Lecturer
9 bulan lalu · 747 view · 5 min baca menit baca · Agama 28963_55827.jpg
the financial express

Agama-Agama di India: Mencapai Ilahi dengan Filosofi

Catatan Kelas World religion (Bagian 1: Hindu)

Masyarakat di India telah lama dikenal sebagai orang-orang yang mencintai filosofi. Hampir tak ada satu peristiwa pun yang lewat begitu saja tanpa pernah mereka pikirkan secara filosofis sebelumnya.

Peristiwa itu bisa saja berupa hal yang sangat sepele, seperti mengapa sebuah benda dinamakan “kursi”, kenapa kita menamai banyak binatang dengan nama-nama yang tak mereka pahami? Apakah Sapi tahu bahwa mereka bernama “Sapi”?

Pertanyaan-pertanyaan filosofis ini pada akhirnya merembet ke soalan yang lebih serius; tentang eksistensi manusia. Soalan ini menyangkut tujuan dan hajat kehidupan manusia; mengapa manusia, dan semua makhluk lainnya, hidup? Apa tujuan kehidupan ini? Apakah ada kekuatan lain di luar kehidupan saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menjalar hingga ke soal Tuhan; apakah yang dimaksud Tuhan? Siapa yang menciptakan Tuhan? Bisakah kita menjadi Tuhan? Dan seterusnya.

Dari berbagai pertanyaan-pertanyaan di atas, lahirlah banyak jenis kepercayaan –yang oleh religious scholars kerap disebut sebagai agama—. Terdapat setidaknya 4 agama yang lahir dan tumbuh besar dari dataran India, yakni; Hindu, Jainisme, Buddha dan Sikhisme.


Rangkaian artikel kali ini akan fokus pada penjelasan dasar soal empat agama di atas. Termasuk catatan-catatan penting yang muncul saat tema ini saya ajarkan di kelas World Religions di salah satu kampus terkemuka di Jakarta.

Agama tertua yang tumbuh dan berkembang di India adalah Hindu. Sebagai agama dengan jumlah pemeluk terbesar ketiga di dunia, Hindu menyimpan sejarah panjang pergumulan manusia dalam mencari arti yang sejati terkait dengan kehidupan ini.

Meski kerap dianggap sebagai agama, Hindu lebih dikenal sebagai sebuah tradisi dan budaya luhur yang telah ada secara turun-temurun dari masa lalu.

“Hindu” adalah nama sebutan yang digunakan oleh orang luar untuk merujuk pada orang-orang yang hidup di sekitaran sungai Shindu. Umat Hindu sendiri menyebut agama mereka dengan sebutan Sanātana-dharma ( सनातन धर्म) yang berarti Darma Abadi.

Tak ada catatan pasti sejak kapan tradisi Hindu lahir dan berkembang. Yang ada adalah catatan sejak kapan tradisi ini dikenal, yakni sejak 4000-2000 tahun sebelum masehi. Ini menjadikan Hindu sebagai salah satu agama atau sistem kepercayaan tertua di dunia.

Ada banyak hal yang menarik dari Hindu, beberapa di antaranya adalah; Hindu tidak memiliki satu kitab suci tunggal, tak ada pula pendiri atas tradisi ini. Hindu berkembang sesuai dengan kearifan lokal di mana pun ia berkembang. Karenanya tidak heran, Hindu memiliki banyak rupa.

Hal ini bisa dipahami sebab, sebagai agama, Hindu bukanlah seperangkat kepercayaan yang turun langsung dari langit, sebagaimana ‘nasib baik’ agama-agama Abrahamik. Agama ini lahir dari proses sintesis dari berbagai macam budaya dan tradisi luhur yang berkembang di dataran India.

Adalah gerombolan kolonial Barat yang terus-terusan berusaha mendefinisikan Hindu dengan kaca mata Barat, sehingga kerap menimbulkan perdebatan, baik di kalangan internal maupun di eksternal Hindu. Salah satu hal yang sangat fundamental di Hindu adalah tidak adanya batas-batas tegas untuk kategorisasi.

Monier-Williams (1819–1899), Profesor Sastra Sanskerta dan Indolog angkatan awal menjelaskan “Batas-batas kabur” agama Hindu dengan mengatakan "berawal dari Weda, Hinduisme telah merangkul berbagai bentuk kepercayaan dan menyajikan fase yang cocok untuk berbagai pikiran. Paham tersebut begitu toleran, rendah hati, komprehensif dan menerima (berbagai bentuk tradisi).” Karenanya, Hindu tak mengenal istilah “Murtad” atau “Kafir”.

