Mahasiswa
2 tahun lalu · 157 view · 4 menit baca · Politik 88854.jpg
Twitter

Agama dan Politik Punya Arahnya Sendiri

Tentang Pilkada DKI 2017

Agama. Belakangan identitas yang bersifat intim ini turut diperbincangkan. Bagaimana tidak, kalau kita sering melihat layar kaca televisi bahkan sehari saja tidak ada chanel TV yang tidak menyuguhkan hal ini. Sejak aksi kampanye yang dilakukan Ahok di Kepulauan Seribu yang digadang-gadang “menista agama” itu terus diolok-olokkan beberapa pihak yang sepertinya tidak senang dengan pencalonannya di Pilkada DKI Jakarta Februari silam. 

Apa yang Ahok katakan tidak lebih hanya sekadar luapan emosinya yang mungkin pihak lawannya berusaha menyerangnya dengan memakai Al-Maidah 51 yang tertulis “Janganlah sekali-kali engkau memilih Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpinmu...” tak lebih dan tak kurang yang digerakkan untuk bukti tertulis dari Al-Qur’an yang mereka gunakan sebagai bentuk upaya pihak lawan yang ingin menjatuhkan Ahok dari Pilkada 2017. Itu sungguh salah.

Betapa ironinya mereka yang ingin menjatuhkan lawan dengan menyambit agama sebagai bentuk upaya sublimasi yang menghiraukan nilai-nilai suci Islam itu sendiri. Jikalau saya jadi Ahok pun, saya mungkin sudah berang. Luapan yang diucapkan Ahok di Kepulauan Seribu tak khayal ialah ingin mengubah paradigma masyarakat Jakarta bahwa jangan sampai terhasut dengan dia (Anies) yang ialah demagogi kelas tinggi tetapi nihil atas realitas lapangan. Jangan sampai.

Euforia Pilkada DKI kali ini pun tidak hanya jadi fokus warga masyarakat Jakarta saja, hingga hampir ke seluruh NKRI. Bagaimana tidak? Saat ada upaya demo atau sering disebut Aksi Damai 411 menyita perhatian seluruh umat Islam di Indonesia (juga mancanegara). Gerakan yang diprakarsai oleh seorang Rizieq Shihab beserta anggota genk nya (FPI) berhasil menjadi hegemoni publik Jakarta tepatnya sekitar bundaran HI.

Gerakan ini tidak hanya ingin menjatuhkan Ahok dari kursi jabatannya bahkan juga bertujuan memenjarakannya agar tidak bisa ikut bertarung di Pilkada 2017. Menurut saya ini ialah suatu hal yang sedikit lebay (berlebihan) mengapa? 

Sebab mereka benar-benar berkampanye sebelum pada saatnya. Massa yang hadir pun seperti mengingatkan kita pada 1998 lampau saat rezim Soeharto mengalami kehancuran yang didesak oleh mahasiwa. Aksi 411 ini terkesan seperti memenggal rasa persatuan dan kemajemukan yang mengikat Indonesia sejak lama hanya karena perbedaan tipologi yang terlalu bebal. Masyarakat Islam kita patutnya lebih banyak belajar toleransi lagi agar lebih bisa membuka mata jauh ke depan.

Sampai sekarang sidang Ahok atas dugaan penodaan agama pun masih dilangsungkan. Nasib Ahok sedang dipertaruhkan, namun Ahok tetap bersikeras berupaya untuk tetap bisa duduk di kursi DKI. Saya masih terpelanga, bagaimana bisa seorang yang katanya berpendidikan tinggi seperti Anies tersebut berupaya untuk menghalalkan cara yang bersifat intimasi dan personal untuk mencari hati orang yang terbodohi oleh rayuan maut Anies.

