Berdasarkan KBBI, adaptasi adalah penyesuaian diri terhadap kondisi lingkungan yang baru. Keadaan pandemi yang melanda dunia sudah berjalan hampir satu tahun lamanya. Bukannya keadaan semakin membaik, ternyata masalah Covid-19 bertambah dari hari ke hari. Dikutip dari laman situs WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia, angka kasus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 1.300.000. Masyarakat secara terpaksa harus dikarantina dan dituntut mengubah cara hidup mereka mengikuti keadaan sekarang. Pertanyaannya adalah apakah adaptasi itu mudah dilakukan? Benarkah kita sudah beradaptasi dengan baik pada masa pandemi ini?

Pada masa pandemi, masyarakat merasa cemas dan takut akan terjangkit Covid-19. Tanggapan mental yang seperti itu dapat membuat keadaan psikologi masyarakat menjadi tidak stabil. Dikutip dari BBC News, para ahli memperingatkan bahwa sebagian kecil orang bisa mengalami masalah kesehatan mental yang berkepanjangan, bahkan lebih lama dari pandemi itu sendiri. Dari jurnal The Psychology of Pandemics, yang ditulis oleh Steven Taylor, seorang professor psikiater di Universitas British Columbia, menyatakan bahwa “10 hingga 15% popularitas kehidupan orang” tidak akan bisa kembali sama karena dampak pandemi pada kesejahteraan mental mereka. Tidak sedikit orang yang merasa ketakutan akan masa pandemi. Oleh karena itu, masyarakat harus diberikan pengarahan mengenai Covid-19 dan pengarahan mengenai cara beradaptasi pada masa pandemi saat ini.

Salah satu contoh yang bisa kita lihat adalah siswa/i sekolah yang tidak dapat beradaptasi dengan masa pandemi. Siswa/i sekolah merasa jenuh dengan keadaan yang tidak bisa keluar dari rumah atau school from home. Tak luput pula, banyak siswa yang menjadi stres karena perubahan keadaan dan akhirnya jatuh sakit secara fisik dan mental. Bukan hanya siswa, orang yang bekerja di perusahaan atau di tempat lain mengeluh akan stres berlebih karena perubahan cara kerja dari kerja di kantor menjadi work from home.

Menurut IPK (Ikatan Psikologi Klinis) Indonesia, dalam jurnal Psikologi Klinis Indonesia, masalah psikologi yang terjadi pada masa pandemi dapat dibagi dalam enam kategori besar. Yang pertama adalah masalah belajar pada anak-anak dan remaja. Disebutkan bahwa sekitar 27,2% masalah psikologi pada masa pandemi dikarenakan masalah belajar pada anak-anak dan remaja. Anak-anak dan Remaja sangat sulit untuk beradaptasi dengan sistem baru yakni sistem belajar dari rumah atau melalui online platform. Yang kedua keluhan stres dari anak kecil sampai orang dewasa. Persentase keluhan stres (29,5%) adalah persentase terbesar dalam masalah psikologi pandemi. Keluhan stres secara konsisten ditemukan di semua kelompok usia, di mana setiap keluhan mengenai keluhan stres akibat bekerja atau belajar dari rumah. Keluhan kecemasan menempati nomor tiga.

Sama halnya dengan keluhan stres, keluhan kecemasan ditemukan di semua kelompok usia dengan persentase sebesar 18,9%. Yang keempat, keluhan mengenai suasana hati yang tidak menentu. Perubahan suasana hati yang tidak menentu menghambat pekerjaan masyarakat. Persentase dari masyarakat yang mengeluh perubahan suasana hati yang tidak menentu adalah sebesar 9,1%. Yang terakhir adalah keluhan somatik. Keluhan somatik atau keluhan somatis adalah keluhan di mana orang merasa semua bagian tubuhnya merasa sakit, tetapi saat diperiksa secara medis, tidak ada bagian yang terluka atau sakit. Hal ini termasuk masalah mental yang semakin meningkat setelah pandemi. Persentasenya sebesar 5,7%. Dilihat dari data yang disebutkan, masalah psikologi masyarakat sudah dapat dikategorikan sebagai masalah yang butuh penanganan lanjut.