Soal ketuhanan, Hindu kerap dituduh menyembah banyak Tuhan, padahal tidak. Meski tampak seolah menyembah banyak Tuhan atau Dewa, Hindu sesungguhnya hanya mengimani satu Tuhan. Hanya saja mereka percaya bahwa Tuhan yang satu tersebut memiliki banyak perwujudan; dan menyembah banyak perwujudan tersebut adalah bagian dari penyembahan terhadap satu Tuhan yang mereka imani.

Umat Hindu percaya pada Reinkarnasi, yakni bahwa hidup ini tak berakhir pada kematian. Usai kematian akan ada lagi kelahiran, kecuali bagi orang-orang yang telah sampai pada Tuhan. Hidup bukanlah garis linear yang akan berakhir pada titik akhir. Hidup ini berputar.


“Apa yang terjadi setelah hari Minggu?” tanya saya.

“Dirisak, mas”

“Kenapa?”

“Nggak ada yang ngapelin di malam Minggunya.”

“Yeee, bukan itu. Maksud saya, hari apa yang tiba setelah hari Minggu?”

“Hoalah, hari Senen”

“Betul, setelah Senen datang Selasa, begitu terus sampai hari Minggu datang lagi dan akan berulang menjadi Senen dan Selasa, sama seperti pekan-pekan sebelumnya. Ini adalah salah satu bukti bahwa hidup memang berputar.”

“Sama kayak kisah cinta saya itu, Mas.”

“Kenapa?”

“Muter-muter di situ-situ saja. PDKT aja, nggak pernah sampai jadian.”

“Karepmu!”

Sebagai catatan, beberapa mahasiswa saya mengidap Tuna Asmara, sebuah kondisi di mana manusia dipaksa untuk menjalani hidup dengan jalan asketik, melepaskan keterikatan dengan sesuatu yang duniawi.

Jalan hidup asketik juga dilakoni oleh banyak umat Hindu, bagi mereka, kemelekatan terhadap hal-hal yang bersifat duniawi dapat menjadi penghalang untuk bertemu dengan sang ilahi.

Dalam konteks ketuhanan, umat Hindu memiliki banyak ragam kepercayaan yang kompleks, mulai dari monoteisme, politeisme, panenteisme, panteisme, monisme, dan ateisme; semua ada di Hindu.

Atas kompleksitas ini, tak sedikit kritik yang muncul, namun menariknya, beberapa di antara kritik tersebut justru ditujukan kepada para peneliti Hindu yang disebut gagal memahami kekayaan Hindu dan malah terjerembab dalam klasifikasi-klasifikasi berlebihan yang justru menjauhkan mereka dari realita Hindu.

“Apakah reinkarnasi akan terjadi di kelas ini?” tanya salah satu mahasiswa saya tiba-tiba.

“Tentu, jika kamu nggak lulus di ujian kelas ini, kamu akan ‘terlahir kembali’ di kelas ini semester depan dan akan terus begitu sampai kamu mendapat ‘kebenaran sejati’ dan lulus dari lingkaran kelas ini.”


Usai memberi penjelasan soal Agama Hindu, kami lantas berdiskusi soal isu-isu terkini terkait Hindu. beberapa isu yang kami bahas antara lain adalah seksisme dan sistem Kasta.

Mahasiswa saya memandang ada perlakuan tak adil berdasarkan pada perbedaan jenis kelamin di dalam agama Hindu. Beberapa juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap sistem Kasta dengan mengatakan tak ada orang yang begitu saja mulia atau hina; semuanya harus diusahakan.

Saya lalu teringat obrolan bersama salah satu tokoh Hindu di Yogyakarta yang juga penulis beberapa buku Hindu populer, Suryanto, M.Pd., menurutnya Kasta bukanlah kedudukan sosial. Ia bahkan menyebut Weda tak mengajarkan soal Kasta.

Menurutnya, sistem kasta justru diciptakan oleh bangsa kolonial Portugis yang menjelajah ke banyak wilayah dengan semangat 3G; Gold (memperoleh kekayaan) Glory (memperoleh kejayaan) dan Gospel (penyebaran agama/penginjilan).

Weda, lanjutnya, tidak pernah sekalipun menyebut kata “Kasta”. Yang ada adalah Catur Varna yang membagi manusia kedalam empat bagian; Brahmana, Ksatria, Vaisya dan Sudra. Pembagian ini tidak merujuk pada status sosial, melainkan watak dan karakter. Dan hal itu disebutnya natural.

Tentang Catur Varna, ia mengutip Bhagavat Gita 4;13

catur-varnyam maya srstam

guna-karma-vibhagasah

tasya kartaram api mam

viddhy akartaram avyayam

“Catur varna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah bahwa walaupun Aku penciptanya, Aku tak berbuat dan mengubah diri-Ku.”

Artikel Terkait