Baru-baru ini, aku mendapat pesan WhatsApp dari teman sesama organisasi LISAN, Kiya. Kiya yang smart itu punya ide yang keren. Katanya, dia mau buat arisan buku khusus dengan teman-teman perempuan. Niat ini untuk membuat teman-teman perempuan jadi (lebih) banyak membaca dan yang terpenting punya buku sendiri.

Lanjutnya, apalagi punya buku tentang perempuan, bacaan yang terkait dengan perempuan. Minimal mengetahui diri sebagai perempuan dan sebisa mungkin agar bisa mengikuti perkembangan isu-isu perempuan terkini dengan punya ilmu keperempuanan.

Aku membalasnya dengan berkata, Ayo! Bagaimana dengan sistemnya? Selama ini, aku hanya ikut arisan uang. Arisan uang itu sistemnya sudah familiar. 

Awalnya, kita mengumpulkan orang-orang yang berminat dengan arisan tersebut. Kemudian kita mengumpulkan uang sesuai dengan ketetapan yang ditetapkan. Lalu, setiap minggu, atau per bulan, arisan itu kemudian diundi atau digoncang (istilah di Sulawesi) untuk memilih siapa yang akan mendapat uang yang telah dikumpulkan itu. 

Ini akan dilakukan terus-menerus secara bergiliran sampai semua mendapat uang yang telah dikumpulkannya sedikit demi sedikit secara kumulatif.

Atau ada juga arisan barang yang kuketahui. Sistem arisan barang itu hampir sama dengan arisan uang. Bedanya, ketika diundi, bukan uang kita dapatkan, tapi kita akan mendapatkan barangnya.

Kata Kiy, sistemnya begini: kalau misalnya ada sepuluh orang yang mau ikut arisan buku, maka dalam setiap dua minggu kita akan mengumpulkan uang sekitar sepuluh ribu per orang. Jadi, kita akan mencari buku-buku yang harganya sekitar Rp100.000. Nanti ketika diundi, kita akan mendapatkan sekitar satu atau dua buku yang sama.

Beberapa buku-bukunya yang aku lihat judulnya memang perempuan banget, banyak kaitannya dengan perempuan. Materi keperempuanan sesuai dengan materi-materi Lisan. 

Buku-buku itu, di antaranya: Analisis Gender & Transformasi Sosial oleh Dr. Mansour Fakih, Perempuan dalam Budaya Patriarki oleh Nawal El Saadawi, My Soul Is A Woman oleh Annemarie Schimmel, Wanita yang Merindukan Surga oleh Esty Dyah Imaniar, Feminisme untuk Pemula. Atau judul lain, seperti Masyarakat Tanpa Tuhan, Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, Layla Majnun, dan lain sebagainya.

Mengapa Perempuan Harus Membaca Buku

Aku mendukung arisan ini. Arisan buku ini pasti asyik dan seru sekali. 

Aku setuju sekali dengan niat Kiya. Kami berdua bahagia dan bersyukur. Apalagi teman-teman (perempuan) banyak yang berminat. Kami hanya mengumpulkan uang, berarisan, nanti dapat buku. 

Hari gini, tidak semua orang mau mengeluarkan uangnya untuk buku. Masih banyak yang berpikir panjang dan berpikir dua kali untuk membeli buku apalagi (mungkin) bagi perempuan.

Perempuan sebagai mahasiswa yang berlabel mahasiswi terkadang kurang berminat untuk membeli buku. Apalagi kemajuan teknologi saat ini, kita dengan mudah mendapatkan e-book di internet. 

Aku pribadi lebih memilih membaca buku daripada di gawai, alasannya mata yang tidak sakit, buku bisa dicorat-coret untuk mendapatkan poin-poin pentingnya, dan serasa punya teman saja kalau dibawa ke mana-mana (dibawa saja, tidak dibaca?). 

Buku untuk dibaca dan dibagi isinya, ilmunya, walaupun berbagi ilmunya cuma dengan jalan diceritakan. 

Seorang emak-emak pernah bilang padaku, “Baru lihat tebalnya saja, sudah buat sakit kepala, bagaimana mau dibaca?” katanya ketika kuperlihatkan suatu novel yang tebal. Akhirnya, isi novel itu kuceritakan sedikit.

Dulu, waktu aku kuliah, aku pernah mendengar stigma yang dikeluarkan dosenku ketika melihat teman-temanku datang terlambat di kelas. Mereka adalah perempuan-perempuan keren. 

