Beberapa minggu terakhir, jagat Indonesia dibuat gaduh oleh pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi, yang mempersoalkan tentang agama dan Pancasila. Pernyataan beliau yang dimaksud adalah bahwa “agama merupakan musuh Pancasila”.

Seketika pernyataan beliau tersebut banyak menuai gaduh di bumi Nusantara. Berbagai organisasi keagamaan serta elemen masyarakat mengkritik dan menentang pernyataan beliau yang dinilai sangat kontroversial.

Berbagai kritikan mencuat ke permukaan, terutama dari para pemuka agama. Para pemuka agama menilai bahwa tidak seharusnya keluar pernyataan begitu dari seorang kepala pembinaan ideologi Pancasila, sebab hanya akan menimbulkan keresahan dan penentangan terhadap pernyataan tersebut. Bahkan tak sedikit juga ada pihak yang menyebutkan bahwa pernyataan tersebut terkesan menyesatkan.

Dengan melihat kondosi negeri saat ini, yang mulai sering berbenturan antargolongan, semestinya dijauhkan dari pernyataan-pernyataan seperti itu. Perdebatan seperti ini hanya akan menguras banyak tenaga, pikiran, dan perasaan yang cenderung sia-sia. 

Di sisi lain, bahwa pernyataan seperti ini juga hanya akan melukai kelompok tertentu, terutama bagi kelompok yang berpegang teguh pada ajaran agama mereka.

Sebagai seorang yang mengerti akan situasi dan kondosi bangsa seperti saat sekarang ini, mestinya kelompok masyarakat dijauhkan dari pernyataan-pernyataan demikian yang sewaktu-waktu hanya akan menimbulkan perbedaan pandangan yang sebenarnya pandangan seperti itu sudah sejak cukup lama selalu dipertentangkan.

Pernyataan bahwa “agama adalah musuh Pancasila” oleh Prof. Yudian mungkin bermaksud baik, dan memiliki pemaknaan tersendiri, menurut pandangan beliau. Hanya saja, pemahaman setiap orang akan berbeda-beda. Masyarakat akan mencerna serta memahami dengan mudah apa yang berdasarkan konteks.

Sebab, masyarakat saat ini sudah teramat letih dengan bahasa yang terlalu tinggi dan menuntut akan nalar dan pemikiran tinggi yang mungkin hanya dapat ditangkap oleh segelintir orang yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi pula.

Bila pada akhirnya beliau mengklarifikasi bahwa dia tidak bermaksud untuk mempertentangkan agama dengan Pancasila, namun yang dimaksud bahwa musuh Pancasila adalah ‘minoritas yang mengeklaim dirinya sebagai mayoritas umat beragama’, namun pernyataan ini sebenarnya juga bisa menimbulkan pertanyaan yang baru, bahwa siapakah ‘minoritas’ yang dimaksudkan beliau itu’?

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ‘pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan persoalan terkait agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman yang sempit dan ekstrem, padahal mereka itu minoritas’. Maka, sekali lagi, pertanyaannya ialah siapakah mereka yang ‘minoritas’ itu?

Dalam berbagai forum, baik itu seminar dan diskusi, sudah sangat sering dibahas tentang tema korelasi antara agama dan Pancasila. Pembahasan forum seperti ini sudah sering dibahas sejak Pancasila dijadikan sebagai dasar ideologi negara.

Beberapa kesimpulan yang biasa disampaikan dan termuat dalam buku-buku kebangsaan, bahwa agama dan Pancasila merupakan dua hal yang telah melekat dalam nilai-nilai kultur masyarakat Indonesia. Sama sekali antara keduanya, agama dan Pancasila, tidak bertentangan. Justru antara agama dan Pancasila itu sejalan, karena nilai-nilai yang termaktub dalam setiap ajaran agama terjewantahkan dalam sila-sila Pancasila.

Karena, pada hakikatnya, Pancasila merupakan rumusan untuk mewujudkan nilai-nilai agama dalam konteks berbangsa dan bernegara. Esensi dari Pancasila itu sendiri sangat religius dan agamis, sehingga sama sekali tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Pancasila tidak sejalan dengan agama, atau bahkan menyatakan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila.

Maka sangat tidak mungkin bisa dicerna oleh akal sehat jika dikatakan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila. Justru Pancasila sejalan dengan nilai-nilai agama, bahkan nilai-nilai agama dijabarkan dalam sila-sila Pancasila untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai seorang pejabat publik dan bahkan ketua dari lembaga ideologi Pancasila, justru lebih diharapkan untuk memberikan pemahaman yang mendalam terkait falsafah Pancasila sebagai ideologi negara, agar negara yang kita cintai bersama ini tidak mudah diadu domba dan tidak mudah tercerai-berai. Bukan malah memberikan pernyataan yang gaduh terkait Pancasila.

Maka sebaiknya, sebisa mungkin para pejabat-pejabat publik menghindari pernyataan-pernyataan yang bisa saja menimbulkan banyak pertentangan, yang dalam pertentangannya hanya akan menguras banyak energi yang sia-sia dari seorang pejabat publik.

Mengingat masih banyak hal lain yang lebih penting untuk kita permasalahkan di negeri ini, seperti masalah korupsi, keadilan, persatuan, kemanusiaan, kemiskinan, dan sebagainya. Masalah-masalah itulah yang sebenarnya menjadi musuh terbesar bagi Pancasila. Itu pulalah yang sebaiknya mesti dipermasalahkan, untuk mencari titik terangnya.