Penulis
1 tahun lalu · 504 view · 3 menit baca · Filsafat 45186_63069.jpg
jawaban.com

Agama Itu Soal Iman

Adakah yang bisa memastikan bahwa agama itu sebuah kebenaran? Paling tidak, kepastian itu lagi-lagi soal iman. Kehendak untuk percaya memberi ruang bagi sikap kaum beriman untuk memiliki satu jenis perspektif tentang kebenaran.

Paling banter mereka mencari kesesuaian antara teks yang diyakini sebagai rumusan baku kebenaran dengan realitas empiris yang tampaknya ia hanya sekadar bersifat profan dan aksiden. Ini sebenarnya satu sikap naif dari kaum beriman. Tidakkah kita berpikir bahwa menyesuaikan yang mutlak dengan yang aksiden adalah sesuatu yang berbahaya?

Polemik tentang kebenaran mulai muncul sejak pandangan 'teologi negatif' melahirkan satu segi sejarah tentang konsep Tuhan. Ia merupakan manifestasi dari keragaman iman kita. Memikirkan sesuatu yang tak terpikirkan adalah ketakmungkinan.

Logika agama, pertama-tama, memastikan hubungan antara kebenaran dengan kepercayaan sebagai satu kesatuan utuh yang tak terbagi. Jika di dunia ini ada lebih dari satu juta agama atau keyakinan yang dihasilkan oleh kontemplasi umat manusia, maka sebanyak itu pula kebenaran yang dimiliki.

Lalu, di mana letak kebenaran mutlak? Bukankah yang tersisa hanya relativisme atau justru ketiadaan?

Klaim kebenaran mutlak lalu menjadi masalah yang benar-benar memicu bencana konflik lintas iman. Sudah tidak terhitung betapa banyak penghancuran yang dihasilkan oleh konflik ini. Mereka tidak sadar bahwa semakin kaum beriman bersikeras untuk memastikan kebenaran imannya, semakin ia jauh dari realitas kebenaran yang sesungguhnya.

Sering kali kita tidak sadar bahwa apa yang kita bicarakan tentang Tuhan tidak lebih dari sekadar wacana tentang ketuhanan. Itu bisa dipahami dari kondisi-kondisi sejarah di mana setiap kaum beriman menunjukkan sikap ketuhanan yang berbeda-beda dari satu dan banyak bentuk dalam periode sejarah yang panjang.

Agama itu soal kepercayaan, bukan kebenaran. Pandangan ini harus dihargai karena setiap agama punya logika iman sendiri dalam memastikan kebenarannya. Bukan perkara kebenaran itu tidak penting, tapi perjuangan untuk menghidupkan agama, bagi setiap kaum beriman, tidak boleh menyentuh sikap keimanan yang lain.

Marilah kita mulai untuk bersikap tidak menghakimi kaum beriman lain hanya karena kita merasa sudah benar dalam beragama. Benar dan salah bukan sesuatu yang harus dipertentangkan dalam konteks relasi lintas iman.

Jujurlah dengan kemanusiaan kita, bukan pada sikap ketuhanan kita. Asketisme sering kali membantu dalam memecahkan masalah ini. Bukan karena ia menunjukkan spiritualitas yang tajam, tapi lebih dari itu, ia menunjukkan cara-cara yang berbeda, seperti sikap sekuler yang ditawarkan tentang 'fana' dan 'baqa'.

Mengapa kita begitu yakin bahwa keimanan kita memiliki kebenaran? Apakah itu memang penyakit yang dimiliki iman hingga ia meracuni martabat tertinggi kemanusiaan kita? Bukankah itu hanya spekulasi abstrak yang sulit dicari landasannya?

Kadang-kandang iman kita itu payah, menghakimi iman lain hanya karena kita yakin. Apakah sesuatu menjadi benar hanya ketika kita yakin? Begitu naif dan memalukan. Tapi intinya bukan itu. Agama sering kali memberi jalan terbaik bagi kenyataan yang tidak bisa diterima.

Marilah kita beriman tanpa rasa takut. Kebenaran bukan sesuatu yang layak untuk dipertentangkan. Kita hanya perlu menghormatinya. Bukankah ini lebih adil dan menempatkan segala jenis iman dan agama pada penghormatan tertinggi, bukan menjadi hakim atas nama Tuhan yang jauh di sana?

Perdebatan tentang satu Tuhan pun tidaklah perlu. Karena tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak. Semakin banyak kita mempersoalkan agama-agama, semakin banyak kita menemukan tuhan-tuhan. Artinya, cukuplah iman yang menyaksikan Tuhan dalam setiap pribadi-pribadi. Tidakkah ini lebih mudah, wahai para pecinta kesejatian?

Orang-orang beriman harus lebih cenderung menempatkan kesalehannya pada wilayah individual. Karena prinsip moralitas bisa mengatasi kolektivitas tindakan tanpa harus mempersoalkan iman setiap individu. Kebaikan, jika ia ukuran bagi sebuah tindakan yang layak, maka ini jauh lebih penting daripada menunjukkan sikap iman yang kaku di depan publik.

Kesalehan sosial tidaklah diukur dari prinsip ajaran agama seseorang, tetapi lebih dari itu, ia berasal dari sikap kepekaan terhadap sesama. Sikap kasih dan sayang jauh lebih dikedepankan karena orang hanya akan melihat tindakan baikmu. Bukan bagaimana iman harus hadir dalam perilaku sosial yang rumit.

Hari ini, banyak orang menunjukkan sikap agresifme dogmatik yang itu justru memperlihatkan kedangkalan mereka dalam beriman. Mereka tidak mengerti yang mereka lawan sebenarnya juga bagian dari kebenaran sebagaimana keyakinannya. Meski kebenaran “agama” tampak absurd di hadapan kenyataan empiris.

Agama itu soal iman, bukan kebenaran. Pernyataan ini harus dilihat dari cara bagaimana ekspresi iman itu dihayati, bukan cara bagaimana kebenaran ditunjukkan. Kesejatian iman bukanlah masalah mana yang benar, tetapi lebih dari itun ia mampu mengekspresikan pola pandangan hidup yang harmonis dan plural.

Orang hanya perlu mengakui bahwa iman orang lain sama pentingnya dengan iman yang aku yakini. Ini jauh lebih berbobot daripada orang harus bersikap kompetitif untuk mencapai kebenaran yang belum tentu ada.

Artikel Terkait