Aku katakan mereka keren karena mereka yang sudah tinggi sampai pakai high heels pula, dan cantik dengan make-up terkini, jadi kayak model begitu. Aku tidak tahu, apa karena mereka datang terlambat sehingga membuat dosen kesal sampai-sampai dosen ini berkata, “Perempuan yang cantik itu biasanya tidak terlalu pintar.”

Aku tidak tahu, pintar di sini artinya apa? Apakah arti pintar di sini berhubungan dengan waktu? Kalau teman-temanku tidak pintar membagi waktu, sehingga terlambat datang di kelas. Atau karena teman-teman hanya menomorsatukan penampilan ini, jadi “otak” mereka menjadi nomor dua. Artinya, mereka tidak terlalu memperhatikan ilmu dan pengetahuan dari dosen.

Aku jadi terpengarah dengan pendapat dosenku tadi, apalagi beliau adalah dosen laki – laki. Bisa saja dia berkata begitu karena dia merasa berkuasa sebagai dosen dan sebagai laki-laki kalau perempuan itu tidak pintar dan hanya memperhatikan mukanya dan penampilannya saja.

Itu baru stigma dari dosen. Aku juga pernah dikomentarin orang dengan kata-kata mutiara, “Bedaknya jangan ketebalan!” Padahal, aku ini perempuan yang tidak suka pakai bedak tebal-tebal kecuali kalau acara tertentu semisal ke pesta. Ini karena aku mengomentari sesuatu yang berlawanan alias bersimpangan dengan laki laki tersebut. 

Atau status WA seorang teman laki laki (juga) yang mengomentari perempuan yang cantik tapi buat video yang tidak mengkritisi kebijakan kampus dengan bijak dengan kalimat, “Jangan muka saja yang dibuat glowing, otak juga!”

Waduh, urgen banget kalau perempuan itu harus pintar.

"I know what women want; they want to be beautiful." (Valentino Garavani)

Seorang desainer yang bernama Valentino Garavani mempunyai kutipan seperti di atas. Katanya, “Saya tahu apa yang perempuan inginkan, perempuan ingin (menjadi) cantik.” 

Kalau aku menjawab, pasti aku akan menjawab. Iya, itu benar. Tapi menurutku, perempuan tidak hanya ingin cantik. Perempuan juga ingin pintar. Perempuan paling suka disebut sebagai perempuan yang cantik dan pintar. Tapi, kalimat perempuan itu pintar yang paling kami sukai.

Aku pernah menulis status di WA dengan kalimat: “Pilih mana? Beli kosmetik atau beli buku? Cantik atau Pintar? #Perempuan.

Teman-teman banyak yang mengomentari dengan kata, beli buku. Tidak hanya dari teman perempuan, teman laki laki pun mengomentarinya, padahal pertanyaan ini untuk kaum perempuan. 

Laki-laki ingin perempuan itu pintar. Apalagi perempuan itu sendiri. Para perempuan banyak menjawab. “Pilih buku.” “Buku dong!”, “Beli buku supaya pintar.” 

"Karena cantik itu relatif, saya pilih pintar saja.” Walau ada juga yang menjawab seperti ini, “Cantik pintar. Kalau dua-duanya bisa, kenapa tidak?” So, female power is not beauty, tapi kecerdasan perempuan itu sendiri.

Artinya, perempuan tidak mau cuma dinilai dari mukanya, parasnya, tapi juga otaknya, kepintaran mereka dalam mengetahui sesuatu. Mereka pintar mengerjakan tugasnya, dan mereka pintar memberikan solusi. Kepintaran bisa diperoleh dengan salah satunya cara membaca, apalagi membaca buku. Untungnya ada arisan model begini, arisan buku.

Terakhir, aku suka sekali dengan tokoh MJ di Spiderman Homecoming yang diperankan oleh Zendaya. Dia terlihat cantik dengan menjadi dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga terlihat sangat cerdas. 

MJ digambarkan remaja yang menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Dia tidak hanya membaca buku di kelas, namun juga di kantin, bahkan di lapangan olahraga. 

Dia menjadi perempuan terkeren di film itu, tanpa harus dandan habis-habisan untuk menjadi cewek cantik. Dia menjadi cewek terkeren karena menjadi peserta semacam cerdas cermat yang menentukan kemenangan kelompoknya di sekolah lain. Dia juga menjadi cewek terkeren karena akhirnya si Spiderman akhirnya mulai “meliriknya”. 

So, mending adu pintar daripada adu cantik, kan?

Makassar, 150519