40065_14406.jpg
Agama · 4 menit baca

Agama dan Ideologi

Saya tidak percaya yang mendorong Dita Oeprianto bersama keluarga meledakkan diri di tiga gereja berbeda di Kota Surabaya adalah agama. Agama tidak punya perangkat sekuat itu. Agama hanya punya perangkat berupa perintah dan larangan bagi manusia, yang konsekuensi dari keduanya bersifat imaterial: menjalankan perintah mendapatkan pahala, melanggar larangan diganjar dosa.

Mungkin dalam situasi tertentu agama memerintahkan perang, namun itu saja banyak catatannya. Mulai dari karena terpaksa untuk membela diri, sampai larangan-larangan di dalam perang: dilarang membunuh orang tua dan anak-anak, dilarang merusak rumah ibadah, dilarang merusak bangunan, dilarang memaksa orang untuk masuk Islam, dst.

Nabi bahkan disebut hanya berperang selama 80 hari dari 8.000-an hari yang menjadi misi dakwahnya. Itu pun, lagi-lagi, karena terpaksa.

Secara esensial, para nabi juga diutus hanya untuk memberi peringatan bagi manusia untuk beriman kepada pencipta alam semesta dan kepada hari akhir. Lebih dari itu, tidak. Agama bahkan memberi kebebasan kepada manusia, apakah beriman atau sebaliknya. Risiko ditanggung masing-masing. Dengan corak yang demikian, mustahil agama mampu menggerakkan penganutnya melakukan aksi teror.

Oleh karena itu, kekuatan untuk bisa menghabisi nyawa orang lain tanpa sebab yang jelas apalagi dengan jalan meledakkan diri, hanya ideologi yang mampu menyediakannya. Ideologi memiliki perangkat nilai untuk diyakini. Ia juga punya cita-cita (idea) yang hendak dicapai. Dan yang lebih utama, ia punya rumusan jalan bagaimana mewujudkan cita-citanya itu.

Kata Arbi Sanit, ideologi lahir dari situasi krisis. Namun situasi krisis ini sangat subjektif sifatnya. Satu kondisi bisa disebut krisis oleh satu kelompok namun tidak bagi kelompok yang lain.

Dalam kasus terorisme gelombang keempat saat ini, krisis berasal dari kalangan yang memandang bahwa Islam tengah dizalimi, Islam tengah teraniaya, syariat Islam belum tegak berdiri, dst. Karena itulah, salah satu propaganda yang sering dilancarkan oleh kelompok seperti ISIS adalah tentang berbagai keteraniayaan Islam dan umat Islam. Dan sumber dari kezaliman itu adalah orang-orang di luar Islam (kafir).

Negara Islam, Daulah Khilafah, atau negara yang berlandaskan syariat Islam menurut tafsirnya, adalah cita-cita mereka. Dalam bulletin yang mereka miliki, “Al Fatihin” misalnya, mereka membedakan kelompok manusia dengan dua kategori saja: beriman atau kafir. Mereka pun tidak kikuk menulis judul, “Bunuhlah Kaum Musyrikin di Mana pun Mereka Berada”. Inilah antara lain jalan mewujudkan cita-cita yang mereka tetapkan.

Dalam sejarah keislaman, kemunculan kelompok semacam ini tidak bisa dipisahkan dengan sebuah kelompok pemberontak bernama Khawarij. Intoleransi, fanatisme, eksklusivisme dalam kebijakan politik, penggunaan kekerasan dalam perubahan politik, menjadi ciri utama kelompok ini. Demikian Fazlur Rahman menjelaskan.

Seperti sudah banyak diketahui, kemunculan kelompok ini bermula dalam peristiwa tahkim (arbitrase) yang diikuti oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib atas tawaran Muawiyah yang sebenarnya sudah hampir kalah dalam Perang Siffin. Dengan mengikuti proses tersebut mereka menuduh Ali telah tunduk pada hukum manusia dan mengabaikan hukum Tuhan. Kelak, ini menjadi semboyan utama mereka: La hukma illa lillah. Tuhan adalah satu-satunya hakim dan penengah.

Ali sendiri berargumen bahwa perdamaian lebih utama daripada peperangan. Namun argumen tersebut ditolak mentah-mentah. Ali yang kalah dalam proses arbitrase kemudian dibunuh oleh salah satu anggota mereka yang bernama Abdurrahman ibn Muljam: seorang yang disebut menghabiskan siang harinya untuk berpuasa, malam harinya untuk salat. Ali yang dijuluki Pintu Ilmunya Nabi SAW dianggap telah kafir karena telah memilih jalan perdamaian meskipun pada akhirnya dicurangi.

Konon, cikal bakal dari kelompok ini telah diramal oleh Nabi. Di satu waktu, salah seorang dari Bani Tamim protes kepada Nabi karena dianggap tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang. Nabi memang memberikan lebih banyak kepada mereka yang baru memeluk Islam (mualaf) dibanding para sahabat yang lain. Beberapa sahabat senior bahkan tidak mendapatkan bagian sama sekali. Mendengar protes tersebut Nabi pun langsung menyahut, “Celaka Engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?”

Jika Nabi saja digugat oleh mereka, apalagi yg lain. Di atas sikap merasa paling benar inilah ideologi kematian mereka terbangun.

Namun bagaimana agama bisa menjadi sumber ideologi? Tentu saja karena politik. Politik memang tidak selalu bermakna kekuasaan, namun demikian, bagaimanapun politik meniscayakan adanya kekuasaan. Apalagi dalam perjalanannya, istilah politik seperti telah terdistorsi menjadi sekadar soal kekuasaan semata. Politik sebagai kekuasaan inilah yang sering mendistorsi banyak hal, termasuk agama.

Berbeda dengan filsafat, yang juga menjadi sumber ideologi, agama punya karakteristik yang lebih kaku ketimbang filsafat. Agama adalah sistem keyakinan sementara filsafat sistem penalaran. Saat sistem keyakinan digubah sedemikian rupa sehingga menjadi ideologi, ia akan sering menampilkan ekspresi yang sering sukar diterima oleh nalar. Bom bunuh diri adalah salah satunya.

Tidak hanya dalam literatur keislaman, dalam agama lain juga demikian. Sejarah kekristenan telah menunjukkan bahwa semakin dekat institusi gereja dengan politik pemerintahan, semakin bobrok kondisi keagamaannya. Gereja menjadi kerap terlibat, bahkan secara aktif, dalam tindak kekerasan yang immoral dan melawan ajaran dari agamanya sendiri. Mengapa Israel bisa sedemikian buasnya terhadap Palestina? Karena faktor agama Yahudi yang dijadikan dasar sekaligus pembenaran untuk melakukan penindasan nyaris tanpa henti terhadap bumi para nabi itu.

Karena itu, dalam perjalanannya, sebagian kalangan menelurkan gagasan sekulerisme. Bukan karena benci atau anti terhadap agama melainkan agar antara iman dan nalar menemukan wilayah dan ruangnya masing-masing secara pas.

Tapi soal ini sepertinya butuh ruang khusus lagi untuk pembahasannya.