Spanduk yang berlatar belakang tulisan melarang menyolatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama ialah contoh taklid buta yang menyesatkan dibuat oleh timses nomer 3 itu. Bahkan saat ditanya pada acara Mata Najwa Debat Jakarta kemarin (27/3) Anies hanya bisa menyebutkan bahwa itu ialah suatu bentuk provokasi yang tak bertanggung jawab dengan membawa nama timnya dan ia dengan serta merta berupaya menjelek-jelekan Ahok dengan segala ‘fitnah’nya. Lantas, apakah Anies sudah kehabisan akal dan trik nya untuk memenangkan Pilkada ini? Itu pertanyaanya.

Memang, selama ini hegemoni Anies-Sandi bersifat dan lebih berpihak ke satu kalangan masyarakat (kaum muslim) sahaja, ya alasannya tidak pelik untuk dijawab sebab dengan mengambil potongan ayat suci saja dan menambah embel-embel akan masuk “neraka” jika memilih pemimpin non-muslim niscaya masyarakat lantas terbelenggui dengan paradigma lemah tersebut. Sungguh trik yang terkesan haus akan kekuasaan.

Kalau kita berbalik ke belakang, ungkapan Anies yang sempat mengatakan bahwa ia cukup menyesali mengapa Pak Prabowo Subianto seakan berpihak kepada heterogenitas dan pluralisme yang ada di Indonesia tetapi ia malah merangkul dan mengakomodasi kelompok ekstremis seperti FPI. Tetapi pada prakteknya seorang Anies menjilat ludahnya sendiri. 

Ia malah dengan riang dirangkul oleh Prabowo pada saat penentuan pasangan Sandiaga Uno untuk bertarung di Pilkada ini. Lagi, tak hilang dalam ingatan bahwa FPI dengan bahagianya menyebut Anies merupakan pemimpin yang selama ini ditunggu-tunggu dan semua umat muslim patut dan harus memilihnya. Betapa tipisnya urat malu Anies dan betapa banyaknya jumlah air liur yang ia punya.

Anies ialah sosok leader yang bersifat keberpihakan golongan, dengan segala upayanya ini sungguh membuktikan kalau Anies hanya bisa beretorika tetapi sedikit praktik yang benar nyata, memasukkan nilai-nilai intim agama demi kepuasan politik belaka, bersikap lempar batu sembunyi tangan dengan mengeyahkan toleransi yang selama ini tercipta di tanah air tercinta. We finally know who you are, Sir.

Kembali ke Ahok, mengapa sedikit masyarakat yang benar-benar sudah membuka mata dan telinganya untuk percaya dengan integritas yang sedang Ahok miliki? Beberapa alasan bisa membuktikannya, nyatanya saja masyarakat Jakarta sekarang sudah banyak yang cerdas dalam hal berorientasi masa depan dan meninggalkan kepercayaan lapuk yakni sebagai Muslim hanya harus memilih pemimpin seiman walaupun kita tahu bahwa ada yang lain tak seiman namun jauh lebih baik. Prinsip ini sudah mulai banyak diterapkan masyarakat Jakarta untuk memilih seorang pemimipin bukan pemimpi.

Jikalau memilih seorang pemimpin non-muslim itu haram, bagaimana dengan saudara Muslim kita di Amerika, Jerman, Swedia, Prancis, dan berbagai negara dengan Islam ialah agama minoritas? Apakah mereka tidak bisa dan tidak punya hak untuk bersuara? Apakah agama selalu menjadi prioritas utama? Dan sampai kapan agama selalu dipolitisasi? 

Seorang pemimpin dikatakan seorang pemimipin apabila seluruh hak masyarakatnya terpenuhi jasmani dan rohani bukan serta merta memberi janji manis pada orasi dan berpura amnesia bila terpilih. Karena kita butuh pemimpin yang mengayomi dan melindungi seluruh kalangan masyarakat bukannya menyenangi satu golongan tertentu, dan berikan amanah kepada yang mampu, teruji dan terbukti, tidak berambisi serta tidak meminta jabatan.

“Sesungguhnya kami tidak memberikan kepada yang meminta dan juga tidak memberikan kepada yang berambisi.” (Abu Musa)

“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (Bukhari)