Bukan sebuah rahasia lagi bahwa kebencian karena perbedaan kian meruncing. Pertikaian karena beda agama dan perbedaan suku adalah kisah yang terlalu sering didengar—hampir setiap saat.

Di waktu-waktu ini, sepertinya masalah perbedaan menjadi sebuah masalah yang serius. Padahal, kita sudah tahu dari sejak dahulu, Indonesia sudah dikenal dengan keberagamannya. Harus saya akui: saya pernah terjebak dengan hal ini.

Masih membekas dengan jelas dalam ingatan saya: peristiwa kemanusiaan yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah, beberapa tahun lalu. Akibat salah paham, sebagian orang digiring oleh emosi untuk saling melukai satu sama lain. Banyak rumah dibakar. Banyak orang kehilangan masa depan. Bahkan, tak sedikit, ada yang kehilangan orang yang dikasihi.

Sebagai anak kecil yang menyaksikan dan mengalami hal itu, peristiwa tersebut banyak membentuk kepribadianku. Sukar bagi saya untuk menerima orang yang berbeda agama denganku. Rasa benci dan dendam berkecamuk begitu kuat dan membutakan mata.

Cukup lama saya terjerat dalam keadaan ini. Sampai akhirnya, banyak hal bisa berubah ketika terjadi perjumpaan langsung dengan orang yang dahulunya saya anggap sebagai musuh. Kekeliruan tersebut makin jelas ketika saya dipertemukan dengan orang-orang, yang sampai saat ini menjadi teman dekat saya.

Mereka baik, tidak seperti anggapan saya dahulu. Bahkan, dalam perjalanan hidupku yang rapuh ini, mereka hadir sebagai penopang.

Lambat laun, pandangan saya melunak dan berubah. Awalnya tetap ada rasa curiga, namun saya mencoba memberi ruang perjumpaan, belajar dan bertumbuh bersama.

Hingga pada akhirnya, saya menyadari bahwa, sebagai manusia, kita tak punya pilihan lain untuk saling mencintai satu sama lain, apa pun agamanya. Jika tidak, kita sedang melakukan tindakan yang berbahaya bagi diri sendiri, atau dalam bahasa W.H Auden, “We must love one another or die.”

Sekarang, saya berkesimpulan bahwa kemanusiaan harus melampaui sekat dan debat. Tembok pemisah, apa pun itu, harus diruntuhkan. Termasuk perbedaan agama.

Saya ingat salah seorang penyair Islam: Hartojo Andangdjaja. Ia pernah menuliskan syair yang begitu indah mengenai Yesus. Hatinya diketuk oleh kedalaman cintanya. Seperti syair yang ia tulis, “Kebenaran akan tetap berjalan mendatangi kami, mengetuk pintu hati kami dan berpesan; Aku selalu hidup dalam diri kalian pejuang-pejuang yang menentang kelaliman.”

Perbedaan sejatinya adalah sebuah anugerah. Pemberian Sang Pencipta yang harus dirayakan oleh seluruh ciptaan. Dendam dan perasaan tidak suka terhadap perbedaan harus dikalahkan. Karena keinginan untuk mencinta dan berdamai dalam diri manusia itu ada.

Seperti yang ditandaskan oleh Sumanto Al Qurtuby dengan mengutip Thomas Hobbes, manusia tidak hanya inherently violent dan aggressive, tetapi juga intrinsically peaceful. Dalam pada itu, manusia harus memilih untuk menjadi orang yang suka berdamai dan menerima perbedaan yang ada.

Apakah memang berbeda itu salah? Tentu tidak. Saya tidak bisa membayangkan, jika di dunia ini, semua manusia sama. Sama wajahnya. Sama berat badannya. Pekerjaannya juga sama. Menggunakan pinggan yang sama saat makan. Baju dan warnanya juga sama. Wah! Akan menjadi sangat aneh, bahkan mungkin tidak menarik.

Mungkin inilah saatnya cara memandang seseorang “yang lain” dari diri kita harus diubah. Atau, istilah yang saya berikan tanda petik sebelumnya kita ubah menjadi sesama manusia, karena kata “yang lain” membawa kepada sebuah makna yang jauh dari kemanusiaan itu sendiri. Yang pasti, sebelum melihat apa agama seseorang, apa pilihan politiknya, dari mana ia berasal, kita harus terlebih dahulu melihat bahwa ia seorang manusia. Sama seperti kita.

Ang Swee Chai, seorang Dokter yang besar dalam tradisi Kristen tetapi menjadi relawan untuk orang Palestina, adalah contoh keberhasilan mengenai merayakan perbedaan. Dalam bukunya yang berjudul From Beirut to Jerusalem dan pernah diterjemahkan oleh penerbit Mizan, Chai menunjukkan bagaimana melepaskan dugaan yang  keliru terhadap sesama manusia.

Chai berhasil. Ia memperoleh penghargaan. Hatinya lapang menerima perbedaan, bagaikan air yang murni ia memberi nadi kehidupan bagi sesama manusia.

Perbedaan sama seperti musik. Berbeda, namun menuntun dan menghasilkan sebuah paduan harmoni yang menggentarkan telinga dan sanubari. Inilah hidup dalam perbedaan. Setiap hari jika dirayakan, ia akan menuntun pada sikap hati yang penuh bela rasa terhadap sesama—tak peduli seberapa banyak perbedaan yang ada.

Manusia tetap manusia, yang layak untuk mencintai dan dicintai oleh sesamanya. Bahkan, mengutip Y.B Mangunwijaya dalam bukunya Burung-burung Manyar: “Betapa pun bejat atau gagal seseorang, ia berhak mempunyai pujaan hati.” Artinya, semua orang, siapa pun dia, layak untuk dicintai.

Ada ruang untuk mencinta. Biarkan cinta itu bertumbuh lebih besar, mengalahkan rasa benci yang juga berpontensi untuk menang. Matikan dulu gawaimu, tutup dulu bukumu, berdamailah dengan orang yang kau benci. Sekarang.