Agama dan filsafat dalam masyarakat umum menjadi dua hal yang sulit untuk disatukan. Banyak yang bilang bahwa keduanya tidak akan bisa akur karena pada dasarnya keduanya berbeda pada hal yang lumayan fundamental. Agama bermula dari kepercayaan, dan filsafat bermula pada saat keraguan muncul dalam benak hati.

Kepercayaan dan keraguan adalah suatu hal yang kontradiksi, yang dipandang sulit dibawa pada jalan yang searah. Sejarah India memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan tradisi-tradisi lain pada belahan dunia lainnya.

Secara geografis tanah anak benua India ini memang dikelilingi oleh banyak batas. Di selatan terdapat hamparan luas samudera. Di utara terdapat pegunungan Himalaya. Kedua batas tersebut menjadikan anak benua India memiiki karakteristik yang khas dan terlindungi oleh penjajah dari luar daerah untuk menhancurkan segala yang ada di India.

Sepanjang sejarah banyak pertukaran budaya dengan datangnya suku Arya dari Asia tengah, lalu juga ada invasi besar oleh Alexander Yang Agung dari Yunani yang hanya menduduki sebagian daerah di barat laut, dan juga terdapat beberapa orang dari daratan Cina mempelajari Buddhisme di India. Berbagai pertukaran budaya ini menambah ciri khas India, terutama suku Arya yang mengenalkan tradisi Veda.

Menurut M. Hiriyanna dalam bukunya Outline of Indian Philosophy, ia menjelaskan bahwa agama dan filsafat tidak terpisah dalam tradisi pemikiran India. Pendapat yang serupa pun dilanturkan pula oleh R. S. Misra dalam bukunya Philosophical Foundation of Hinduism.

Salah satu keunikan tradisi pemikiran India adalah kekayaannya akan perbedaan. Banyak yang berpendapat bahwa filsafat India cenderung kepada ajaran yang bersifat pesimistis yang menganggap remeh kehidupan dunia dan lebih menaruh perhatian besar pada hal-hal supranatural.

Bahkan ada pula yang menganggap bahwa tidak ditemukan tradisi filsafat di India, karena semua aliran itu lebih condong kepada religiusitas daripada pemikiran spekulatif. Pendapat seperti itu bisa dikatakan karena ketidakpahaman pada inti ajaran Veda atau Hinduisme itu sendiri.

Setidaknya ada delapan aliran pemikiran India, yang dibagi kepada dua aliran besar berdasarkan kepada kepatuhan atau keberpihakkan kepada kitab Veda. Keseluruhannya itu oleh Hiriyanna mendapatkan titik temu pada dua hal; pertama, bahwa pemikiran-pemikiran di India tidak terpisahkan antara agama dan filsafat. Kedua,  filsafat menjadi sebuah jalan hidup bukan hanya corak pemikiran, tetapi juga memiliki sisi praktik dan disiplin dalam pencapaian tujuan-tujuan ideal filsafat.

Menurut Max Muller, seorang orientalis yang mendalami pemikiran India, bahwa filsafat yang direkomendasikan oleh alam pemikiran India adalah bukan hanya untuk pengetahuan, the sake of knowledge, tetapi juga untuk suatu tujuan besar yang memiliki implikasi pada kehidupan setelah kematian.

Agama dan filsafat keduanya memiliki suatu tujuan yang sama, yaitu; mencari arti dari sebuah eksistensi atau realitas. Sebuah arti tersebut bukan hanya menjadi ide dalam sebuah pikiran atau buku, tetapi dalam hal praktik dan disiplin hidup tujuan itu pun juga terus mendasari aktivitas manusia.

Dalam tradisi pemikiran India terutama yang ortodoks, yang mengakui Veda sebagai sesuatu yang etenal dan memiliki kebenaran mutlak, Sat atau Brahman adalah suatu titik dimana semua aliran pemikiran menuju. Sat juga bisa disebut dengan Being atau the Supreme Being, sesuatu dimana seluruhnya berasal darinya. Konsep ini bukan hanya sebagai afirmasi pada sesuatu eksistensi, tetapi juga mempunyai implikasi nilai yang mendasari moralitas.

Tujuan hidup dalam pemikiran India setidaknya ada empat hal, yaitu; Dharma ( kewajiban ), Artha ( kekayaan ), Kama ( keinginan ), dan yang terakhir Moksha ( kebebasan ). Keempatnya itu disebut juga Purushartha. 

Moksha adalah suatu penyatuan dengan Supreme Being, pencapaian kepada suatu pengetahuan yang maha tinggi, terbebasnya kelahiran kembali juga seluruh penderitaan di dunia. Supreme Being bukan hanya suatu ide, tetapi para filsuf india mengasah kemampuan atau potensi dalam dirinya untuk menyatu dalam diri Supreme Being, atau Tuhan itu sendiri.

Ini adalah tujuan terakhir dalam hidup. Suatu tujuan hidup menurut agama juga tradisi filsafat. Walaupun ‘kebebasan’ ini dapat diartikan dan didefinisikan secara berbeda dalam berbagai macam aliran. Bahkan Buddhisme yang tidak mengakui otoritas Veda memiliki konsep yang sama yaitu konsep Nirvana.

Dalam alam pemikiran barat, agama dan filsafat seperti terpisah dan sulit disatukan. Walaupun ada beberapa pemikiran seperti, Descartes, Spinoza dan Kierkegaard yang membahas tentang konsep Tuhan. Tetapi apakah para filsuf ini menjalani kehidupan dalam sehari-harinya berdasarkan konsep-konsep mereka? Apakah pemikiran yang mereka lontarkan menjadi suatu asas kehidupan yang sakral dalam kehidupan bermasyarakat?

Filsuf empirisme yang sangat terkenal, David Hume, mengakui bahwa ia lebih menyukai bermain biliard dari pada berfilsafat. Konsep dan praktik agaknya tidak sejalan dalam alam pemikiran barat. Belum lagi bahwa dalam epistemologi barat hanya mengakui akal dan persepsi indra. Ini berbeda jika dibandingkan di India yang mengakui adanya sumber pengetahuan yang lebih tinggi, menurut R. S. Misra, yaitu; kitab suci atau Revelation dan pengalaman keagamaan atau mistikal.

Maka sangat wajar jika dalam tradisi barat agama akan bertentangan dengan filsafat, yang dalam tradisi India adalah sesuatu yang mustahil, karena keduanya memiliki tujuan dan konsep epistemologi yang seirama. Filsafat mengakui kitab suci dan pengalaman keagamaan sebagai juga sumber pengetahuan. Filsafat dalam tradisi India pun memiliki tujuan yang sama dengan agama, yaitu; Moksha atau kebebasan.