Mantan pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab, lagi-lagi kembali mengangkat isu berkaitan dengan kebangkitan PKI. Kali ini dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (10/6/2021), Habib Rizieq menyinggung Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) di KPK, sebagai indikasi bangkitnya PKI. Menurut Habib Rizieq, TWK yang membuat 75 pegawai KPK tidak lolos itu, telah terdapat indikasi pertanyaan beraroma anti-agama.

Harus diakui bahwa Marx dan Marxisme sejak lama telah digambarkan identik dengan ideologi komunisme yang berlawanan dengan agama, gerakan yang kejam dan pemerintahan yang totaliter melalui diktator proletariat (kaum buruh). Luka masa lalu dalam sejarah bangsa Indonesia berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), meskipun masih belum jelas kebenarannya, telah membawa komunisme menjadi hantu masyarakat hingga saat ini.

Isu kebangkitan PKI yang dilawankan dengan agama sejauh ini nampaknya memang cukup berhasil meyakinkan massa untuk menarik dukungan. Masyarakat sudah lama diyakinkan bahwa PKI berarti tidak beragama. Sayangnya logika ini seringkali meloncat hingga orang tidak lagi tahu alasan mengapa PKI selalu diidentikan dengan anti-agama. Kebanyakan dari mereka sudah sejak dini bahwa komunis berarti ateis, sehingga  dengan berani memberi cap “kafir” kepada semua pendukung PKI.

Tulisan ini secara khusus hendak menjawab pertanyaan mengenai alasan mengapa komunis bisa identik dengan ateisme. Karl Marx, sebagai inspirator gerakan komunis, pernah mengatakan bahwa agama bukanlah petunjuk bagi umat manusia, tetapi hanyalah kerangkeng dan jeratan. Ungkapan Marx yang terkenal hingga saat ini ialah bahwa “agama adalah candu rakyat”, berhubungan dengan pemikirannya mengenai alienasi manusia.

Mengenal Karl Marx

Karl Marx dilahirkan pada 5 Mei 1818 di kota Trier, anak kedua dari delapan bersaudara di keluarganya. Ayahnya bernama Heinrich Marx, seorang pengacara berdarah Yahudi yang terpaksa masuk agama Kristen karena tekanan politik pemerintah Prussia di masa itu. Di usia enam tahun, Karl Marx dibaptis masuk agama Kristen Protestan.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kota kelahirannya, dia sempat belajar di Universitas Bonn selama setahun dan kemudian pindah ke universitas Berlin, yang saat itu merupakan pusat pendidikan yang kental dengan pengaruh pemikiran idealistik Hegel. Pada mulanya dia tertarik pada ilmu hukum, tetapi kemudian meminati filsafat, khusunya filsafat Hegel. Ketika di Berlin, dia sempat bergabung dalam kelompok yang disebut Doktorklub, yang adalah salah satu kelompok Hegelian Muda yang mengkaji secara kritis pemikiran Hegel.

Agama dan Alienasi Manusia Menurut Marx

Marx memiliki sudut pandang yang berbeda dengan pemikir ateis sebelumnya, Feuerbach, dalam memandang agama. Pada dasarnya Marx setuju dengan Feuerbach, yang mengkritik pemikiran Hegel dengan membalik logika Hegel bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan. Menurut Feuerbach, agama mengungkapkan keterasingan manusia dari dirinya sendiri dan agama merupakan proyeksi dari hakekat manusia sendiri.

Pada dasarnya, Marx setuju dengan asumsi Feuerbach bahwa manusia mengasingkan dirinya di dalam agama, akan tetapi secara lebih jauh, Marx lebih mempersoalkan mengenai mengapa manusia mengalienasikan dirinya dalam agama. Menurut Marx, manusia dalam pandangan Feuerbach, masih dipahami secara abstrak atau masih dipandang sebagai objek kontemplatif saja. Menurut Marx, kondisi-kondisi material tertentu-lah yang membuat manusia mengalienasikan dirinya ke dalam agama. Kondisi-kondisi material yang dimaksudkannya adalah proses-proses produksi atau kerja sosial dalam masyarakat.

