3 bulan lalu · 2903 view · 4 menit baca · Agama 19350_27443.jpg
pojoksatu.id

Agama Ancur-Ancuran ala Nur Sugi

Di tengah upaya rekonstruksi moral keagamaan yang dilakukan para pemuka agama, kita menemukan fakta yang membuat akal dan nurani merasa ironis, yakni keberadaan seorang penceramah "jahiliyah" yang dikenal sebagai Nur Sugi alias Gus Nur.

Dia lebih patut digolongkan ke dalam orang-orang jahil yang amoral, alih-alih menggelarinya dengan panggilan ustaz, kiai, apalagi ulama. Gelar 'gus' saja sampai saat ini tak layak disematkan padanya.

Mari kita ghibah (gibah: Indonesia) tentang pribadinya. Sungguh ini bukanlah termasuk gibah yang diharamkan oleh Islam, karena ada enam hal yang menjadi alasan kita boleh menelanjangi aib seseorang, termasuk rerasan tentang ulah seorang, sekalipun dia disebut ustaz.

Enam alasan boleh meng-ghibah tersebut telah dirumuskan oleh Imam An-Nawawi dalam karyanya yang berjudul Riyadhus Shalihin. 

Seseorang boleh digibah karena yang bersangkutan; 1) melakukan kezaliman pada kita; 2) agar ada upaya merubah kemungkaran yang dia lakukan; 3) memberi peringatan pada muslim lain tentang keburukannya; 4) karena dia terang-terangan dengan kejahatannya; 5) menjelaskan profilnya dengan menyebut aib fisiknya, seperti sebutan 'si buta' dan lainnya.

Enam poin di atas, lima di antaranya bisa menjadi dasar tulisan ini untuk membuka kedok Nur Sugi. Poin ke-6 tidak masuk sebagai alasan karena Nur Sugi tak perlu dijelaskan profilnya dengan aib fisik. Sugi normal secara fisik.

Hanya saja, secara moral, Nur Sugi itu bejat dan patut dapat hujatan, atau setidaknya mendapat teguran sangat keras.

Bagaimana tidak? Dia berulang kali membuat kegaduhan di muka publik dengan pernyataan sesat. Ceramahnya mengandung kata-kata kotor dan makian yang tak mencerminkan seorang ustaz.


Masih terekam media bagaimana dia menafsirkan nama Jokowi dengan utak-atik angka (Viral, Gus Nadir Bungkam Sugi Nur yang Hina Presiden Jokowi Pakai Tafsir Sesat). Setelah bertemu hasil angka 83 yang merujuk pada surat Al-Muthoffifin; yang artinya "orang-orang yang curang", dengan seenaknya Sugi memberikan vonis bahwa Jokowi adalah orang curang.

Para pakar agama, salah satunya Nadirsyah Hosen, mengonter perilaku Sugi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan ngawur tanpa dasar, bukan perilaku seorang intelektual.

Akhir-akhir ini juga sempat tersiar berita pelaporan terhadapnya atas tindakan ujaran kebencian yang kerap ia sampaikan. Banyak yang berharap pelaporan itu segera diproses dengan saksama, agar ustaz model seperti ini tidak semakin mencemari pola pikir masyarakat.

Di panggung-panggung ceramah yang terabadikan menjadi video viral, silakan cek sendiri, sangat jarang orang akan menemukan materi pengajian Sugi yang sejuk dan berbobot. Bahkan sama sekali tak ada.

Sugi lebih sering memaki-memaki liyan. Kata-kata semacam jancuk, asu, matamu picek, dan diksi jorok yang lain seperti ngentot akan mudah ditemukan dalam ceramahnya.

Suaranya ia keras-keraskan ketika memaki siapa pun (sering kali Pak Jokowi). Sesekali ia mengambil dalil dengan ayat Alquran namun jauh dari konteks yang sebenarnya. Ia menggunakan dalil untuk hasrat melancarkan hujatan, meski secara metodis jauh dari kata tepat. Parahnya, ia masa bodoh dengan itu.

Apakah Sugi bisa disebut sebagai ulama? Mari kita bahas.

