Nila setitik rusak susu sebelanga. Mungkin itu menjadi peribahasa yang paling tepat menggambarkan apa yang dialami seorang pelawak kondang, Andre Taulany, saat ini. 

Bagaimana tidak, tujuh kata yang ia ungkapkan dalam acara talkshow komedi bertajuk “Ini Talkshow” justru dapat menyeretnya pada meja hijau. Andre dianggap telah menistakan agama Islam akibat celotehannya yang menyebut badan Nabi Muhammad mirip kebun bunga. “Aroma seribu bunga? Itu badan apa kebon?” ungkapnya.

Walau hal tersebut dilontarkan Andre pada dua tahun silam, yakni tahun 2017, namun itu tidak menyurutkan seorang yang bernama Sulistyowati untuk melaporkannya ke pihak berwajib. Itu terwujud pada 4 Mei 2019 di mana ia menggunakan Pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama untuk melaporkannya ke Polda Metro Jaya. 

Telusur punya telusur, Sulistyowati ternyata berprofesi sebagai pengacara. Ia juga tergabung dalam Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Tak banyak yang bisa dilakukan seorang Andre Taulany. Tampaknya tidak ada pembelaan yang berarti yang ia sampaikan ke publik atas kasus yang menimpanya selain permintaan maaf. Itu terwujud ketika ia mengunjungi berbagai tokoh agama, pimpinan Persaudaraan Alumni (PA 212), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

Pil pahit yang ia telan tidak cukup sampai di situ. Andre juga diberhentikan sementara dalam acara televisi yang ia pandu bersama rekan komediannya, yakni Sule, dalam stasiun televisi Net TV. Selama berminggu-minggu, ia telah vakum pada lacar kaca. 

Hal yang menarik bahwa banyak orang yang menilai kejanggalan kasus ini. Faktor politik diduga menjadi salah satu alasan yang melatarbelakangi pelaporan yang telah dilakukan. 

Masih ada beberapa hal yang menyisakan tanya, seperti mengapa pelapor baru melaporkan kasus ini setelah dua tahun berlalu? Juga dengan latar belakang pelapor dan terlapor, apakah ada kaitannya dengan kondisi politik saat ini, di mana dikotomi antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto acap kali berbatas tegas?

Kedudukan Komedi dan Komedian

Tidak ada ruang bagi komedi dalam agama. Mungkin itu yang menjadi kredo sebagian orang ketika menilai kedudukan serta relasi antara agama dan komedi. Agama dipandang sebagai suatu hal yang ilahi, superior, berada di ‘atas’, dan menindas keberadaan komedi yang insani, inferior, serta berada di ‘bawah’.

Sang filsuf, Aristoteles, menjadi salah satu contohnya. Ia menyebutkan bahwa komedi memang dilakukan serta diperuntukkan untuk kaum inferior. 

Dalam karyanya yang bertajuk Poetics, ia menyebutkan bahwa komedi bertindak sebagai mimesis. Komedi, dipandang Aristoteles, sebagai tiruan serta representasi dari masyarakat kelas rendah seperti budak dan petani.

Namun itu tidak menjadikan komedi sebagai suatu hal yang eksklusif (hanya untuk kaum marjinal). Komedi justru digunakan oleh kelompok masyarakat ‘bawah’ sebagai sarana kritik. 

Dalam komedi, dimungkinkan inferior mengkritik superior atau yang berada di ‘bawah’ mengkritik yang berada di ‘atas’. Itulah sebabnya Aristoteles beragumen bahwa ada kekuatan besar yang dimiliki komedi, yakni kekuatannya untuk membebaskan mereka.

Kedudukan komedi inilah yang menjadikan komedian bertindak sebagai aktor penting. Bagus Laksana SJ menyebut komedian sebagai ritual purifier. Masyarakat digambarkan tertahan akibat memiliki segudang kritik, namun tidak punya wadah untuk menyampaikannya. Realitas mandek itulah yang kemudian dapat mempertebal kemungkinan terjadinya perpecahan dalam masyarakat. 

