Belakangan ini, sering kita berseteru, bahwa istilah agama itu 'termaktub' pada kitab suci dan transendensi Tuhan saja. Namun itu lain. Tahun 1999, ketika saya usai merongrong di bangku sekolah dasar (SD). Saya pikir, kekatupan agama, dan Tuhan itu terbatas pada "hukum, dan kodrat pencipta" antara manusia dengan alam.

Tetapi kenyataannya tidak. Banyak hal-hal magis, dan pertanyaan-pertanyaan mistik saja, misalnya. Yang meng-endur-endur-kan pada diri saya, akan sesuatu hal yang terjadi itu seperti apa?

Termasuk, kenapa "alam raya, dan bumi semesta ini tercipta"? Dan siapa, yang menggerak, dan mengatur di balik kuantum dan ketabikan itu semua?

Sekarang, coba kita jawab pertanyaan itu. 

Untuk menahas, dan mencapai soal demikian. Kita seharusnya menggubris "Kata Tuhan dulu". Demi untuk menyela—,atau menghindari ke tidak–salah–fahaman sains modern, dan agama. Seperti yang kita maklumi selama ini.

“Dunia sains, dan dunia pengetahuan itu adalah kerepondensi,—atau terhubung satu sama lain.
—Filsafat Perenial 

Dalam istilah "Albert Einstain" itu 'satu'. Dan itu sifatnya relatif, yakni—akan berubah menurut kententuan, dan hukum-Nya masing-masing.

Paulo Coelho, dalam bukunya Sang-Alkemis (1988), menyebutnya itu sebagai "jiwa dunia". Yang tercipta oleh satu tangan, satu jasad, dan satu ruh. 

Dan dengan demikian itu adalah segalanya "satu". Sementara hal-hal lain di dunia ini adalah unsur yang saling ber-korespondensi,— atau terhubung dengan satu titik ke titik yang lain.

Untuk itu, tidak ada yang kebetulan, mustahil dan terjadi dengan sendirinya di dunia, bumi, dan alam raya semesta ini. Melainkan ada unsur skenario, dan skema yang mengatur, dan menciptakan-Nya. Seperti gear-gear rantai yang menggerakkan roda dari porosnya. Atau seperti matahari yang mengeluarkan cahaya-cahaya energi—kalor, yang menurut hukum, dan sifatnya -Nya panas. Dan itu peredarannya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya itu saling terkait, termaktub, dan tercatat dalam satu titik, (Epi Sentrum). 

Tetapi lain lagi dalam dunia "Pengetahuan"! Itu dipandang secara terurung,—atau berbeda dari agama, dan sains modern.

Sebab mereka menohok, atau menilai bahwa sejatinya agama, dan alam raya ini hakikat-Nya "membuncah" pada soal-soal yang ter-doktrinasi dengan "ideologi puritan, dan logika mistik". Seperti bagaimana meyakini, dan mempercayai sesuatu yang sifatnya abstrak, dan tahayul. Dalam artian; tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan. Tidak terwujud. Namun bisa dibayangkan. Sulit diukur, tetapi segalanya mudah dipastikan.

Bagi Edward Witten, Nietczhe, Galileo, dan Stepen Hawking itu. Menurutnya mereka, bahwa kendati alam, manusia dan semesta ini terjadi, dan termaktub di dalam ilmu pengetahuan dan sains modern saja. Tidak ada dalam urusan agama, dan Tuhan. Sebab dalam soal agama, dan keyakinan itu. 

Tuhan sudah mati, filsafat sudah termahkam. Dan yang hidup adalah cuman pengetahuan saja. Selain daripada itu semuanya telah tiada.
—Dalam Artikel Baharudin Jhusuf Habibie; kritikan terhadap Ilmuwan Stepen Hawking, ahli Fisika Moderen. 

Ia menilai bahwa 200.000 tahun yang lalu. Bahwa spesies manusia sudah mulai berfikir. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang kecil, komplex, dan yang sederhana saja yang ia berusaha untuk dijawab.

Termasuk kenapa manusia ada, dan siapa yang menciptakan-Nya?

Dan BJ Habibie menilai itu. Sejak mulai manusia bertanya. Maka sejak itu pula mereka mulai berfikir, dan berfilsafat. Jadi sangat keliru Stepen Hawking ketika mengatakan bahwa fisafat itu sudah "mati". Sementara ilmu pengetahuan itu masih "hidup". Tetapi satu lagi yang Stepen Hawking lupa. “Sejak mulai manusia berfikir. Maka sejak itu pula, manusia mulai berpengetahuan,—atau berfilsafat.

Sains Modern

Salah satu klaim yang masih bergulir, tergerus hidup, dan bergurita dalam dunia pengetahuan, dan sains modern ini adalah logika fisika dan ilmu pengetahuan.

Seperti yang diklaim oleh kaum-kaum ignoran, bahwa bumi, manusia dan alam raya ini terbentuk bukan dikarenakan sebagai hasil, karya pencipta Tuhan. Melainkan itu terbentuk atas pergerakan alam, dan mekanisme bumi yang bergerak sendiri, dan ad-infinitum. Dan selain daripada itu tidak ada unsur lain, ataupun hukum lain yang ter-korespondensi. Termasuk agama, dan Tuhan sekalipun.

Dengan maksud, tidak ada hubungan langsung, kesatuan, agama, manusia, Tuhan, filsafat dan sains modern. Melainkan segalanya itu "terpisah".

Dalam artian, jika manusia terjangkit dengan sejenis penyakit, misalnya berupa batu ginjal, kanker otak, hepatitis, dan penyakit-penyakit lainya. Tidak perlu lagi mereka berdoa, atau kiblat ke jalan Tuhan, ke pintu langit, ataupun ke cahaya Al-Ars, misalnya. Cukup itu dengan! Melalui melalui dokter bedah dan ahli medis yang mendiagnosa,—atau mendeteksi penyakit-penyakit manusia. Setelah itu, selesai sudah penyakitnya! Jadi tidak perlu lagi khawatir.

Sebab ketika seseorang merasa diri terkena demam, panas, flu dan suku badan meningkat. Itu bukan disebabkan oleh gejala-gejala mistik, dan hubungan melalui Tuhan. Melainkan itu faktor, cuaca, dan gejala alam yang tidak terbiasanya mendukung pada manusia. 

Termasuk salah satu pola makanan yang tidak teratur, perubahan iklim dan olahraga yang tidak seimbang. Atau misalnya memakan bahan-bahan makanan yang banyak mengandung bahan kolesterol. Sehingga menimbulkan pengaruh, kondisi dan suhu tubuh menjadi menurun.

Gejala lain misalnya. Mengkonsumsi makan-makanan yang tanpa dibersihkan terlebih dahulu. Itu akhirnya banyak mengandung virus dan bakteri. Yang sehingga fisik dan bak sekitar seluruh tubuh itu mudah terkena penyakit.

Namun bagaimana dengan menurut Thales, Anaximenes, herakleitos, dan anaximandro yang mengulas bahwa segalanya yang terjadi, termaktub, dan yang tercacat dalam bak tubuh dan seluruh fisik manusia itu terdapat air, tanah, api, dan udara yang mengalir. 

—Apakah Stepen Hawking lupa?
—Galileo Lupa?
—Edward Witten lupa?
—Atau Nietczhe lupa?

Bahwa itu juga sangat berpengaruh terhadap gejala fisik dan tubuh manusia akan menurun. 

Jadi, saya kira para ilmuwan-ilmuwan “sains modern ini” dan para jajakan ilmuwan linear lainnya bisa membasmikan soal demikian.