Pikiran, konsep, bahasa, dan kata-kata yang digunakan dalam berbahasa untuk dialog sebenarnya mengandung ukuran/nilai yang tidak sama. 

~ Anton Bakker ~

Perkataan dari Anton Bakker tersebut secara tersurat telah mengungkapkan bahwa tiada suatu kesamaan atas ukuran atau nilai dalam setiap pemikiran dan konsep dalam berbahasa, terlebih dalam upayanya untuk membangun suatu dialog. Dialog menjadi sebuah budaya yang telah lama dilakukan oleh manusia.

Dialog ini pun telah terlukis nyata dalam Kitab Suci yakni dialog pertama antara manusia dengan Allah sebagai Sang Pencipta. Dalam percakapan antara Allah dan manusia tersebut telah tergambar bahwa dialog sudah tertanam dalam diri manusi.

Dialog juga dilakukan oleh para filsuf awali guna mendalami dan menyelami makan hidup yang sebenarnya dan mencari sebuah hal mendasar dalam hidup (arche). Pendalaman melalui perbincangan dan percakapan yang terus mempertanyakan dan saling bertukar pikiran menjadi sebuah tindakan yang hingga kini masih terus dilakukan.

Dalam proses kehidupan dengan pelbagai tindakan yang dilakukan oleh manusia pad akhirnya tercipta sebuah kebiasaan dan kemudian berlanjut pada terciptanya sebuah kebudayaan. Sebab kebudayaan merupakan hasil cipta, karya, dan karsa manusia dalam kehidupan yang dilakukannya dengan pusparagam tindakan berdasarkan akal budinya.

Proses pembudayaan ini merupakan sebuah proses pembejalaran yang pada akhirnya tak lepas dari adanya interaksi sosial antar subyek atau individu melalui proses komunikasi dan dialog. Dalam proses komunikasi dan dialog tersebut terdapat peran serta lambang dan bahasa yang sangat kental adanya.

Bahasa dan Dialog

Dialog merupakan bentuk dari relasi antar pribadi untuk dapat saling berkomunikasi dan saling memahami satu sama lain. Dalam proses dialog antar individu ini terdapat bahasa yang menghubungkannya. Bahasa menjadi sebuah jembatan yang sangat penting dalam proses komunikasi tersebut. Sebab hanya dengan melalui bahasa, setiap manusia dapat berdialog dan berinteraksi dengan manusia lainnya dengan baik.

Bahasa juga menjadi penghubung interaksi antar subyek. Dalam sebuah dialog bahasa antar manusia ini, tersingkap di dalamnya nilai-nilai, kaidah-kaidah moral serta hukum yang berperan penting bagi kehidupan bersama dan perilaku serta tindakan manusia. Tujuan utama dari dialog ini ialah adanya kesepemahaman dan saling keterbukaan.

Budaya Dialog Masyarakat Indonesia

Budaya dialog di Indonesia memang telah tertanam sejak sediakala. Dalam setiap pertemuan dan perjumpaan dialog antar masyarakat telah diupayakan. Sejak zaman kerajaan-kerajaan, budaya dialog antar masyarakat telah ada. Demikian halnya budaya dialog juga diterapkan dalam kehidupan dalam istana kerajaan.

Dialog antar masyarakat juga sampai sekarang terus dilakukan. Hal ini tercermin dalam upaya rembug desa di setiap desa dalam kehidupan masyarakat. Selain itu pula rapat serta musyawarah mufakat juga turut serta mengiringi perjalanan sejarah kemerdekaan dan pembetukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terus-menerus dilakukan oleh para pendiri bangsa.

Perjumpaan demi perjumpaan demi menjalin relasi serta berbincang untuk bertukar pikiran memang telah lama dilakukan oleh para pendahulu bangsa Indonesia. Hal ini bertujuan supaya semakin mengakrabkan hubungan satu dengan lain.

