12567_60877.jpg
Ilustrasi: i.pinimg.com
Budaya · 3 menit baca

Agama dan Lingkungan Saya

Karena seseorang tidak pernah terlihat salat, maka dia tidak salat. Kata-kata itu yang sering ditujukan oleh rekan-rekan di lingkungan kerja terhadap saya yang tidak pernah terlihat melakukan praktik ritual keagamaan di sana. 

Untuk berada di lingkungan kerja yang berisi orang-orang yang “rajin” dalam melakukan ritual keagamaan dengan kondisi saya saat ini, intrik, kritik, dan terkadang ceramah-ceramah khusus untuk diri saya dilontarkan. Saya menanggapi masalah tersebut dan cenderung menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepada saya dengan jawaban nyeleneh dan bercanda.

Sebenarnya tidak masalah jika orang bisa menilai dan menerima sesuatu berdasarkan apa yang dia lihat. Hanya saja, jika dalam hal yang lebih luas ini akan menjadi masalah. Katakanlah jika saya dengan pola pemikiran yang sama bertanya mengapa Anda percaya Tuhan ada, sedangkan saya dapat memastikan kalau Anda tidak pernah melihatnya? Yang terjadi adalah rentetan jawaban yang tidak konsisten.

Masalah keberagamaan kita masih jauh dalam konteks “dewasa”. Kita masih berada dalam kondisi di mana ukuran kebenaran yang kita gunakan dalam menilai sesuatu adalah apa yang dilakukan oleh kelompok tertentu. 

Akibatnya, jika seseorang berbeda dari suatu kelompok, maka dirinya dinyatakan tidak religius atau bahkan mungkin kafir. Akhirnya agama hanya dilihat dalam konteks legal formal, bukan dalam tata nilai ideal yang membawa kita ke dalam kehidupan yang lebih harmonis.

Pola pikir tersebut membawa beragam permasalahan di dalam kehidupan kita di masyarakat yang sejatinya plural ini. Pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan dari yang terkecil sampai masalah kenegaraan justru dilakukan oleh oknum-oknum yang secara kesehariannya menjalankan ritual peribadatan secara konsisten. 

Seorang yang saya kenal lulusan pesantren dan memiliki suara yang indah saat melafalkan ayat-ayat Alquran rela melewati trotoar yang seharusnya diperuntukan bagi pejalan kaki dengan alasan lebih cepat. Padahal dalam Islam dikenal konsep keadilan dan lawan dari adil adalah zalim.

Adil dalam NDP HMI memiliki pengertian meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya, dan zalim adalah kebalikannya. Dari definisi tersebut, dapat kita lihat inkonsistensi rekan saya tersebut. Satu sisi dalam kehidupan religiusnya dia dapat dikatakan yang tertinggi, namun rela menjadi zalim dengan alasan mengejar waktu.

Seorang lain yang saya kenal rajin melakukan peribadatan dan selalu membaca buku berisi lafal doa panjang yang entah apa namanya, menegur seorang (yang dianggap) bawahannya dengan sikap yang sangat tidak etis dan cenderung merendahkan. 

Terkadang sifat kapitalistik juga diperlihatkannya ketika dia memberi perintah terhadap rekan-rekan kerjanya. Hal ini justru sangat bertentangan dengan konsepsi Islam yang menyatakan bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan dan hanya dibedakan dalam kualitas taqwanya.

Ada juga salah satu rekan yang rajin menjalankan puasa sunah, memiliki yayasan untuk anak yatim dan sebagainya, sibuk mengurusi orang lain dan selalu bersikap sinis terhadap kondisi-kondisi yang ada, serta sibuk membicarakan kebaikannya terhadap orang lain. 

Terkadang beliau juga tenggelam dalam “keluh kesah” atas kondisi ekonomi yang serba kurang. Padahal terdapat lebih dari 100 juta jiwa di luar lingkungan ini yang nyatanya tidak mendapat kesempatan yang sama. Akibatnya, agama hanya sebagai dagangan dalam usaha mencapai kemakmuran. Miris.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Saat ini agama menjadi suatu hal objektif yang hanya mengurusi ritual dan dogma-dogma objektif. Dalam pengertian ini, agama hanyalah mengenai masalah peribadatan. 

Apa yang diajarkan agama dalam pengertian tersebut hanyalah sebatas dogma-dogma sebagai suatu hal mutlak dan diperparah dengan penerimaan buta oleh para penganutnya. Ketidakpedulian dalam dimensi penghayatan keberagamaan menyebabkan agama-agama tersebut menjadi sebuah trend yang populer di mana penilaian terhadap orang yang tidak mengikuti konsepsi tersebut dianggap tidak religius atau bahkan kafir.

Telah disinggung sebelumnya bahwa ukuran masyarakat kita dalam menilai sesuatu adalah secara kolektif. Artinya, penilaian tersebut ditentukan oleh apa yang dilakukan oleh kelompok tertentu. 

Hal ini sama seperti apa yang disampaikan Hegel bahwa hal-hal yang bersifat kolektif lebih tinggi dan lebih riil daripada yang partikular atau individual. Padahal cara berpikir tersebut mereduksi manusia dalam (apa yang disebut Kierkegaard sebagai) “crowd”-nya.

Menurut Kierkegaard, dalam masyarakat seperti sekarang ini, The Crowd menenggelamkan individu, sehingga seseorang menganggap tidak mampu untuk hidup jika terpisah dari the crowd tersebut. Akhirnya seseorang tidak dapat untuk menjadi dirinya sendiri, bahkan malah merasa nyaman dengan konsepsi yang tidak jelas. 

Hal ini bukan membawa manusia dalam kebaikan, tapi justru membuat manusia kehilangan ontetisitasnya. Dalam bahasa yang lebih ekstrem, manusia telah terpisah dari kondisi kemanusiaan yang seutuhnya.

Jika ini terus dibiarkan, bukan kehidupan harmonis yang kita dapatkan, malah justru kehancuran. Maka hal yang paling mungkin dilakukan untuk mengembalikan kondisi kemanusiaan kita pertama adalah memandang agama tidak hanya dalam konteks ritual semata, melainkan juga dengan refleksi kritis terhadap apa yang kita terima. Sikap menerima dogma secara buta membawa kita pada pengkultusan baru terhadap objek yang seharusnya tidak perlu disakralkan.

Yang kedua adalah melihat sisi lain dari agama itu sendiri, yaitu sisi sosial. Seharusnya konsistensi dalam menjalankan ritual keagamaan memiliki dampak positif pada kehidupan sosial, sehingga cita-cita kemanusiaan dan keberagamaan kita dapat tercapai.