Kalau kita menggoogling kata "agama", akan menemui banyak penerangan. Walau begitu, untuk mendukung tulisan ini, saya merujuk dari akar bahasa sansekerta, yaitu; a; berarti tidak, sedangkan "gama" bermakna cerai-berai. Jika disatukan maknanya, "agama" memiliki tafsir tidak tercerai-berai. Maka orang yang beragama tentu saja hidupnya teratur dan damai.

Namun realitasnya tidak selalu begitu. Seperti kemunculan kelompok-kelompok yang merasa paling benar pemahaman agamanya sembari bersemangat mengubah kelompok liyan agar sepaham dengannya, adalah fakta sejarah yang berlanjut eksis hingga kini. Pemahaman agama model umat seperti ini, pada tingkat yang lebih ekstrem setuju atau tidak, memang menyumbang porsi jumbo dari akar segala perpecahan. 

Sisi gelap praktik pemahaman kaum beragama misalnya yang mendapat sorotan tajam dari Richard Dawkins dalam karya nonfiksinya The God Delusion. Melalui bukunya itu, Dawkins menguak data sejarah tentang peristiwa berdarah yang berlatar belakang agama. 

Secara sinis Dawkins berujar bahwa banyak terjadi peperangan di belahan dunia yang mengatasnamakan agama. Namun tidak ada orang ateis yang menyeru berperang demi membela ateisnya. 

Kritik tajam Dawkins tentang problem praktik beragama memang harus diakui bahwa fakta sejarah peperangan antar sesama, narasinya banyak yang diwarnai oleh faktor agama. Meski begitu, saya sendiri tidak sepakat dengan isi buku The God Delusion. Sebab selain Dawkins memojokkan agama, juga terang-terangan memprovokasi pembaca untuk menjadi ateis. Tak mengherankan Dawkins banyak mendapat kecaman keras terutama dari kalangan agamawan. 

Buku yang terbit tahun 2006 juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia enam tahun kemudian itu hingga hari ini menuai gugatan. Seharusnya kritik Dawkins tidak menggeneralisasi sisi gelap praktik beragama. Kritik menjadi proporsional jika dialamatkan pada pemahaman agama yang bengkok.

Sudah jamak yang mengetahui bahwa huru-hara dan perpecahan peperangan bernarasi agama bukanlah perkara agamanya, melainkan problem perbedaan pemahaman agama yang diseret-seret oleh para oknum untuk mencapai kepentingan tertentu.

Oleh karena itu, sebaiknya Dawkins memahami juga coraknya tafsir agama yang beragam, lebih-lebih yang menyuarakan kedamaian, kasih sayang, keselarasan. Walau begitu, tafsir agama tetap memiliki kebenaran sesuai dengan konteksnya masing-masing. 

Sebab itu para mufasir paling masyhur sekalipun, tatkala menguraikan suatu teks agama, selalu memungkasi dengan kalimat "wallahu'alam". Seakan para mufasir tak bosan mengajarkan kepada pembaca untuk menghindari pemutlakan tafsir agama.

***

Dalam kehidupan keseharian saja kita nyaris tidak bisa menghindar dari perbedaan. Di lingkup terkecil keluarga misalnya, kita kerap menemukan banyak perbedaan. Entah perbedaan isi pikiran, perasaan dan tindakan. 

Jika setiap anggota keluarga merasa paling benar dan ingin menang sendiri, enggan memahami satu sama lain, maka kehidupan berumah tangga bisa dipastikan kacau. Itu sebab, kualitas pemahaman masyarakat terhadap agama dapat diamati dari jumlah keluarga.

"Rumahku, surgaku" adalah sabda rasulullah Saw menarik diketengahkan di sini. Bahwa surga adalah tempat yang lazim digambarkan pada suatu kehidupan yang berhiaskan ketenangan, kedamaian, kebahagiaan. "Rumahku surgaku" adalah kalimat yang mudah untuk diucapkan, namun untuk mencapainya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Praktiknya akan menemui beragam tantangan realitas perbedaan yang di sisi lain menjanjikan suatu rahmat juga menyimpan potensi konflik . 

Agama islam menginformasikan ihwal perbedaan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dengan ungkapan lain bahwa islam hadir sebagai agama di satu sisi sebagai wahyu ketuhanan, di sisi lain memiliki tujuan memperagakan kasih sayang kepada seluruh alam.

Perbedaan karakter, pemahaman, ras, suku, agama dan lainnya adalah warna-warni ciptaan Tuhan yang tidak perlu terlalu dicurigai apalagi sampai berkeinginan menyamaratakannya. Perbedaan hadir punya maksud sebagai penyemarak sekaligus ujian bagi manusia untuk menjadi hamba yang mulia. 

Di dalam firman-Nya Surat Al Hujurat [49]: 13) menjelaskan: "wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal."

Ayat ini secara gamblang menerangkan pentingnya memahami perihal perbedaan manusia dari berbagai latar belakang kehidupan. Tujuannya agar supaya saling mengenal. Kalau sudah saling mengenal, tentu saja diharapkan saling menghargai, menyayangi dan mencintai. 

Jadi kalau ada penceramah agama dari mana pun dia berasal jika kata-katanya suka merendahkan orang lain, ras, suku lain, agama lain, maka saran saya segera tinggalkan dia.

***

Menurut Surat Al Maidah ayat 48, bahwa "kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. "

Secara tersurat bahwa Tuhan menghadirkan perbedaan supaya manusia berlomba-lomba dalam kebajikan. Artinya, menjalani kehidupan beragama tak perlu banyak tengok kanan-kiri adalah ujian paling nyata bagi umat beragama untuk beristiqomahlah menengok diri sendiri sembari memperbaikinya. 

Secara norma kepantasan, rasanya tidak elegan sibuk mengoreksi pihak lain sementara kekacauan pada kehidupan diri sendiri terabaikan. Ibarat api lilin menerangi kegelapan tetapi dirinya malah hancur sendiri. 

Misi beragama tidak menghendaki demikian. Beragama mengharapkan keselamatan pribadi-pribadi. Praktisnya tentu saja menggunakan ilmu. Jika belum tahu ilmunya, dapat minta petunjuk kepada ahlinya.