Dialog Antar Agama di Indonesia

Budaya dialog memang sudah tak asing dalam benak dan telinga masyarakat Indonesia. Hal ini terjadi sebab masyarakat Indonesia sangatlah kental dengan kehidupan sosial dan budayanya. Kehidupan yang menekankan adanya dialog dan interaksi antar sesama ini telah tertanam dalam diri manusia.

Budaya dialog yang telah lama tertanam dalam budaya masyarakat Indonesia juga turut serta disebarkan dalam dialog antar agama di Indonesia. Hal ini bertujuan supaya terdapat perjumpaan dan perbincangan antar pemuka agama.

Perjumpaan dalam dialog-dialog sederhana ini merupakan suatu hal yang penting supaya dapat menjalin relasi satu dengan yang lain, yakni perjumpaan serta relasi baik antar agama di Indonesia yang diwakilkan oleh para pemuka agama. Dialog antar agama tersebut diwadahi dalam Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB).

Budaya gotong-royong menjadi bukti nyata bahwa hidup sosial masyarakat Indonesia telah mendarah daging sejak sediakala. Dalam budaya gotong royong tersebut tentu tak lepas adanya dialog di dalamnya

Menurut pendapat penulis, dialog yang paling tidak mudah dalam kehidupan masyarakat Indonesia terdapat 2 bidang yakni dialog antar agama dan dialog antar budaya/ras. Dialog agama memiliki kesulitan tersendiri sebab terdapat perbedaan latar belakang yang sangat kuat dari masing-masing agama.

Selain itu pula, banyak pandangan dan keyakinan yang berbeda sangat mencolok dari masing-masing agama. Hal ini tentu memberikan tantangan bagi dialog antar agama. Sebab tujuan dari dialog ialah untuk dapat menemukan kesepemahaman dan informasi untuk dapat saling memahami satu sama lain.

Hal tersebut tentu dibutuhkan sikap keterbukaan supaya dialog dapat terus terjalin. Hal lain yang membuat dialog antar agama merupakan dialog yang tidak mudah ialah adanya keyakinan dalam diri masing-masing pemeluk dan pemuka agama yang sudah tertanam yakni mengedepankan agama yang ia peluk ialah agama yang paling benar.

Hal ini tentu menunjukkan sikap yang tertutup terhadap pelbagai pandangan agama lain. Sebab sudah tertanam sikap mengunggulkan diri dan merendahkan agama lain yang secara sadar atau tidak sebagian besar telah tertanam dalam diri para pemeluk/pemuka agama di Indonesia.

Selain agama, dialog antar budaya ras/suku juga memiliki kesulitan sebab telah tertanam dalam diri masyarakat sikap iri dan membenci ras/suku lainnya di Indonesia, seperti halnya kebencian terhadap etnis tionghoa karena banyaknya tragedi masa lalu yang melatarbelakanginya, pertengkaran antar suku Madura dengan Dayak, stigma merendahkan masyarakat Papua dan masih banyak lagi.

Hal ini tentu memberikan kesulitan tersendiri untuk melakukan dialog sebab adanya pengalaman masa silam yang tertanam dalam diri masyarakat Indonesia.

Selayaknya dialog yakni sebuah proses budaya yang tak pernah berhenti dan tak berujung, tak terbatas, dan terus dilakukan, hendaknya demikianlah perjumpaan dan dialog antar agama, suku, ras, dan budaya terus dilakukan, sebab dengan demikian akan muncul budaya dialog.

Dengan munculnya tradisi serta budaya dialog maka akan muncul budaya tradisi dan budaya toleransi. Sebab setiap tindakan baik yang dilakukan terus-menerus akan membuahkan kebiasaan baik dan kebiasaan baik akan menghasilkan budaya baik. Apabila dilakukan terus-menerus akan memberikan dampak baik pula yakni menjadi keutamaan serta tradisi yang baik pula bagi generasi penerus bangsa.