Nabi Muhammad saw pernah bersabda: "Sesungguhnya ulama ialah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tak mewariskan uang dinar atau dirham. Akan tetapi hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu (mereka) maka ia mendapatkan bagian yang sempurna." (H.R Abu Dawud)

Ulama sejati adalah mereka yang mengambil sanad keilmuan yang jelas yang terkoneksi dengan sunnah Rasulullah saw. Sementara Nur Sugi sering melakukan disklaim bahwa dia bukan santri, tak tahu kitab kuning, dan dia adalah mantan preman.

Anehnya, masih ada saja pihak yang memberikan kesempatan berceramah untuk si Sugi. Mungkinkah pihak yang mengundangnya tidak tahu? Atau masa bodoh dengan kredibilitas Nur Sugi?


Mungkin begini: ada semacam ketidakpedulian dari para jamaah yang condong dengan sikap Nur Sugi. Terlebih sikap keagamaan dan politik yang sering ia tampilkan setiap mengisi pengajian, mulai dari menghina orang-orang NU yang menelurkan Islam Nusantara yang ia anggap sesat, hingga Pemerintahan Jokowi yang dianggapnya curang.

Pembawaan ceramah Sugi yang sering nir-faidah malah seolah-olah menjadi daya tarik bagi jamaahnya. Maka kemungkinan kondisi jamaah pengagum Nur Sugi bisa diprediksi mempunyai dua gejala berikut:

Pertama, mereka suka mengundang Nur Sugi karena setuju dengan tuduhan sesat yang disampaikan Sugi ke pada Islam Nusantara. 

Bagi mereka, Islam Nusantara semacam bid'ah yang harus disesat-sesatkan. Pun demikian, ketika dimintai pertanggungjawaban ilmiah, tak ada argumen yang berarti dari Nur Sugi untuk dijadikan bahan diskusi yang positif.

Terakhir tersebar video ketika seorang pemuda NU bertanya di tengah-tengah pengajian Nur Sugi. Pemuda tersebut, belum sempat bertanya, karena terindikasi mengkritik ceramah si Sugi malah mendapat perlakuan tidak beradab dari sebagian hadirin; dibentak dan diseret-seret. Silakan lihat videonya (Video Sugi Nur Ditanya oleh Ketua GP Ansor).

Di video tersebut, bisa dinilai kapasitas Sugi menjawab pertanyaan ilmiah. Buruknya lagi, dibumbui dengan pernyataan apologi yang naif, tak mencerminkan ulama sedikitpun.

Gejala kedua adalah bahwa jamaah yang bersedia mengundang Sugi merupakan kelompok yang afiliasi politiknya sangat sejalur dengan Nur Sugi. Boleh jadi mereka mendapatkan motivasi berupa aspirasi yang terwakili oleh orasi Sugi saat pengajian.

Namun, sungguhpun acara yang diadakan berupa majlis pengajian; esensi ngaji terlalu jauh dari orasi panggung yang isinya hujatan pada liyan dan kata-kata jorok.

Lalu apa selanjutnya?

Lewat tulisan ini, saya ingin menyimpulkan penilaian bahwa Nur Sugi bukanlah seorang ulama. Dia tak pantas diberi panggung untuk mengisi pengajian. Ini karena secara keilmuan Nur Sugi tidak memadai untuk menyampaikan agama Islam pada orang lain. 


Selain itu, sanad keilmuannya tidak jelas. Dari sisi ini Nur Sugi bisa dianggap ilegal keilmuannya.

Selanjutnya, Majelis Ulama Indonesia bisa memberikan fatwa tentang kesesatannya, layaknya institusi itu menyesatkan Ahmadiyah dan kelompok lain yang diasumsikam menyeleweng dari Islam. 

Demi menjaga agama Islam, maka MUI sangat bertanggung jawab dalam hal ini. Nur Sugi telah menyelewengkan agama Islam dengan mempermainkan dan menjual ayat-ayat Alquran demi hasrat khilafiyah dan politik. Itu tidak baik untuk agama Islam sendiri dan masyarakat umum.

Artikel Terkait