Rusia saat ini sedang berupaya dalam mengembangkan kebijakan luar negeri baru, terutama kebijakan luar negeri yang di dalamnya ada peran besar Afrika. Hal ini dilakukan Rusia karena adanya kebijakan dari negara-negara barat terhadapnya.

Kebijakan barat saat ini sebagian besar berupaya mengisolasi dan memberi sanksi terhadap Rusia. Tindakan dari kebijakan negara-negara barat terhadap Rusia diberikan karena adanya serangan militer Rusia ke Ukraina.

Sanksi ini berakibat putusnya hubungan politik dan bisnis sejumlah negara terhadap Rusia. Tak hanya itu, Banyak negara yang menunjukkan sikapnya secara terbuka sebagai musuh Rusia dengan mengambil posisi dalam memerangi Rusia.

Sikap sebagai musuh tersebut dilakukan dengan berbagai langkah yang bertentangan dengan kepentingan Rusia, seperti memberikan dampak kerugian serta merusak kepentingan Rusia. Sehingga Rusia perlu mengimbangi banyaknya aksi tersebut dan mengurangi dampak negatifnya.

Maka dari itu, federasi Rusia menyusun konsep politik luar negeri baru. Salah satunya yaitu, melakukan penekanan yang lebih besar terhadap Afrika dalam pedoman kebijakan luar negeri baru yang akan diterbitkan nantinya.

Terlepas dari adanya tindakan yang dilakukan oleh negara-negara barat, Rusia memastikan jika pedoman kebijakan luar negeri baru yang dikembangkan oleh kremlin akan mencakup ketetapan untuk mengembangkan hubungan antara Rusia dengan banyak negara di Afrika.

Rusia juga memiliki prinsip serta hubungan jangka panjang, tanpa bergantung pada situasi global. Sehingga Rusia memiliki keyakinan jika hubungannya dengan negara-negara di Afrika dapat berkembang.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Rusia memang telah berupaya dalam memperluas pengaruhnya di benua Afrika dengan beberapa proyek. Sehingga membuat banyak negara di Afrika untuk memilih diam atas serangan Rusia ke Ukraina.

Upaya Rusia dalam memperluas pengaruhnya dan mendorong hubungan kerja sama dengan Afrika dapat dilihat berdasarkan pada struktur hubungan tradisional yang baik dan potensi kerja sama yang banyak dari berbagai bidang. 

Jika dilihat dari sejarah hubungan bilateral, banyak peranan penting yang telah dilakukan oleh Rusia terhadap Afrika dalam membebaskan benua. Seperti, membantu banyak bangsa Afrika dalam memperjuangkan dan menentang mengenai kolonialisme dan apartheidism

Rusia telah membantu orang-orang Afrika dalam membela kemerdekaan dan kedaulatan, membangun Tanah Air, membentuk basis-basis perekonomian nasional, serta membangun angkatan bersenjata yang mampu bertempur. 

Rusia telah ikut membangun infrastruktur penting, pabrik-pabrik hidrolistrik, jalan dan pabrik-pabrik industri di negara-negara Afrika. Ribuan orang Afrika juga telah menamatkan pendidikan di beberapa universitas Rusia.

Rusia juga diterima baik oleh negara-negara di Afrika, karena beberapa hal yaitu:

Pertama, Rusia tidak pernah menjajah Afrika, sehingga banyak orang Afrika yang menghormati akan hal tersebut. 

Kedua, Rusia telah berkontribusi dengan memberikan pinjaman tanpa memperbudak orang-orang Afrika. 

Oleh karena itu, Afrika berpikir akan hal pembangunan karena adanya potensi Rusia untuk investasi dan dapat menumbuhkan ekonomi agar dapat mengurangi kemiskinan dan ketergantungan.

Bersedia menyambut  peluang baru

Selama ini, Amerika Serikat, China ataupun Uni Eropa telah menjadikan Afrika sebagai target dalam perlombaan mengenai persaingan geostrategis tradisional antara satu sama lain.

Akan tetapi, saat ini telah berbeda. Sebab, Rusia memiliki keinginan untuk dapat memulai permainan baru agar kepentingan-kepentingan geo-politik di Afrika dapat lebih banyak ditemukan. 

Tekad Rusia untuk memperkuat kerja sama dengan Afrika diwujudkan secara jelas dengan adanya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dan juga Forum Ekonomi Rusia-Afrika.

Presiden Rusia, yaitu Vladimir Putin menegaskan jika Rusia bersedia bersaing untuk melakukan kerja sama dengan Afrika. 

Salah satu tujuan diplomatik utama Rusia adalah membangun dan memperkuat hubungan dengan negara-negara Afrika dan organisasi integrasi yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. 

Pada pertemuan dalam forum ekonomi Rusia-Afrika kali ini, Rusia direncanakan untuk menyarankan kepada para mitra Afrika untuk saling menyelidiki dan memanfaatkan aset seperti emas, perunggu, atau minyak dan gas.

Pada tahun lalu dan awal tahun ini, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov melakukan kunjungan-kunjungan di negara-negara yang dekat dengan Sahara dan Afrika Utara. 

Selain itu, Rusia juga berusaha menunjukkan peranan dan suara terhadap negara-negara Afrika di forum-forum seperti BRICS (yang meliputi Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan); Uni Afrika atau Komunitas Ekonomi Afrika Barat. 

Tidak hanya sampai disitu, Presiden Vladimir Putin juga menegaskan akan membuat rangkaian strategi kerja sama mengenai perkembangan yang lainnya dengan Barat ataupun China.

Strategi ini mengacu pada kesepakatan untuk tidak menggunakan ancaman atau tekanan eksternal yang disamarkan sebagai investasi, tidak mengeksploitasi semua sumber kekayaan yang ada, dan tidak “menjebak investasi” terhadap negara-negara di kawasan.

Menteri luar negeri Rusia, yaitu Sergey Lavrov menegaskan mengenai penambahan untuk mendorong kerja sama dengan benua Afrika dalam pedoman kebijakan luar negeri Rusia. 

Pemerintah Rusia akan mempersiapkan KTT Rusia-Afrika yang kedua setelah berhasilnya KTT pertama yang dilaksanakan pada 2019 di Sochi, Rusia.

Sergey Lavrov menjelaskan jika, KTT kedua akan diselengarakan pada 2023 dan persiapannya sudah dimulai dari sekarang.

Lavrov juga menginfokan jika peserta dari negara kelompok kerja sudah membicarakan parameter kesepakatan kerja sama masa depan yang penuh arti.