Agama kebebasan dan kebenaran masa depan. Tentu akan datang pada para ustad, uskup, juru selamat, dewa-dewa dan nabi-nabi terdahulu: dari Islam, laozi, Hindu, Kristen, Buddha, sampai Mark dan Hitler.

Seorang anak Islam datang kepada ibunya dan bertanya. “ibu, mengapa kita dilarang keras makan daging babi, sedangkan daging unta dihalalkan?” Sang ibu menatap wajah anak kecilnya yang terlihat lugu sambil tersenyum, dan sembari menjawab pertanyaan anak itu.

“Iya Laila, begitulah cara tuhan melarang hamba-Nya untuk makan. Karena sebaik-baiknya yang kita makan adalah sesuatu yang diperintah dan seburuk-buruknya yang kita makan adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah. Sesuai tuntutan dan gambaran dalam kitab suci Al-quran dan As-sunnah kita, sedangkan unta jelas tuhan membolehkan kita memakannya. Sementara babi secara tegas, dilarang tuhan untuk kita makan. Jadi kau mengerti?”

Pada 1932, seorang bangsa Belanda datang ke Indonesia. Pejabat Belanda bertanya, “kenapa orang-orang sesama Islam saling membunuh antar sesama umat muslim?” Sang proklamator tersenyum sambil ketawa berbahak-bahak, menjelaskan. “Oh, Sukarno, begitulah cara kitab suci melarangnya”. Anda masih mentah, masih mudah dan belum bisa memahami perbedaan.

Tetapi jika kita biarkan Islam membunuh sesama Islam. Mereka akan menyebabkan kahancuran manusia. Itu bukan ide Sukarno. Itu bukan ide Mahatma Gandhi. Itu bahkan bukan ide Lenin, jika Mark dan Hitler pada hari ini menciptakan agama dalam kepunahan.

Kenyataannya Hitler tidak menciptakan dunia. Dia hanya menggambarkan bagaimana hukum dunia berhubungan dekat dengan alam manusia. Sama seperti Mark, jika kita melanggar, dimungkinkan kita akan bernasib buruk, menurut mereka.

Apakah itu cukup jelas?

Pada 2017, seorang penjabat Indonesia datang ke Timur-tumour. Anggota parlemen Indonesia, bertanya kepada pejabat Jakarta. “kenapa kita lebih peduli pendidikan dan ekonomi sesama Islam Indonesia dibandingkan Timur Tengah?” Si anggota parlemen, tersenyum tersendak-sendak sambil berfikir dan berkata “Oh Putin, Begitulah Ideologi negara. Anda masih mudah dan belum bisa mengerti pancasila.

Tetapi semua agama – apakah Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Taos dan komunis memiliki hak dasar dan sifat yang sama. Oleh karenanya mereka semua berhak menerima hukum dan moral yang sama.

Jelas ini bukan ide parlemen. Bukan pula ide Sukarno. Tetapi ini datang dari kaum-kaum liberal, seluler, komunis dan kredo-kredo modern lainya yang tidak suka menggambarkan dirinya sebagai penganut yang beragama. Karena mereka terlalu mengcampuradukan agama, tahayul dengan kekuatan supranatural.

Jika Anda mengatakan kepada orang-orang yang liberal, sekuler dan komunis bahwa mereka semua adalah orang-orang yang taat beragama. Mereka menganggap bahwa Anda menuduh mereka yakin pada sesuatu yang gelap tanpa terang, manusia tanpa mati dan kenyataan tanpa dasar. 

Faktanya, bahwa mereka hanya mempercayai sistem hukum, moral dan sifatnya manusia. Tetapi manusia harus taat dan tunduk untuk mematuhinya.

Sepanjang sejarah, peradaban dan pengalaman-pengalaman manusia, semua masyarakat tahu ini. Karena jika Anda melanggar hukum dan moral ini akan mengakibatkan bencana.

