Agama sebagai sebuah sistem kepercayaan manusia yang berisi aturan-aturan, hukum-hukum, dan patokan-patokan agar manusia tidak mengalami kekacauan dalam hidupnya. Karena etimologi dari agama adalah "a" itu tidak dan "gama" itu kacau, jadi agama itu tidak kacau.

Agama-agama yang dianut manusia ada agama samawi yakni agama yang turun dari langit (Tuhan), serta agama non-samawi yakni agama yang hanya dibuat-buat manusia sendiri. Agama samawi ini juga biasanya disebut agama ibrahimiah. Agama-agama dari Tuhan yakni Yahudi, Kristen, dan Islam.

Dan pastinya yang menjadi objek perhatian kita pada tulisan ini adalah agama samawi yang merupakan agama yang diturunkan Tuhan dan sama sekali tidak memandang identitas apapun sebagaimana pokok bahasan kita di atas bahwa agama bukanlah identitas pembeda yang seperti identitas-identitas yang lain.

Pada prinsipnya semua yang ciptakan Tuhan (pencipta), utamanya manusia (ciptaan) adalah sama, tidak ada pembeda di dalamnya. Bahkan Tuhan sendiri akan sangat marah atau murkah apabila ada manusia yang selalu membeda-bedakan antara satu manusia dengan manusia yang lainnya. Seperti dari segi fisik; ada manusia kulit putih dan hitam, anggota badannya cacat dan tidak cacat, dan lain sebagainya.

Dan pembeda atau identitas itu jadikan sebagai alasan untuk sesama manusia memperlebar jarak dan menegasikan hubungan baik antar kita. Hal ini sama dengan kita sebagai manusia sudah melacuri nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. 

Islam sebagai agama sangat menjunjung tinggi kemanusiaan (habluminannas) dan ketuhanan (habluminallah) dan sangat menghargai keberagaman dalam keberagamaan kita. Beragama adalah meleburkan berbagai macam perbedaan atau identitas. Marx dan Tocqueville (Martin Lipset, 2007: 10) mengakui agama berfungsi sebagai permersatu.

Secara fundamental, makna identitas merupakan pembeda antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Bagi Stela Ting Toomey (2009), identitas merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Identitas pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sendiri dan persepsi orang lain terhadap diri kita.

Umumnya, identitas yang melekat pada masyarakat itu terdiri dari: identitas suku, ras, etnik, dan budaya. Sedangkan agama memang ada macam-macam agama, tetapi perbedaan itu hanya bentuk keimanan-bukan kemanusiaan.

Identitas pada kesempatan ini, saya bedakan menjadi dua untuk menjelaskan kedudukan manusia dalam Islam maupun sosial, yakni:

Pertama, identitas transenden. Identitas ini merupakan cara manusia untuk membangun hubungan dengan sekitarannya (manusia dan alam) dengan tujuan agar manusia mampu membuat penyatuan antar sesamanya. Penyatuan yang dimaksud bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan. Hal ini dipastikan meleburkan dirinya dan perbedaan yang dimilikinya.

Meleburkan identitas dari kelompok manusia atau masyarkat adalah visi agama. Qur'an Surah Al Hujurat (49) ayat 13, "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal".

Kedua, identitas imanen. Identitas ini merupakan upaya manusia secara pribadi yang berangkat dari kesadaran, akal budinya membangun hubungan dengan Tuhan berdasarkan kepercayaan atau keimanan manusia kepada Tuhan. Dari upaya membangun hubungan inilah, kemudian Tuhan akan membedakan manusia dengan manusia yang lain tergantung apa yang telah diperbuatnya atau disebut amal perbuatan. 

Manusia dibedakan oleh Tuhan bisa dilihat dalam Al-Qur'an Surah Al Bayyinah (98) ayat 6-7, "Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-selamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk".

Dan Surah Al Muzadallah (58) ayat 11, bahwa “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” 

Ayat-ayat di atas menjelaskan keutamaan orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan. Sedangkan masalah status manusia semua sama di hadapan Allah, kecuali orang yang bertaqwa. Juga disebutkan,  "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian” (HR. Muslim).

Meleburkan identitas dalam keberagamaan merupaka jalan yang ditempuh untuk menuju keadilan. Bahwa tidak ada manusia yang lebih unggul, lebih di atas di antara manusia yang lain. Misalkan, pada saat sholat yang dimana tidak ada pembeda berlatar status sosial, jabatan, usia untuk berdiri disetiap saf sholat. Dalam konteks naik haji pun mengajarkan prinsip keadilan untuk melepaskan berbagai macam identitas yang kita miliki atau berihram. Berihram adalah manusia dibebaskan dari status-status yang bersifat duniawi.

Kalau masih ada si pemeluk agama "a" masih memiliki ego dan si pemeluk agama "b" juga memiliki atas agamanya. Maka yakin sungguh akan sangat sulit adanya peleburan dalam membangun hubungan harmonis antara sesama manusia pada konteks hubungan sosial kemasyarakatan. Hal ini tidak boleh terjadi, identitas transenden antar agama mesti tiba pada penyatuan-bukan berarti menyatukan iman dalam agama menjadi satu. Tetapi penyatuan yang dimaksud adalah pada ruang kemanusiaan, sebab sekali lagi agama bukan identitas.

Agama yang dijadikan menjadi identitas hanyalah bentuk politisasi terhadap agama. Agama menjadi alat untuk kepentingan politik praksis. Munculnya politik identitas (agama) dalam kehidupan masyarakat adalah salah satu ancaman utama yang sedang dihadapi. Ancaman itu tidak akan terjadi menurut Fukuyama (2020) dalam karyanya berjudul "Identitas: Tuntutan Atas Masyarakat dan Politik Kebencian", apabila dapat kembali ke pemahaman universal tentang kemanusiaan, karena jika tidak akan menghukum diri sendiri dengan terus melajutka konflik.

Terakhir, agama sebagai sumber inspirasi dan bersifat inklusif. Inklusif berarti orang meyakini ajaran agamanya. Meyakini bahwa kebenaran Tuhan itu ada di dalam kelompoknya, tetapi ada ruang-ruang hidup bersama dengan yang berbeda keyakinan dengannya, dan keyakinan tersebut karena Tuhan menciptakan semua manusia.