Consulting
3 minggu lalu · 99 view · 4 min baca menit baca · Cerpen 28125_24208.jpg
Foto: Woles 'n Copas Blogger's

Adeira dan Teruna

Dan lagi – Jakarta, kota kelahiran Teruna itu memberi kenang-kenangan hidup yang tidak biasa. Perpisahan telah menguraikan rasa rindunya yang tak lagi muat tercatat waktu. Andai saja ada sebuah kekuatan yang bisa mengikat waktu, barang tentu semua kesalahan-kesalahan manusia di masa lalu bisa ditarik ulang.

Ah, apalah? Berdamai dengan waktu ternyata tiada bisa mengubah apa-apa.

Ini tentang rindu! Tentang selapis kisah rahasia anak-anak muda kita yang jatuh cinta di saat-saat terakhir.

***

Langit masih seperti langit yang dulu. Dan setiap Jumat sore, Teruna masih selalu kembali ke Stasiun Klender. Sengaja. Pada jam dan menit yang sama ia selalu duduk di pojokan biru di salah satu bangku peron, persis di samping eskalator yang penuh sesak orang berlalu-lalang. Selalu seperti itu. Dan mungkin akan tetap seperti itu.

Pak Doim, kepala security yang bertanggung jawab atas keamanan dan kenyamanan penumpang di Stasiun Klender akhirnya menghampiri pria bermata binar tersebut.

“Heran saya! Sedang menunggu siapa, nak? Pacarmu? Bapak tahu. Kamu tidak sedang menunggu kereta.”

Teruna yang menyadari ada orang menyapa, lekas membalas sapaan suara berasal. Sejurus waktu mereka terlibat perbincangan. Mereka saling mendengar dan berbalas kata.

“Edan! Edan! Jadi elu selalu ziarah kemari nie tiap Jumat sore. Emangnya mau ngapaen? Pan ini bukan kuburan.”

“Roman-romannye eluh lagi jatuh cinte nih tong. cerita ngape.”

  ***


Jumat, 28 desember 2018. Adeira resign dari kantornya. Semua pasang mata mengikuti gerak-geriknya saat wanita berkulit putih itu menyalami satu persatu rekan kerjanya. Tak sedikit juga para pria yang disalaminya itu terlibat menggodanya.

Jujur. Tanpa seragam kerja ia tampak terlihat jauh lebih mempesona. Adeira memang cantik. Saanggaaat cantik. Teruna pun mengakui itu. Adeira itu seperti kamboja muda, harum bertebaran melawan angin. Adeira juga manis umpama gendhis Jawa, apalagi saat sedang menahan geli tawa, rona pipinya akan berubah menjadi kemerah-merahan. 

Teruna sering memperhatikannya. Melihat bagaimana ia menggenakan dan melepas sanggul. Melihat bagaimana caranya berjalan. Memperhatikan bagaimana cara ia bekerja. Cara ia bernafas. Cara ia makan, minum, tidur, dan bercerita. Teruna sangat menikmatinya.

Dasar Teruna yang bodoh. Sudah sering ngobrol tapi belum juga jatuh cinta. Suatu ketika selepas shalat Ashar bersama, Aderia bercerita tentang keinginannya untuk menikah muda. Ia ingin menjaga diri dari banyak mata yang menggoda. 

Ia juga mengutarakan bahwa pernikahannya nanti tidak perlu mewah. Selepas nikah pun ia ingin tetap berkerja, karena cita-citanya ingin menjadi penulis. 

Ia pun bercerita kelak ingin selalu bermain bersama di rumah Teruna, bersama anak-anaknya yang lucu. Yang ia susui dari putingnya sendiri. Yang sepanjang hari akan diciuminya seperti mawar.

Dasar Teruna oon. Diberi isyarat belum juga mengerti. Harusnya ia paham arah dari cerita itu. Harusnya ia peka bahwa setiap kata-kata Adeira itu mengandung harapan padanya. Goblok! Apa boleh dikata. Teruna bukanlah perasa yang ulung, ia hanya penggombal amatiran.