Dalam esainya yang berjudul Entfremdete Arbeit, Marx mengatakan setuju dengan anggapan Hegel bahwa manusia memahami kenyataan dirinya melalui kerja (dialektika tuan dan budak). Menurut Marx, melalui kerja manusia mewujudkan bakat-bakat dirinya, mengenal dirinya, dst. Melalui kerja, manusia juga menyatakan kebebasannya sebagai tuan atas alam dengan mengubah alam sesuai dengan keinginannya. Selain itu Marx juga berpendapat bahwa kerja menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial karena hasil kerjanya adalah hasil objektivikasi dirinya yang bisa diakui dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Dalam pandangan Marx, ciri kerja sebagai perwujudan bakat-bakat diri sudah lenyap dalam masyarakat industri. Misalnya yang terjadi pada "kerja upahan" (Lohnarbeit), pekerja menjual tenaganya dan kemudian hasil dari kerjanya menjadi milik perusahaan, sehingga dia teralienasi dari produknya sendiri. Selain itu juga, dalam kerja upahan, pekerja juga teralienasi dari aktivitas kerjanya sendiri, karena jenis pekerjaan ditentukan oleh majikan yang memperkerjakannya. Dan untuk tetap bertahan hidup pekerja upahan terpaksa memperalat dirinya sendiri untuk mencari nafkah, sehingga teralienasi dari dirinya sendiri karena kebebasannya lenyap.

Agama Sebagai Candu Rakyat

Karl Marx pernah mengatakan bahwa, “religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless worls and the soul of soulness conditions. It is the opium of the people”. Menurutnya, agama hanyalah keluh kesah dari makhluk tertindas, yang kemudian hanya menjadi opium dan penenang saja. Bagi Marx, agama bukanlah petunjuk untuk melepaskan diri dari sebuah masalah.

Alih-alih memberikan petunjuk untuk melepaskan diri dari masalah, agama malah menjadi opium atau penenang yang bermakna sebagai obat untuk meringankan bahkan melupakan rasa sakit. Menurut Franz Magnis, ucapan Marx bahwa “agama adalah candu rakyat”, sering dipakai oleh retorika Marxis untuk menuduh bahwa agama, dengan menjanjikan kebahagiaan di alam sesudah kehidupan, membuat orang miskin dan tertindas menerima saja nasib mereka daripada memberontak terhadapnya.

Marx dengan tegas mengatakan bahwa agama merupakan sebuah ilusi dan gambaran dari alienasi yang ada di masyarakat. Karena merupakan ilusi, Marx memandang bahwa agama adalah perwujudan sebuah kejahatan secara definitif. Konsekuensinya adalah bagi Marx, doktrin agama tidak begitu berguna dan tidak signifikan.

Tujuan dan fungsi dari agama, dalam pandangan Marx adalah untuk menutupi alienasi yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat, yakni alienasi yang bersifat material dalam struktur ekonomi. Menurut Marx, agama akan menghilang dengan sendirinya, ketika manusia dapat membangun dunia yang yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan hakekatnya secara nyata dan positif.

Marx mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Franz Magnis, kritik terhadap agama untuk melepaskan ilusi tentang keadaannya tidak boleh berhenti di situ, melainkan harus diarahkan pada keadaan sosial-politik yang mendorong manusia ke dalam agama.

Marx menganggap perjuangan melawan agama secara tidak langsung sebagai perjuangan melawan ketidakadilan dunia yang bau harumnya adalah agama. Marx menyimpulkan bahwa kritik surga berubah menjadi kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hukum, kritik teologi menjadi kritik politik.

Penutup

Mempelajari pemikiran Marx, tidak berarti secara langsung mengamini apa yang dikatakannya. Pemikiran Marx berkaitan dengan agama dan alienasi justru bisa membantu orang zaman ini secara personal, untuk kembali berefleksi tentang bagaimana hidup beragama yang ia jalani. Kita boleh bertanya apakah benar agama hanya sekadar bentuk pelarian kita atau sudah benar-benar menjadi pencarian akan Tuhan yang membawa buah yang baik bagi sesama. Setelah mempelajari pemikiran alienasi Marx ini, anda boleh memilih untuk semakin menolak ajaran Marx atau malah terpikat olehnya.

Sumber:

Hardiman, F. Budi, Pemikiran Modern dari Machiavelli Sampai Nietzsche, Yogyakarta: PT Kanisius, 2019.

Suseno, Franz Magnis, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Arunanta, Lukman Nurhadi, "Baca Pledoi, HRS Bawa-bawa TWK KPK Indikasi Kebangkitan Neo PKI”, 10 Juni 2021, https://news.detik.com/berita/d-5600253/baca-pleidoi-hrs-bawa-bawa-twk-kpk-indikasi-kebangkitan-neo-pki, (diakses pada 12 Juni 2021, pk.20.47).