Mahasiswa
2 tahun lalu · 360 view · 5 min baca menit baca · Politik millennials.png
moneter.co.id

Afiliasi Millennial Indonesia dengan Partai Politik

Menurut seorang filsuf Yunani yang bernama Heraklaitos, “Satu-satunya hal yang konstan adalah perubahan”. Jika kita kaitkan pernyataan tersebut ke dalam ranah kehidupan kita sehari-hari, kita dapat mengasosiasikan pernyataan tersebut dengan tepat.

Perubahan saat ini terjadi dengan sangat cepat dan massif. Hal ini didukung dengan inovasi-inovasi bidang teknologi yang sangat cepat lajunya. Lima tahun lalu mungkin kita tidak menyangka bahwa kita dapat bersinergi dengan abang ojek pangkalan seperti dengan saat ini.

Perubahan-perubahan pun terjadi di dalam lingkup sosial. Semakin berkembangnya teknologi membuat kita semakin mudah mencari informasi-informasi baru dari berbagai belahan dunia lain.

Teknologi pula yang mendorong terjadinya berbagai peristiwa politik, bagaimana sebuah tanda pagar #occupywallstreet berhasil menggerakan massa di Amerika Serikat untuk menuntut dan menangani permasalahan disparitas pendapatan, atau bagaimana media sosial berperan sebagai katalis dalam gerakan arab spring yang merubah geliat perpolitikan di jazirah arab.

Dalam lingkup yang lebih sederhana, kita dapat melihat bagaimana saat ini para calon presiden aktif menggunakan media sosial untuk melakukan pendekatan kepada khalayak ramai.

Kemunculan Millennial

Melihat hal-hal yang terjadi tersebut, tidak aneh rasanya jika kita berasumsi bahwa di masa depan dinamika sosial politik pun akan sangat kuat dipengaruhi oleh penggunaan teknologi dimaksud. Apabila kita simak penggunaan teknologi dimaksud, mayoritas pengguna teknologi dimaksud merupakan Generasi Y atau biasa disebut Millennial.

Secara global Millennial dikategorikan sebagai generasi yang lahir dari tahun 1980 hingga 2000, Sebuah generasi yang masif secara jumlah, berdasarkan infografis yang disusun oleh GoldmanSachs, Millenials di Amerika Serikat berjumlah 92 juta orang, melampaui generasi-generasi pendahulunya seperti Generasi Baby Boomers yang berjumlah 77 juta orang (lahir dalam rentang tahun 1945-1964), dan Generasi X yang berjumlah 61 juta orang (lahir dalam rentang tahun 1965-1979).

Kondisi yang tidak jauh berbeda pun dijumpai di Indonesia, berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010, yang diolah oleh penulis, jumlah Generasi Millennial mencapai lebih dari 84 juta jiwa.

Millenial merupakan Generasi yang unik. Mereka merupakan generasi yang akrab dengan teknologi, memiliki pandangan ideal terhadap dunia, dan ingin aktif untuk melakukan perubahan di dunia.

Di sisi lain, pergesekan yang terjadi antara Millennial dengan generasi-generasi terdahulu, menyebabkan Millennial sering dianggap sebagai pembangkang dan keras kepala. Lebih jauh, Millennial sering beranggapan bahwa dunia berputar dengan mereka sebagai porosnya, sehingga mereka sering dianggap sebagai pribadi yang egois.

Millennial dan Afiliasinya terhadap Politik

Millennial bukanlah pribadi yang setia pada hal-hal yang bersifat organisatoris, dimana mereka lebih mengedepankan gagasan. Afiliasi Millennial dengan politik pun cenderung lemah. Mereka lebih tertarik dengan konsep dan ide yang ditawarkan, dibandingkan dengan sekedar jargon-jargon politik.

Mengingat hal tersebut, maka kita dapat memaklumi bagaimana Generasi Millennial saat ini lebih tertarik dengan rencana dan ide yang ditawarkan oleh seorang figur dibandingkan dengan afiliasi kepartaian figur tersebut. Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh JakPat terkait dengan Preferensi Politik Millennial, proporsi Millennial yang mengasosiasikan politik dengan hal-hal negatif sangatlah besar.

Politik diidentikan dengan korupsi, kotor, rumit, ribet, dan uang, dimana hal-hal tersebut bukanlah merupakan esensi yang ingin didapatkan dari proses berpolitik sesungguhnya.

Kondisi tersebut dapat dipahami mengingat dalam kurun waktu 10 tahun ke belakang, memang banyak hal-hal negatif yang muncul sebagai dalam dunia perpolitikan Tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas hal tersebut melibatkan kader partai politik yang duduk sebagai anggota dewan atau pun yang tengah mengemban tugas sebagai pejabat negara.

