Mahasiswa
10 bulan lalu · 118 view · 4 menit baca · Agama 51795_89521.jpg
cakrawalaide.com

Agama dan Radikalisme

Akhir-akhir ini sedang marak diperbincangkan mengenai isu terorisme baik di televisi maupun media cetak. Berawal dari beberapa kejadian bom bunuh diri yang terjadi di beberapa tempat di pulau Jawa, khususnya di Kota Surabaya.

Pagi hari itu 13 Mei 2018 terjadi 3 ledakan dengan 3 tempat yang berbeda. Ledakan yang pertama terjadi pada pukul 06.30 tepatnya di gereja Santa Maria.

Kemudian disusul ledakan yang kedua sekitar pukul 07.15 di jalan Diponegoro tepatnya di gereja kristen Indonesia. Disusul lagi pada pukul 07.53 di gereja pantekosta di jalan Arjuno.

Kejadian itu sempat menghebohkan tanah air. Rasa takut ketika berpergian ke mana-mana mulai muncul di benak setiap orang. Dan Islam menjadi agama yang disimbolkan dengan hal itu.

Padahal tidak seperti itu. Melalui tulisan ini, saya akan coba meluruskan pandangan orang terhadap Islam dan teroris dan bagaimana solusinya.

Zaman kita sekarang ini memang zaman bekelimpahan, baik dari sisi apa pun itu terlebih khusus dari sisi teknologi informasi. Seperti yang dibahasakan oleh Ranggawarsita bahwa zaman kita ini adalah zaman kalabendu.

Tekanan hidup terus muncul menerpa semua golongan, baik dari yang berkecukupan maupun yang tidak berkecukupan.

Dalam hal ini agama dan spiritualitas seharusnya menjadi tempat sandaran bagi orang-orang tapi justru malah menjadi tersingkirkan

Hanya karena akibat dari kemajuan sains dan teknologi orang-orang mulai mencari kebahagiaan di situ dengan harapan bisa membantu menompang hidupnya. Tetapi justru hal tersebut meninggalkan kehampaan psikologis dan spiritualitas seseorang.

Inilah zaman yang ditandai dengan gejala postmodernistik. Zaman postmodernistik menandai perubahan dari pengaruh menentukan agama dalam kehidupan menuju penguatan terhadap sekularisme.

Frustasi yang terus lahir dalam pribadi seseorang bisa mengakibatkan lahirnya paham fundamentalistik yang bisa melahirkan paham radikalis dan terorisme.

Seperti yang dibahasakan oleh Noor Huda Ismail bahwa ada 3 faktor yang menyebabkan seseorang terlibat dalam kekerasan atau terorisme yaitu, individu yang termarjinalkan, ideologi yang membenarkan, dan kelompok yang memfasilitasi.

Untuk menekan itu semua, penulis rasa harus ada suatu paham keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit orang-orang seperti ini.

Penulis juga merasa bahwa pemahaman bersifat sufistik atau mistisisme bisa membantu membuka pandangan orang-orang fundamental seperti ini. Atau lebih tepatnya bisa menjadi penenang bagi mereka.

Karena paham mistisisme bisa menekan seseorang untuk lebih dekat kepada tuhannya, akibatnya seseorang bisa merasa lebih tenang dan tentram dari pada sebelumnya

Sekiranya ini bisa menjadi suatu perhatian khusus bagi pemuka agama untuk bisa mengambil peran melawan hal-hal seperti ini.

Kasus seperti aksi terorisme juga banyak terjadi karnea banyak kesalahpahaman dalam kaum fundametalistik. Salah satunya adalah kesalahan dalam memaknai maksud atau perintah dalam Alquran itu sendiri.

Maka, lagi-lagi ditekankan bahwa sebelum seseorang itu beriman maka dia harus berilmu dulu. Percuma saja jika hari ini seseorang mempunyai keimanan dan ketakwaan yang tinggi kepada tuhannya tetapi dia tidak berilmu.

Aksi terorisme seperti yang telah dijelaskan di atas itu akan terus terjadi apabila sekelompok orang selalu menganggap bahwa hanya paham mereka yang paling benar.

Akibatnya akan terjadi aksi saling mengkafirkan antara satu dengan yang lain hanya karena berbeda ideologi. Hal itu bisa membawa dampak buruk, salah satunya bisa memecah belah umat beragama.

Padahal sejatinya Allah menginginkan perdamaian dan persatuan antar sesama manusia bukan justru melakukan perpecahan atau konflik. Tapi justru orang-orang yang tidak berilmu mengatakan bahwa jika mereka membunuh orang kafir maka mereka telah berjihad di jalan allah dan surga adalah balasan bagi mereka.

Untuk masuk lebih dalam, perlu kita ketahui makna jihad itu sendiri. Alquran tidak memakai istilah jihad jika menunjuk pada peperangan melainkan menggunakan istilah qital.

Perlu diperhatikan, qital itu masih dibatasi oleh batasan dan kondisi tertentu. Sementara jihad adalah sesuatu yang pada dasarnya baik dan mengacu pada keadilan, kebenaran, mutlak dan tak bersyarat.

Bahkan dalam Islam, perintah berperang selalu dikaitkan dengan perintah agar tidak melampaui batas, selalu memaafkan, dan mendahulukan perdamaian. Allah menegaskan dalam Alquran surah al-baqarah ayat 216 bahwa diwajibkan atas kamu berperang padahal sesungguhnya kamu membencinya.

Di sini terlihat jelas bahwa Islam adalah agama yang memandang peperangan hanya sebagai pengecualian.

Salah satu ayat yang sering dipakai untuk menunjukan sifat kekerasan, pemaksaan dan intoleransi adalah ayat tentang perintah membunuh orang kafir yang terdapat dalam surah at-taubah ayat 5 yang berbunyi:

“Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS al-taubah [9]:5)

Perlu diketahui, jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, akan terlihat bahwa Allah melarang kita untuk melakukan kekerasan dan Allah membuka kembali izin perang setelah bulan muhharram. Cukup membingungkan?

Menurut para ahli tafsir, semua itu hanya berlaku jika syarat umum kebolehan memerangi ada, yakni bahwa mereka terus melakukan agresi atau penindasan.

Telah jelas, bahwa perang dalam Islam hanya sebagai pengecualian yang didasarkan pada keadilan untuk membela sebuah kebenaran.

Dan menurut Seyyed Hossein Nasr, ada beberapa syarat kebolehan berperang dalam Islam. Pertama untuk melindungi dan menegakkan agama, yang kedua tidak terbatas melindungi agama Islam saja, tapi juga Kristen, Yahudi, shabi’in, dan lain-lain.

Sebab, mereka yang bukan non-Muslim juga tidak bisa langsung dikatakan kafir (baca tulisan saya sebelumnya).

Tang ketiga, perang hanya boleh untuk membela diri dari agresi musuh.

Kiranya kita selaku manusia harus banyak belajar lagi dalam memaknai hal-hal seperti ini. Salahkan orangnya, jangan salahkan agamanya. Tidak ada agama yang membolehkan untuk melakukan aksi kekerasan atau terorisme