Di tengah situasi itu, komedian hadir sebagai ritual purifier. Ia menjadi katup atau celah untuk keluarnya letupan-letupan dari tegangan-tegangan masyarakat sehingga akhirnya tidak terjadi perpecahan yang berarti.

Relasinya dengan Agama

Perspektif utama yang harus digunakan dalam memandang komedi dan komedian, yakni sifatnya yang terbuka. Douglas menyebutnya sebagai sebuah kebebasan dari bentuk yang mengikat (freedom from form). Karenanya, komedi dan komedian harus dapat melintasi batas etnis, kultur, sejarah, dan agama, serta berdampingan dengan pengalaman sosial.

Unsur agama dalam komedi menjadi kajian tersendiri bagi Bakhtin. Ia merincikan kembali apa yang disebutkan Aristoteles pada tulisan yang sudah dijabarkan di atas. 

Jika Aristoteles mengaitkan komedi dari segi kelas (inferior-superior), Bakhtin justru mengaitkannya dengan agama. Baginya, kritik yang disampaikan oleh komedian dalam komedi juga berlaku bagi agama. Komedi dipandangnya sebagai suatu kekuatan yang memberdayakan (salvific) karena ketegasannya terhadap kekuasaan dan institusi agama.

Maka menjawab pertanyaan yang diusung dalam judul tulisan ini, sebenarnya tidak ada apa pun yang dapat menghalangi komedi dan komedian, termasuk agama sekalipun. Tentunya dengan memperhatikan dua syarat bahwa komedi tersebut dilontarkan dengan tujuan sebagai saluran kritik dari masyarakat, dan juga sebagai sarana pembebas dan pemberdaya.

Melihat penjabaran itu semua, makin kita diyakinkan bahwa menjadi komedian itu bukan hal mudah. Ada tanggung jawab yang terbeban baginya untuk dapat ‘mencabik-cabik’ norma sosial, pelbagai stereotip rasial dan seksual, pandangan politik, bahkan agama sekalipun. 

Ia harus dapat dengan mudah dan ringan menyentil ketidakberesan yang satu dengan ketidakberesan yang lain. Ia juga harus dapat menjembatani antara yang di ‘atas’ dengan yang di ‘bawah’. Tugas itulah yang menjadikan komedi dipandang sebagai lahan yang berbahaya. 

Disebutkan oleh Sindhunata SJ bahwa “tawa memang berbahaya bagi otoritas”. Saya kemudian memperluasnya bukan hanya sekadar berbahaya bagi otoritas, namun juga bagi siapa pun dan apa pun yang bangga akan superioritasnya, yang antikritik, serta mengekang kebebasan dan keberdayaan.

Selanjutnya, menjadi tugas kita bersama untuk merefleksikan diri tentang kehadiran komedi dan komedian di Indonesia. Apakah ia sampai pada tahap yang sudah dijabarkan di atas, atau hanya sekadar menawarkan tawa yang semu dan hampa? Ingatlah bahwa tawa memang tidak sesederhana yang dipikirkan!

Bacaan lebih lanjut:

  • Aristoteles, Poetics
  • Bakhtin, Mikhail. 1984. Rebelais and His World. Indiana: Indiana University Press.
  • Laksana, Bagus. 2014. Humor sebagai Ruang Budaya: Resistensi, Hibriditas, dan Ambiguitas dalam ECF 5 Desember 2014 Jurnal Universitas Parahyangan. Bandung: Universitas Parahyangan.
  • Douglas, Mary. 1975. “Jokes,” dalam Implicit Meanings: Essays in Anthropology. Abingdon: Routledge and Kegan Paul.
  • Sindhunata SJ. “Agama Seharusnya Tertawa”. dalam Majalah BASIS, 03-04 2018.