***

Foto: Pixabay

“Mungkin kita tidak akan bertemu lagi Adeira,” kata Teruna.

“Siapa tahu nanti ketemu. Teruna dunia kita tidak luas,” Adeira tersenyum menenangkan Teruna yang gundah.

Entah apa yang mendorong. Tiba-tiba Teruna ingin menjadi orang terakhir yang melepas kepergian Adeira. Sepanjang perjalanan di commuter line jurusan Bekasi mereka duduk sangat dekat. Tangan anak muda itu saling bersentuhan. Seperti saling menguatkan.

Sebagai seorang pria biasa, Teruna tidak akan pernah bisa lupa pada bulu-bulu lembut yang meremang saat ia hampir saja mengecup kening Adeira. Seumur hidupnya pun ia tidak akan lupa, saat mata Adeira menyentuh bola matanya. Masuk menerobos sampai ke urat nadi. Teruna mulai bisa merasakan cinta. Tapi mengapa? cinta hadir di saat-saat terakhir.

“Adeira, kamu cantik.” Untuk kesekian kalinya Teruna memuji si jelita itu yang kini tengah berada sangat dekat di sisi kanannya.

Adeira adalah perempuan yang berbeda dari kebanyakan orang. Sikapnya tegas tapi juga lembut. Pintar berlogika dan menjebak kata pada lawan bicaranya. Bagi yang baru kenal pasti akan melihatnya dingin. 


Suatu ketika ia pernah memaki habis-habisan seorang lelaki yang mengodanya. Ternyata untuk menjaga diri, ia sering melakukan itu. Singkat punya kata, banyak lelaki naksir Adeira, namun enggan mendekatinya.

Adeira adalah api yang siap memericik apapun yang tidak ia khendaki. Teman-temannya pun hanya mengenal sebatas namanya. Tidak dirinya. Adeira pandai berahasia. Barangkali, Adeira adalah rahasia itu sendiri. Meski tidak menjadi yang terdekat, hanya Teruna orang yang dipercayai sebagai tempat berbagi hari. Teruna adalah roti yang mengenyangkan bagi Adeira.

Teruna sendiri hanya lelaki biasa yang ikut serta mengagumi kejelitaan Adeira yang begitu tersohor, bak Dewi Kilisuci yang dikenal banyak orang. Teruna selalu mengingat baik-baik setiap berbincang dengan Adeira. 

Baginya, Adeira seperti lentera berjalan yang menerangi pengetahuannya. Wajar jika Teruna selalu mencuri kesempatan untuk bisa berduaan dengannya.

Sayang, Teruna adalah peragu. Meski baru belajar menghitung, tapi sudah penuh hitung-hitungan dalam hidupnya. Mungkin itu yang tidak disukai Adeira.

***

Kereta sudah berhenti. Kedua anak muda kita itu berjalan keluar dari gerbong kereta. Di salah satu bangku peron Stasiun Klender, persis di bawah eskalator yang riuh dengan orang lalu-lalang, Teruna dan Adeira duduk berdua. Berpandang-pandangan. Bertatapan.

Kedua anak muda itu saling berbisik. Rela tidak rela mereka rupanya.

“Kamu jaga diri, Teruna,” Adeira berbisik.

“Kamu harus selalu sehat, Adeira. Salam buat ibu kamu. Dan salam doa buat ayah kamu. Katakanlah padanya, satu saat nanti, jika niat baik itu tiba, semua akan indah pada waktunya.”

“Aku ngak ngerti, Teruna? Niat baik apa?” Adeira bertanya.

Obrolan anak-anak muda kita itu harus terpotong saat mobil calya putih B1265KHI berhenti tepat di pintu keluar Stasiun Klender. Adeira bergegas meninggalkan Teruna sendiri. Rambut panjangnya terurai mengelus dengan lembut pada muka Teruna yang masih termangu bagai kehilangan kewarasannya.

Artikel Terkait