Hal ini turut mendorong pandangan negatif Generasi Millennial terhadap kinerja Partai Politik. Hal ini mendorong Generasi Millennials tersebut untuk lebih mendekatkan afiliasi mereka terhadap figur, dimana figur yang  diasosiasikan mendekati impian mereka, dimana figur tersebut bisa jadi haruslah techsavvy, tegas, humoris, atau mungkin seiman, akan mendapatkan dukungan mereka.

Perubahan Partai Politik

Mengingat Generasi Millennial merupakan generasi yang memiliki pandangan egosentris, dimana mereka akan merasa dihargai apabila pendapat mereka didengar atau diperhatikan. Maka Penulis beranggapan bahwa sudah seharusnya Partai Politik di Indonesia mengubah imaji yang mereka bangun dan mengubah pola pendekatan konstituensi mereka.

Saya rasa pendekatan lama seperti kaderisasi atau politik organisasi harus diperkuat dengan adanya kampanye kreatif dan sikap yang jelas dari Partai Politik terhadap satu isu. Kekuatan, atau mungkin Saya anggap kelemahan Partai Poiitik di Indonesia selama ini yang bersifat catchall, sudah harus ditinggalkan secara perlahan.

Saat ini Generasi Millennials mungkin tidak mengetahui perbedaan memilih Partai A dengan Partai B, dimana apabila hal ini diteruskan ke depannya, hal ini akan menjauhkan Millennial dari Partai Politik itu sendiri.

Afiliasi dan loyalitas Millennial terhadap Partai Politik yang sangat lemah ini seharusnya dapat diperkuat dengan penjualan ide-ide segar dari Partai Politik. Ke depan, seharusnya Partai Politik berani menjual komitmen terhadap isu kesetaraan gender, pemanasan global, diskriminasi rasial atau agama, bahkan mungkin isu-isu pengembangan sharing economy atau perlindungan terhadap hewan domestik.

Dengan adanya perkembangan teknologi dan platform untuk melakukan cek dan control, rasanya akan semakin mudah bagi Millennial untuk melakukan cek dan kontrol terhdap perkembangan isu-isu tersebut ke depannya.

Berangkat dari pernyataan Heraklaitos di awal, sudah seharusnya Partai Politik memandang kemunculan Millennial sebagai sebuah hal yang patut diperhitungkan. Partai Politik seharusnya dapat melakukan sinergi dengan kelompok ini, kejadian deparpolisasi yang sempat menjadi isu dalam Pilkada Jakarta beberapa waktu lalu sesungguhnya menunjukkan gejala antipati Millennial terhadap Partai Politik.

Penulis tidak bermaksud atau mendorong adanya deparpolisasi, penulis justru beranggapan bahwa Partai Politik merupakan elemen penting dalam kehidupan bernegara di Indonesia, sehingga penulis beranggapan modernisasi partai politik mutlak diperlukan ke depannya sebelum partai-partai yang tidak bisa beradaptasi tersebut tergerus roda perubahan.

Cerminan bagi Millennial di Indonesia

Di sisi lain, keakraban Millennial dengan teknologi dapat menjadikan Millennial sendiri sebagai sebuah potensi yang bersifat positif atau negatif. Sudah sering kita mendengar bahwa kemajuan penetrasi teknologi yang terjadi di Indonesia belum dibarengi dengan perkembangan wawasan berteknologi pengguna. Dimana pengguna saat ini masih berada dalam tarah konsumsi tanpa melakukan filterisasi konten yang dilihat atau pun dibaca.

Sehingga tak ayal hal ini menyebabkan rangkaian reaksi hate speech yang bisa jadi muncul dalam kolom komentar di sebuah portal berita atau sebuah laman media sosial.

Sudah seharusnya Millennial di Indonesia lebih menaruh perhatian dalam dunia perpolitikan dan memperjuangkan pandangan-pandangan yang didukungnya, karena dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan, Millennial akan menjadi penggerak utama dalam roda berkehidupan di Indonesia, dan di dunia.

Sinergi antara kehidupan ekonomi, sosial dan politik sangatlah dekat, sehingga Penulis rasa sudah seharusnya Millennials acuh terhadap kehidupan berpolitik dan turut serta sebagai peserta dalam membangun kehidupan politik  di Indonesia. Dimana ke depannya, politik dapat diasosiasikan sebagai hal yang membawa keadilan bagi rakyat, membawa perubahan yang positif bagi negara, dan mampu membawa Indonesia berperan penting dalam kancah global.

Sekian.

#LombaEsaiPolitik

Artikel Terkait