Agama adalah ajaran agung yang membawa nilai-nilai luhur yang tidak hanya mencakup persoalan vertikal, hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan juga tentang hubungan horizontal, sesama manusia yang selanjutnya terbingkai dalam terma kemanusiaan.

Dalam konsep agama, kemanusiaan dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap hubungan manusia dengan Tuhannya. Semakin baik hubungan kemanusiaan, maka Tuhan tidak akan segan memberikan nilai yang sangat positif.

Pun sebaliknya, jika nilai-nilai kemanusiaan semakin memudar, maka Tuhan memiliki cara tersendiri untuk memberikan teguran keras kepada umat manusia. Pada titik inilah kita dapat menyadari bahwa unsur ketuhanan dan kemanusiaan adalah bagian integral yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Mari kita merasakan realita jalanan. Di saat sebagian elite politik, para akademisi, ulama, dan sejumlah masyarakat kita sibuk memperdebatkan korelasi agama dan urusan formal kenegaraan, jalanan memiliki kehidupan sendiri yang acap kali absen dari pusat perhatian mereka.

Padahal, sebagian besar kenyataan kerasnya kehidupan manusia terpampang dengan jelas melalui fenomena jalanan di mana jutaan manusia berlalu-lalang, berhimpun, dan – yang paling menyakitkan – tidak saling memedulikan. Perdebatan mengenai penerapan agama secara formal dalam negara menjadi tidak berarti jika kita mengamati betapa hilangnya unsur keagamaan yang sangat mulia itu dari realita jalanan.

Agama, pada akhirnya, tidak diarahkan untuk menyentuh titik paling penting dalam denyut nadi kehidupan manusia. Tentu saja kerangka penggambaran jalanan tidak sepenuhnya mewakili realita kehidupan manusia yang lebih luas dan kompleks. Namun setidaknya, dengan menggambarkan fenomena jalanan, kita mampu melihat dan merasakan sendiri lumpuhnya agama dalam kehidupan manusia. 

Jalanan memiliki kisah yang unik untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kemiskinan, ketidakberdayaan, ketimpangan, serta hilangnya esensi agama. Di banyak titik jalanan kita dapat dengan mudah menemukan anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mencari uang dengan cara mengemis, tanpa lagi mendapatkan kenikmatan mengenyam pendidikan di sekolah.

Mata kita juga akan disuguhkan oleh pemandangan para kaum miskin kota yang mencari nafkah di jalan dengan pendapatan yang tidak pasti. Satu-satunya hal yang pasti bagi mereka adalah bahwa tuntutan hidup kian keras dan banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.

Di sisi yang lain, hati kita bergetar melihat mobil-mobil mewah melintas, sedang di pinggiran jalanan mereka yang lumpuh tidak bisa lagi berjalan dan terus mengharap belas kasih yang tidak selalu mereka dapatkan. Kriminalitas jalanan, seperti pencurian dan perampokan, semakin tidak terbendung seiring dengan himpitan ekonomi yang mengakibatkan banyak kekacauan dan ketakutan di tengah masyarakat.

Alih-alih merasa nyaman dan aman, bahkan orang-orang kini menaruh saling curiga terhadap siapapun yang mereka temui di jalanan.

Yang menjadi pertanyaan penting untuk diajukan adalah: di manakah agama integral yang sarat dengan esensi ketuhanan dan kemanusiaan itu? Jalanan seakan tidak membutuhkan ajaran agama sekalipun ia sangat bersinggungan sekaligus cenderung berseberangan dengan ajaran keagamaan.

Kemanusiaan yang diusung oleh agama menjadi mandul ketika tidak banyak pemeluk agama yang memberikan perhatian khusus terhadap fenomena ini. Orang berlomba-lomba untuk memperbanyak zikir, tetapi menutup mata dari seruan paling esensial dari agama: menjunjung tinggi kemanusiaan.

Fenomena yang mengiris hati itu nyatanya tidak mampu mengetuk hati terdalam banyak orang untuk bergerak menyelamatkan kemanusiaan dari belenggu kerasnya kehidupan. Ke mana kah agama? Atau lebih tepatnya, ke manakah para pemeluk agama? Bukankah penduduk negeri ini mayoritas adalah pemeluk agama?

Kritik paling keras terhadap ritualitas keagamaan yang tidak membuahkan kerja praksis sesungguhnya pernah dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan, seorang tokoh pendiri organisasi Muhammadiyah. Suatu ketika, dalam forum pengajian yang diasuhnya, muridnya mengajukan protes mengapa kajian terhadap Surat Al-Ma’un tidak kunjung usai padahal sudah berkali-kali dibahas.

Namun murid itu diam seketika saat KH. Ahmad Dahlan bertanya apakah murid tersebut sudah memberi makan orang yatim sebagaimana diajarkan oleh Surat Al-Ma’un. Sikap dan pemikiran KH. Ahmad Dahlan menjadi amat penting untuk diteladani di tengah merosotnya kerja praksis keagamaan yang sebenarnya justru menjauhkan agama dari esensi utamanya.

Agama menjadi kian terpuruk ketika tidak sanggup lagi memberikan dampak perubahan yang berarti bagi manusia dan kemanusiaan. Tentu saja bukan agama yang harus bertanggungjawab, melainkan para pemeluknya yang harus menyadari sepenuhnya bahwa ajaran luhur keagamaan harus direalisasikan melalui praktik-praktik kemanusiaan.

Kemanusiaan memiliki lingkup yang amat luas seluas kehidupan manusia itu sendiri. Kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan – yang semuanya dapat kita saksikan dalam realita jalanan – adalah luka menganga yang sampai saat ini terus menggerogoti tubuh kemanusiaan. Justru pada kondisi inilah agama hadir untuk menyelematkan kemanusiaan dari keterpurukannya.

Agama dan ajarannya menjadi obat yang diharapkan ampuh untuk menyembuhkan luka-luka itu. Agama mengajarkan untuk senantiasa melindungi fakir miskin, memberi makan orang yatim, melindungi hak-hak kaum tertindas, memberikan hak yang luas untuk menuntut ilmu, serta memberikan ajaran untuk membantu pengentasan kemiskinan.

Kenyataan yang terjadi menunjukkan sebaliknya di mana agama tidak menempati tempat yang sesungguhnya. Malah bagi sebagian kelompok, agama menjadi alat (tool) untuk tujuan pragmatis, baik itu kekayaan maupun kekuasaan.

Agama sudah semestinya hadir kembali untuk membawa perubahan bagi kebaikan kemanusiaan. Segala luka kemanusiaan yang tergambar melalui realita jalanan haruslah menjadi fokus bagi agama untuk terus bertransformasi menjadi kekuataan praksis yang efektif. Tuhan telah memberikan ajaran yang agung dan abadi. Manusialah yang kini harus menerjemahkan ajaran yang agung itu ke dalam bentuk praksis yang nyata.

Penulis berkeyakinan, apabila agama benar-benar kembali dihadirkan sebagai semangat dan pedoman perubahan yang baik, maka kita akan menjumpai realita jalanan kehidupan yang menakjubkan, di mana segala luka kemanusiaan telah lenyap dan berganti menjadi pemandangan indah kenyamanan dan kesejahteraan.

#LombaEsaiKemanusiaan