Manusia adalah makhluk paling sempurna di antara makhluk hidup lainnya di muka bumi ini. Predikat sempurna itu dipersembahkan oleh agama sekitar ribuan tahun lalu. Dari situlah, problematika identitas selalu menjadi perbincangan panjang yang tak pernah usai.

Perdebatan soal identitas memang akan selalu berhenti pada titik paradoksal. Seluruh sistematika logika akan rontok sepanjang perdebatan, dan yang tersisa biasanya hanyalah nafsu sarat emosional.

Lalu, agama dengan egoismenya, mengklaim diri sebagai pemilik identitas paling mulia dengan segala tetek-bengeknya. Hingga covid-19 menyerang, agama agaknya sedikit tunduk dan menyerah diri kepada maklumat ilmiah. Walaupun masih ada yang nakal, setidaknya agama telah menunjukan sikap rasionalitasnya dengan berdiam diri di balik altar sembari menunggu kabar baik dari ruang laboratorium. 

Solidaritas berskala global selama pandemi covid-19, sesungguhnya ingin menyeret kita pada ruang refleksi. Ruang yang selama ini jarang kita singgahi, karena sibuk mencari identitas di bawah bayang-bayang kekuasaan ekonomi, politik, dan agama. Paham dogmatis yang selama ini mengekang kita, barang kali bisa ditelanjangi di ruang privat itu melalui kontemplasi yang mendalam. 

Sebelum covid-19 meretas seluruh sistem pertahan tubuh, sosial, dan ekonomi kita, kehidupan beragama di Indonesia berlangsung penuh drama. Banyak potret buruk keterlibatan agama dalam politik praktis yang mengakibatnya kacaunya kehidupan birokrasi. 

Tentu kita semua masih ingat kasus-kasus sengit yang melibatkan nama Tuhan pada empat tahun terakhir; ujaran kebencian, demo besar-besaran atas nama agama, penistaan agama, penghancuran rumah ibadah, pembubaran umat yang sedang beribadah, dan lain sebagainya. Hampir semua kasus itu berbau politik. Berbau busuk.

Perkawinan politik dan agama di Indonesia menghasilkan bingkai buruk kehidupan birokrasi kita.  Relasi agama dan politik seakan-akan sebuah pencapaian yang besar dalam sejarah kehidupan bernegara dan berbangsa. Bahwa, untuk menjamin kesucian berpolitik harus melibatkan agama untuk melegitimasi ide-ide kapitalistik. 

Memang, tidak ada hubungan antagonistis antara agama dan politik. Namun populisme agama patut dicurigai sebagai sebuah agenda besar menuju kekakuan kehidupan bermasyarakat. Sebab, gelombang populisme agama sangatlah berpotensi meruntuhkan ciri khas bangsa Indonesia sebagai negara yang beragam.

Masa Jeda yang Berisiko

Saat ini kita sedang meratapi bumi yang lagi berduka.  Hampir seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat mandek di tengah jutaan nyawa lenyap akibat covid-19. Kita tidak bisa ke mana-mana. Mematung diri di rumah. Masker menjadi barang satu-satunya yang berharga. 

Dari rumah, akhirnya kita percaya bahwa kematian selalu mengintai kita setiap saat. Dari rumah, kita juga akhirnya yakin bahwa kehidupan bergama itu tidak sesederhana sembayang. Ada kompleksitas dalam batin kita yang bergolak tiap saat.

Saat ini kita memasuki masa istrahat dari pengaruh agama terhadap dunia politik dan birokrasi Indonesia. Dunia medis, dengan masif, mengambil alih seluruh jalur-jalur birokrasi dan sosial. Setelah jeda ini, rupa agama mungkin akan berbeda. Dengan beralihnya ibadah dari tempat ibadah ke rumah memungkinkan agama akan mengalami perubahan besar. 

Bisa saja agama makin menjadi-jadi menguliti politik dan ekonomi di Indonesia. Peran agama mungkin sudah tidak lagi intim antara Tuhan dan batin seseorang, mengingat banyak sekali orang percaya bahwa virus ini adalah teguran dari Tuhan.

Masyarakat yang percaya covid-19 merupakan teguran dari Tuhan akan menyerahkan dirinya kepada pemuka agama. Dengan begitu, pemuka agama, begitu mudah menyeret umatnya ke sana-sini. Situasi politik akan kembali diwarnai oleh bendera agama. Covid-19 menjadi bahan ceramah agama sekaligus politik.

Atau justru agama akan kembali ke takhta semula; transenden. Mengingat, pandemi ini mengajarkan kita bahwa kemanusiaan berada di atas segala-galanya melampaui kepercayaan agama apapun. Masa jeda ini memang sangat berisiko. Ada banyak kemungkinan buruk di depan mata kita.

Virus Agama Vs Covid-19

Agama juga menjadi sarang virus. Telah lama agama memproduksi virus. Buktinya banyak kematian (terorisme) kemiskinan, dan ketakutan disebabkan oleh agama. Jika covid-19 menyerang tubuh biologis kita, sebaliknya agama bisa saja menyerang mental dan psikis.

Konsep-konsep ajaran agama makin ke sini, makin kabur dari makna transandental. Konstruksi imajinasi surga dan kemerdekaan abadi membuat agama mengabaikan humanisme dan cinta kasih. Inilah virus agama. Alih-alih berlandaskan ajaran surga, eksistensi manusia lain yang tidak seagama dikucilkan dengan istilah kafir dan lain sebagainya.

Virus agama jurstu lebih dulu memporak-porandakan kehidupan kita di Indonesia. Berbeda dengan Covid-19, virus agama menyerang melalui jalur damai. Ia menyusup di sela-sela ceramah di tempat ibadah. Ruang-ruang suci disuspi ideologi perpecahan, lalu membangun narasi kebencian berjamaah.

Penyerangan covid-19 hanya sebatas kulit, darah, dan jantung. Menjaga jarak dengan mengenakan masker setidaknya akan mengurangi penyebaran virus. Sementara itu, penyerangan virus agama melebihi kuit, darah, dan jantung.

Mula-mula Ia menyerang struktur psikologi. Jika berhasil, ia akan menyerang struktur sosial dan seterusnya. Penyebarannya tidak bisa dihentikan dengan mudah, tidak bisa dihentikan melalui protokol hasil riset ilmiah.

Sejatinya agama bukanlah sebuah virus. Namun Ia bisa memproduksi paham radikal dan menyerang manusia yang berdampak pada kekacauan kehidupan bermasyatakat.

Prinsip epidemiologi menegaskan bahwa covid-19 dapat menyerang orang suci maupun orang dengan dosa segudang. Ia merampas kesehatan orang kaya, juga membajak kekebalan tubuh orang miskin. Ia melumpuhkan pertumbuhan ekonomi hingga mengganggu stabilitas psikologi masyarakat. 

Namun virus agama, dalam prinsip sosial, hanya menyerang umatnya sendiri dengan segala status sosial. Ia berbentuk narasi dengan silogisme-silogisme konyol, atau logika-logika cacat. 

Virus ini kemudian menyebar ke tetangga yang berkeyakinan sama. Ketika sudah mencapai puncaknya akan ada peristiwa-peristiwa mengerikan berlatar agama. Karena virusnya sudah menyebar luas, penyelesaian peristiwa-peristiwa tadi malah ditangani oleh ahli agama. Inilah kerja virus agama.

Oleh karena itu, agama juga butuh masker. Tak perlu penulis jabarkan, kita semua hendaknya paham.