Peristiwa busuk, dan pertikaian pekik yang dilakukan oleh manusia akhir-akhir ini. Tiada lain, lantaran hak-haknya seorang manusia tidak lagi mengenal dirinya. Apa yang seharusnya dikonsepsikan oleh Tuhan, hukum dan agama. Namun tidak lagi diamini dalam batin. Kenapa mereka harus mencoba?

Padahal mereka tahu, bahwa hak kebebasan, dan kemutlakan itu sifatnya absah-absah saja. Dan itu bisa terjadi pada siapapun, kapanpun pada manusia. Tidak boleh itu dilakukan dan dilanggar! Itu hukum Tuhan.

Sebab Jhon Lock menilai, “apa yang dianggap baik itu adalah dasarnya baik, dan apa yang anggap buruk itu tetap buruk”.

Namun karena atas dasar kekejaman, kepekikan, dan kekejian manusia itu sendiri. Hal-hal yang mengeruk, dan sifatnya baik tadi (sakral) berubah menjadi lunak.

Dengan maksud mereka. Boleh dilakukan, asal itu sifatnya nan–menyenangkan hati. "Sangat menjijikkan sekali bagi saya". Karena saya meniti, sudut pandang, dan produk pikiran mereka itu terletak pada kekalutan moral, dan kehancuran agama. Sebab tanpa modal agama, kita akan berkamuflase tinggi. Namun bernilai rendah,—kotor, busuk, sampah, dan bejat. 

Sungguh miris sekali! Ini yang kemudian saya telisik, bahwa perihalnya—idil kekerasan seksual, pelecehan moral, pencabulan anak, dan seksualitas bebas. itu semua berpengaruh buruk pada efek pertumbuhan dan perkembangan anak.

Seorang anak yang seharusnya dipayungi oleh kekuasaan dan hak prerogatif hukum, dan agama. Kini mereka maraknya semakin liar. Hak-haknya dirampas, kebebasan ditindas, dan kemerdekaan diberangus atau dibungkam.

Semua yang mereka pakai dalam tubuh keelokan, dan kekuasaan dirinya. Sudah menjadi mantel, dan kenikmatan para "Pelayan Tuan".

Apa ini yang saya definisikan sebagai negara budak, islam, sekuler, sosialis, dan komunis? Tentu iya.

Sebab saya meniti banyak sekali kasus, yang terjadi di kabupaten Bima, dan Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) hari-hari ini. Di Donggo misalnya, kasus-kasus kekerasan seksual, dan pencabulan anak,  hingga memalukan itu. Sungguh pekik,  busuk, dan fasik dalam soal kemanusiaan, dan kesusilaan.

Sebab yang saya maklumi selama ini. Donggo itu di identik dengan kental nilai tradisi, hukum, adat, agama, dan kesukuan. Tetapi, apa yang terjadi? Kini semakin bias, dan tenggelam pada kehancuran, dan kesucian manusia. Begitu pula dengan kabupaten Dompu, semuanya sama.

“Kalau peristiwa ini terus berkecamuk, berilir, dan bergejolak kembali, Kata; Zalaludim Rumi”.

Saya katakan; akan merusak moralitas, agama, sosial, maupun nilai kemanusiaan kita. Karena, selama ini, biang kerok daripada hancurnya agama adalah “pecahnya nilai moralitas dan ketahanan masyarakat”.

Maka tidak salah bagi kita untuk menegasi kembali. Bahwa idilnya kebusukan, kebejatan, dan kecacatan manusia itu akan merendahkan harkat, dan martabat pribadi manusia.

Sebab yang saya tahu ini,  adalah “negara berfollower muslim”. Bukan negara “berpenduduk komunis”. Yang sangat mudah sekali, membebaskan agama tanpa adanya suatu hukum Tuhan yang mengikat. Bagi mereka; agama, dan kebebasan moral itu adalah musuh. Jadi, harus dimusnahkan dan dimatikan di bumi ini. Bila perlu dihabisi ke akar-akarnya.

Itu ‘kan dadil, dan tindakan yang mereka mau. Yakni, menjadikan segala hal itu bebas dilakukan, dengan tanpa harus adanya sumber hukum yang mengekang, atau mengikat.

Sekali lagi! Mohon di headline apa yang saya maksud ya’! Hukum, dan agama itu difungsikan oleh Tuhan untuk memperbaiki kebebasan moralnya manusia. Bukan mengutuk keras manusia. Tanpa hukum, bagi manusia itu kebebasan. Tetapi, apabila kebebasan tanpa larangan itu kezoliman, dan ketertindasan.

Mungkin ini yang dimaksud oleh Hillias, yang mengatakan hukum adalah “Sang Pemerkosa Dunia”. Pasalnya begini; apa yang dipertentangkan manusia akan menolak hukum alam.

Pokoknya, manusia itu idil dan bin ajaib tabiatnya. Apa saja yang dipandang berguna. Namun kerap kali nihil 'keauntetikan'—atau kebenaran akan maknanya. Demikian juga yang terjadi dengan alam. Selalu menyisihkan sajian yang berbeda. Tetapi menu, nilainya berlawanan.

Persis yang di ilusikan oleh Hitler. Dunia ini dalam 'takaran dan kultur biologisnya' adalah pertikaian, pemberontakan, dan perlawanan (geometri). “Hanya bekerja, yang menurut instin dan kebiasaan semata”.

Namun tidak tahu makna akan existensinya, keberadaan dirinya. Hippias menyebutnya itu sang pemerkosa alam. Karena dunia, hukum kita tanpa sebab di anggap menyimpang daripada segala filosofi pemahaman, dan keilmuan.

Dalam memaknai ini. Tentunya, kita harus menggelitik, dan teliti lebih dalam, radikal pada pikiran. Kalau tidak! Kita akan mudah terpeleset menolak kemutlakan, tanpa kebenaran.

Sebab mereka menilai sesuatu yang terjadi tanpa sadar, dorongan, atau dengan sendirinya adalah dugaan. Bukan fakta, bukan kebenaran, dan bukan realita. Namun, melainkan itu semua adalah skenario pikiran, iluminatif jiwa, dan pemahaman skeptis kita. Yang memang beruntun menolak "sebab dari hukum akibat" itu sendiri. Kenapa?

Karena dari hukum, dan sebab-sebab akibat itulah. Kita akan berfikir "lebih detail, komplex" bahwa kehidupan "tanpa makna" adalah sia-sia (Nihilis). Dan kebenaran tanpa fakta adalah kebohongan. Dalam artian. Kita lebih bodoh menerima keadaan daripada kenyataan.