Agama jelas berbeda dari apa yang diperintah dan dilarang. Masjid Islam Indonesia tidak menyukai bahwa tuhan membolehkan riba. Pada abad pertengahan, Gereja Katolik Eropa menegaskan bahwa tuhan tidak menyukai orang kaya. Nabi Isya mengatakan lebih mudah bagi seekor unta masuk dari lubang jarum, ketimbang seorang kaya melewati gerbang surga.

Untuk menyelamatkan orang riba melewati kerajaan tuhan. Masjid Islam perlu mendorong mereka untuk menyumbangkan banyak harta dan mengancam orang kaya. Jika tidak taat dan tunduk pada perintah tuhan. Mereka akan disiksa dan di lemparkan ke dalam neraka.

Komunis modern pun begitu. Ketika mereka menciptakan konflik. Mereka akan mengancam umat antar sesama agama dengan "konflik kelas" di lapangan ini segera. Bukan dengan sulfur pembasmi hama setelah tumbuhan mati.

Hukum sejarah Islam dengan hukum sejarah komunis berbeda dengan firman Kristen. Sepanjang manusia itu bermasalah, sepanjang itu pula kemampuan supermanusia tak bisa di ubah. Manusia bisa memutuskan besok malam, dengan membatalkan nanti sore: dengan menciptakan hukum dan kebebasan agama seutuhnya.

Tetapi, sungguh mustahil menurut Harari, jika kita memalsukan sejarah. Tak peduli, apakah sejarah masa lalu meniadakan kebenaran atau memalsukan kebohongan tidak, yang pastinya mereka adalah kredo-kredo modern yang akan menciptakan kelas pertentangan dan sosial proletariat.

Jika Anda seorang komunis, Anda akan setuju, jika agama ditiadakan. Tetapi jika Anda sekuler, Anda akan terima, jika agama dipisahkan. Bagaimana, kalau Anda seorang liberal isinya Islam dan Kristen. Apakah Anda masih menerima agama?

Kalau Islam percaya adanya surga dan neraka sama seperti komunis mempercayai tidak ada kematian. Soalnya hanya Kristen dan Islam yang mempercayai tuhan dan malaikat. 

Sedangkan komunis dan Ateis mempercayai agama sebagai ketiadaan tuhan. Mereka tetap yakin bahwa tidak ada tuhan dan agama dalam urusan manusia. Selain daripada adanya proses evolusi alam.

Jika mereka menegaskan bahwa langit dan bumi terjadi karena evolusi alam, jelas agama adalah transaksi manusia menuju ketiadaan. Tetapi jika spritualitas adalah perjalanan menuju tuhan. Jelas agama adalah keajaiban: Tuhan.

Tuhan adalah konsep dimana manusia bisa menerima dan bisa menolak. Kalau tuhan ada. Ia menyerukan bahwa kalian harus melaksanakan perbuatan yang baik. Bila tidak. Tentu tuhan akan mengutuk dan memasukan kalian ke dalam neraka. Tetapi jika kalian patut dan tunduk pada perintah-Nya . Tuhan akan menerima kalian masuk surga.

Konsep surga dan neraka, di identik misterius menuju tempat tak dikenal. Pencahariannya, tentu harus di mulai dengan pertanyaan-pertanyaan besar. Apa itu surga? Siapa di dalamnya? Bagaimana tempatnya? Dan siapa penghuninya? Begitu juga dengan neraka. Apakah kesalahan manusia bisa lihat? Apakah benar tidak menimbulkan kesalahan? Atau apakah orang-orang Islam tidak menjadi kafir?

Pertanyaan-pertanyaan itu pada intinya menggambarkan kita tentang bagaimana memahami esensi dari eksistensi diri: Siapa yang menciptakan saya? Untuk apa saya hidup dan bagaimana kehidupan selanjutnya, jika kalau ruh saya berpisah dengan jasad?

Apakah kita hidup dari ketiadaan, atau apakah kita hidup karena keadaan?

Pertanyaan-pertanyaan itupun juga tak akan pernah selesai kita katakan. Tetapi kebanyakan diantara kita menemukan jawaban dari pengetahuan yang sudah ada. Mereka tidak bisa percaya bahwa di atas langit masih ada ruang, di bawah bumi masih ada lempeng.