentan dari anak yang tidak bersalah adalah kesalahan besar. 

Sebagaimana dalam paragraf dua disebutkan, tanpa kajian kritis terhadap kitab suci, agama bisa menjadi sangat berbahaya. Interpretasi kita yang begitu mendasar bahkan bisa diwariskan. Anak-anak yang pada usianya belum dewasa dalam berpikir cenderung mengikuti perintah yang disangka absolut, padahal hasil dari sejarah. 

Tapi bukan berarti ateisme itu benar. Dalam artian, ateisme terperangkap dalam pencarian. Mereka berusaha mengalami keilahian. 

Di satu sisi, yang terjebak dengan doktrin ateisme cenderung destruktif. Mereka tak mau mengakui begitu banyak agama. Doktrin yang destruktif ini biasanya tak bisa keluar dari kenyamanan tanpa beragama. Padahal mereka eksis dengan membandingkan agama. Mungkin ini juga disebut sebagai fenomena rasionalisme. 

Awalnya ateisme itu hasil pengalaman karena kekecewaan terhadap dunia agama, namun akhirnya mereka cenderung mengabaikan pengalaman dari dunia agama. Mereka nyaman dengan pikiran tak bertuhan, tak beragamanya mereka sendiri.

Sebagai kesimpulan, dalam paragraf satu, kita bisa melihat bagaimana akal sangat mempengaruhi agama, dan bahkan melahirkan ajaran fundamentalisme, yang mencari kebenaran yang begitu mendasar namun terkadang berakhir pada penolakannya terhadap agama lain.

Agama tidak semerta-merta memakai akal saja. Akal tidaklah pasti. Matematika jika dilihat dari segi teori begitu indah untuk berhitung, namun, apakah itu akan sama di dalam dunia praktik? Dalam artian, kita menghitung dari segi keuangan. Di sinilah peranan kitab suci, bukti bahwa agama adalah hasil dari pengalaman yang kritis. 

Di sisi lain, ancaman ateisme juga sangat destruktif karena penolakannya yang begitu dahsyat terhadap agama. Mereka masih dalam pencarian, dan ada juga yang terperangkap pada pikiran, bahwa satu-satunya untuk menghentikan kekacauan dari agama, yaitu tidak beragama sama sekali. Pengabaian pengalaman ini justru berakibat fatal pada diri kita.

Untuk menutup tulisan ini, marilah kita mengingat kata-kata yang diungkapkan oleh salah satu novelis ternama, Dostoevsky. Jika tuhan sudah mati, maka semuanya diperbolehkan. Itu berarti tidak ada perbedaan antara benar dan salah dan dengan demikian tidak ada moralitas. 

Namun, mengapa para ateis masih bersikap moralis? Ini artinya jika tuhan sudah mati, maka yang ada adalah kesepatakan yang diciptakan dari persetujuan bersama. Ini berarti moralitas tergantung pada kesepakatan bersama. 

Ini bisa juga dicurigai hasil dari kepentingan oknum tertentu, karena terkadang kita tak perlu menanyakan suatu tindakan mengapa itu benar-benar baik, dan itu buruk. Asal-usulnya begitu mengaburkan atau mungkin sengaja dikaburkan. Di sinilah penting mempertanyakan apakah agama yang kita anut ini adalah hasil persetujuan atau tidak?