Sedangkan sebagian orang lagi yang mengalami cemas pada awal masa pandemi sanggup beradaptasi dengan baik dengan keadaan, sehingga persentase munculnya gangguan kesehatan mental sangatlah kecil pada orang-orang tersebut. Ada pula sebagian orang yang langsung beradaptasi dengan keadaan pada masa pandemi ini. Mereka menilai situasi dengan cepat alhasil lebih cepat beraptasi. Tetapi tidak bisa dipungkiri, persentase orang yang sulit beradaptasi pada masa pandemi sangatlah besar dan bisa menjadi masalah yang rumit pada masa yang akan datang. Pemerintah sudah menyatakan bahwa Indonesia telah beradaptasi dengan perubahan pada masa covid-19. Akan tetapi, kenyataannya adalah masalah psikologis di masyarakat semakin bertambah dari hari ke hari. Di lihat dari survei yang dilakukan oleh IPK, ada peningkatan sebesar 0,87% per hari dalam masalah kesehatan mental masyarakat.

Berbagai upaya telah dilakukan agar masalah psikologi masyarakat dapat diselesaikan. Salah satunya adalah berbagai organisasi psikologi menyebarkan saran cara adaptasi di media-media yang dapat dijangkau masyarakat, misalnya dengan menyebarkannya di media sosial, televisi, dan koran. Ada empat saran beradaptasi yang dilansir dari laman Cleveland. Yang pertama, berdamai dengan keadaan. Menurut psikolog klinis Adam Borland, salah satu bagian terpenting agar sukses beradaptasi adalah menerima kenyataan bahwa keadaan ini merupakan hal baru bagi semua orang. Borland menyarankan agar kita tetap berusaha untuk melewati proses adaptasi ini dengan mempertahankan rutinitas harian walaupun merasa kesal dan kecewa.

Yang kedua adalah tetap berkomunikasi dengan orang lain. Dengan membicarakan dan mendiskusikan hal-hal yang membuat kita tidak nyaman dengan orang-orang di sekitar kita, perasaan kita tetap stabil dan tidak merasa sendiri selama masa pandemi. Saran yang ketiga adalah agar kita tetap mempertahankan keseimbangan emosi. Seperti yang telah dijelaskan di awal artikel ini, perubahan suasana hati merupakan salah satu masalah mental yang meningkat pada masa pandemi. Maka dari itu, menjaga keseimbangan emosi merupakan salah satu cara agar bisa beradaptasi.

Yang terakhir adalah fokus pada masa sekarang atau masa kini. Kita tidak perlu berpikir negatif akan masa depan yang belum pasti. Borland menyebutkan bahwa masyarakat terlalu membayangkan hal buruk pada masa depan. Karena faktor tersebutlah masyarakat sulit dalam beradaptasi dengan berbagai keadaan. Itulah saran-saran yang sering didengar ataupun dibaca di media sosial saat ini. Mudah untuk mengatakannya, tetapi sulit melalukan hal-hal yang telah disebutkan.

Dari semua yang telah dibahas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Indonesia belum sepenuhnya beradaptasi dengan keadaan pandemi. Bukan hanya semakin banyak masyarakat terjangkit Covid-19, tetapi masalah psikologi juga bertambah banyak. Seharusnya, pemerintah lebih peduli mengenai masalah psikologi masyarakat. Jikalau masalah Covid-19 telah selesai, tetapi masalah mental masyarakat tetap berlanjut, hal tersebut juga dapat menghambat restorasi Indonesia ke keadalan semula.

Referensi

“Indonesia : WHO Coronavirus Disease (COVID-19) Dashboard”. World Health Organization. 12 Februari 2021. 21 Februari 2021. https://covid19.who.int/region/searo/country/id.

Taylor, Stevan. 2019. The Psychology of Pandemics. Cambridge Scholars Publishing. https://play.google.com/store/books/details/The_Psychology_of_Pandemics_Preparing_for_the_Next?id=8mq1DwAAQBAJ&hl=en_US&gl=US. 21 Februari 2021.

[Depdiknas] Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta (ID): Balai Pustaka.

[IPK] Ikatan Psikologi Klinis. 2020. Jurnal Psikologi Klinis Indonesia. Vol. 5. No. 2. https://jurnal.ipkindonesia.or.id/index.php/jpki. 21 Februari 2021.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/. 21 Februari 2021.

Savage, Maddy. “Dampak Psikologis Akibat Pandemi Covid-19 Diduga Akan Bertahan Lama”. BBC News Indonesia. 6 November 2020. 21 Februari 2021.