Dalam pandangan Islam, keberagamaan adalah fitrah, yakni sesuatu yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya. (QS. Al-Rum/30: 30). Ini berarti menandakan manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama. Tuhan menciptakan demikian, karena agama merupakan kebutuhan hidup manusia.

Memang manusia dapat menangguhkannya sekian lama—boleh jadi sampai dengan kematiannya—tetapi pada akhirnya, sebelum ruh meninggalkan jasad, ia akan merasakan kebutuhan itu.

Dalam pandangan sementara pakar Islam, agama yang diwahyukan Tuhan, benihnya muncul dari pengenalan dan pengalaman manusia pertama di pentas bumi. Di sini ia menemukan tiga hal, yaitu keindahan, kebenaran, dan kebaikan. Gabungan dari ketiganya dinamai “suci”.

Manusia ingin mengetahui siapa dan apa Yang Maha Suci, ketika itulah dia menemukan Tuhan, dan sejak itu pula dia berusaha berhubungan dengan-Nya bahkan berusaha untuk meneladani sfat-sifat-Nya. Usaha itulah yang dinamai beragama, atau dengan kata lain, keberagamaan adalah terpatrinya rasa kesucian dalam jiwa seseorang.

Karena itu, seorang yang beragama akan selalu berusaha untuk mencari dan mendapatkan yang benar, yang baik, lagi yang indah. Sehingga, mencari yang benar menghasilkan ilmu, mencari yang baik menghasilkan akhlak, dan mencari yang indah menghasilkan seni. Jika demikian, agama bukan saja merupakan kebutuhan manusia, tetapi juga selalu relevan dengan segala kehidupannya.

Biasanya yang paling berharga bagi sesuatu adalah dirinya sendiri. Ini berarti yang berharga buat agama adalah agama itu sendiri. Karenanya setiap agama menuntut akan pengorbanan apa pun dari pemeluknya demi mempertahankan kelestariannya.

Dalam konteks ini, Islam datang tidak hanya bertujuan mempertahankan eksistensinya sebagai agama, tetapi juga mengakui eksistensi agama-agama lain, dan memberinya hak untuk hidup berdampingan sambil menghormati pemeluk-pemeluk agama lain.

Dari sekian banyaknya dalil yang menjelaskan hal demikian, dijadikan oleh sebagian ulama, seperti Al-Qurthubi, sebagai argumentasi keharusan umat Islam memelihara dan menjaga kerukunan antarumat beragama.

Memang, Alquran sendiri amat tegas menyatakan bahwa, “Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan seluruh manusia menjadi satu umat saja”. Tetapi Allah tidak menghendaki hal demikian, karena itu Dia memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih sendiri jalan yang dianggapnya baik, mengemukakan pendapatnya secara jelas dan bertanggung jawab.

Sehingga dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kebebasan berpendapat, termasuk kebebasan memilih agama, adalah hak yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap insan (manusia).

Sebagaimana argumentasi di atas, juga merupakan salah satu benih dari ajaran demokrasi, yang di mana kemudian akan tampak dengan jelas jika ditelusuri dalam petunjuk-petunjuk Kitab Suci.

Salah satu yang dapat dikemukakan di sini adalah sejarah pengalaman pahit Nabi Muhammad saw dalam peperangan Uhud serta kaitannya dengan ayat yang memerintahkan untuk musyawarah.

Setelah pengalaman pahit ketika mengikuti pendapat mayoritas sahabat-sahabatnya, membuat kemudian banyak para sahabat lainnya gugur di medan perang sehingga menyebabkan adanya kekelahan di pihak kaum muslimin. Dari sini Alquran turun memberi petunjuk kepada Nabi saw agar tetap melakukan musyawarah dan selalu bertukar pikiran dengan sahabat-sahabatnya. (QS. ‘Ali Imran/3: 159).

Demikian terlihat penjelasan secara keseluruhan, antara lain kebebasan beragama, mengemukakan pendapat, dan demokrasi merupakan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Atas dasar itu pula, kitab suci umat Islam mengakui kenyataan tentang banyaknya jalan yang dapat ditempuh umat manusia. Mereka diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, kesemuanya demi kedamaian dan kerukunan.

Dalam konteks keindonesian, ditemukan bahwa kebinekaan diakui atau ditampung selama bercirikan kedamaian. Bahkan dalam rangka mewujudkan kedamaian dengan pihak lain, Islam menganjurkan adanya dialog yang baik. Dan dalam dialog itu, seorang muslim tidak dianjurkan untuk mengeklaim kepada mitra dialognya bahwa kebenaran mutlak hanya menjadi miliknya.

Perdamaian dan kerukunan yang didambakan Islam, bukanlah yang bersifat semu, tetapi yang memberi rasa aman pada jiwa setiap insan (manusia).

Karena itu, langkah pertama yang dilakukan adalah mewujudkannya dalam jiwa setiap pribadi. Setelah itu, ia melangkah kepada unit terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga. Dari sini ia beralih ke masyarakat luas, seterusnya kepada seluruh bangsa di permukaan bumi ini, dengan demikian dapat tercipta perdamaian dunia, dan dapat terwujud hubungan harmonis serta toleransi dengan semua pihak.

Demikian sekelumit ajaran Islam. Kalau kenyataan di dunia Islam berbeda dengan apa yang tersurat dalam petunjuk agama ini, maka yang keliru adalah si pelaku ajaran dan bukan ajarannya itu sendiri.

Sungguh tepat pernyataan Syaikh Muhammad Abduh, “Al-Islam mahjub bil muslimin” (Keindahan ajaran Islam ditutupi oleh kelakuan sementara umat Islam).