Sambil berkendaraan pagi itu saya sempatkan untuk membeli sebuah koran, sebuah koran yang di identikan oleh pembaca adalah koran kriminal. Ya koran itu memang dibuat untuk berita kriminal. Perihal dampaknya seperti apakah, setelah membaca koran  ini, belum ada yang tahu. Belum ada sebuah riset tentang perubahan perilaku setelah baca koran yang berbau kriminal?.

Sebenarnya dari jaman kerajaan dulu, kasus-kasus kriminal yang biasa sampai dengan yang berat, sudah ada. Namun sekarang ini intensitas itu semakin meningkat, bahkan berani terang-terangan, walaupun di situ banyak orang yang melihat.

Perihal pemerkosaan, mayoritas pelaku pemerkosaan adalah orang yang sudah mengenal korban atau pelaku sudah dikenali korban. Sehingga dimungkinkan pelaku lebih mudah menjalankan aksinya.

Dan sebagian besar korban pemerkosaan ini tidak lapor kepada pihak yang berwenang. Karena ancaman dari pemerkosa, atau bahkan dirinya akan menanggung malu.

Di dalam kasus kriminal pemerkosaan selalu menimbulkan trauma yang mendalam bagi sang korban, sementara sang pelaku, bisa jadi bebas mencari “mangsa” lain.

Secara umum definisi dari pemerkosaan adalah jenis serangan seksual yang biasanya melibatkan hubungan seksual atau bentuk penetrasi seksual lainnya yang dilakukan terhadap seseorang, tanpa persetujuan seksual dari orang tersebut.

Perbuatan tersebut biasanya diikuti dengan tindakan kekerasan fisik, pemaksaan, penyalahgunaan status atau wewenang. Jadi dalam pemerkosaan itu ada unsur: serangan seksual, hubungan seksual (penetrasi seksual), tanpa persetujuan, tindakan fisik dan penyalahgunaan status/wewenang.

Nah sekarang kalau, ini kalau lho, kalau ada korban tapi “menikmati” pemerkosaan, bagaimana?. Yang bener, emang ada?. Ya siapa tahu, kita khan gak tahu.

Kalau dasar kita hanya pada teks definisi pemerkosaan pada kalimat “tanpa persetujuan seksual” maka tidak mungkin ada korban yang “menikmati”. Justru yang terjadi fisik dan psikis si korban malah rusak.

Ok kita coba untuk telaah lebih lanjut, kita hubungkan dengan fakta-fakta yang terjadi. Masih ingat gak?, ketika pihak keamanan daerah Sulawesi Selatan menemukan segumpal daging di kamar kos, yang dicurigai itu adalah janin. Jumlahnya kurang lebih ada sembilan kotak, tersimpan rapi dalam kotak plastik tertutup rapat.

Kemudian sekitar tiga bulan yang lalu di kota Propinsi Jawa Tengah seorang remaja laki-laki melarikan pacarnya, yang masih dibawah umur. Si gadis dibawa ke sebuah rumah,  si gadis diperlakukan bak budak seks.

Dalam laporan orang tua si gadis pada pihak kepolisian, bahwa telah kehilangan anak perempuannya. Saat anak tersebut ditemukan dalam keadaan linglung, badan kurus, tatapan kosong, alat kelamin rusak, Diduga dipaksa untuk melayani nafsu seks dari sang pacar.

Nah berkaca dari dua peristiwa tersebut diatas, konteks pemerkosaan bukan lagi hanya pada pemaksaan secara kasar ke fisik. Peristiwa pemerkosaan bisa terjadi pada pemaksaan secara halus bahkan mampu membuai pada si korban. Pada akhirnya si korban menuruti apa maunya si pelaku. Si pelaku itu biasanya adalah kekasihnya sendiri.

Anggapan kekasih atau pacar adalah orang yang dianggap mampu memberi rasa kasih dan sayang. Namun ternyata rasa cinta kasih dan sayang itu, bukanlah rasa untuk melindungi, melainkan justru malah merampok/merusak originalitas diri seorang perempuan. Bukankah itu juga termasuk pemerkosaan? Memaksa untuk melakukan penetrasi seksual yang berakibat originalitas fisik si anak perempuan menjadi rusak.

Pemaksaan bisa terjadi dalam bentuk rayuan-rayuan gombal yang membuai, yang menebar janji-janji romantis. Dan kalau ini tidak bisa, pastinya si pelaku akan sedikit memberi ancaman ringan, berupa pemutusan hubungan, kalau belum membawa hasil maka akan ada sedikit ancaman kasar. Hal ini sangat mungkin bisa terjadi karena mereka berdua di ruang atau di tempat yang tidak dilihat orang lain. Jadi sangat memungkinkan ada unsur pemaksaan/ancaman yang dilakukan oleh sang kekasih.

Mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa “ooo itu bukan pemerkosaan, khan dilakukan suka sama suka”. Ya sekilas mungkin betul, kalau kita hanya berkutat di definisi bahwa salah satu unsur pemerkosaan adalah tidak adanya persetujuan seksual oleh si korban, dan kalau ada persetujuan  tidak akan dianggap sebuah pemerkosaan.

Pertanyaanya apakah kita bisa memastikan bahwa si perempuan selaku korban dengan gampang banget, 100% legowo nyoooh gitu pada laki-laki yang belum sah jadi suaminya? Wah kasihan sekali mahluk mungil yang bernama perempuan itu, kalau langsung di vonis 100% legowo.

Atau misal begini, pernah gak kita terlanjur membeli suatu produk, yang sebenarnya kita gak akan/mau beli produk tersebut. Tapi karena yang jual adalah sahabat karib atau saudara, kitapun merasa gak enak dan pada akhirnya kita dibuat klepek-klepek cenderung membeli produk tersebut. Secara gak sadar sebenarnya kita terpaksa/dipaksa untuk membeli produk tersebut, ya gak?.

Begitu juga dengan pemaksaan penetrasi seksual dalam berpacaran,  hal itu sudah mengandung unsur pemaksaan atau pemerkosaan. Apalagi si laki-laki belum punya hak untuk buka segel alias penetrasi seksual.

Fakta yang terjadi, mayoritas laki-laki cenderung menganggap enteng perbuatan terlarang tersebut dan mayoritas laki-laki cenderung melupakan atau lari dari tanggung jawab terhadap perbuatannya. Berapa banyak sudah, perempuan menjadi korban dari “pemaksaan” sang pacar, mungkin tidak akan bisa dihitung lagi, karena terlalu banyaknya janji-janji palsu yang membuai si korban.

Memang sebuah rasa cinta kasih itu merupakan karunia dari Tuhan yang tidak bisa kita pungkiri, tetapi sebagai manusia yang punya logika dan berakal, perlunya kita hati-hati dalam membangun rasa cinta.

Ada batasan-batasan rasa yang perlu kita logikakan. Dan bukan sebuah kekeliruan ketika kita menganggap bahwa unsur “pemaksaan” penetrasi seksual dalam berpacaran sebagai unsur pemerkosaan.

Pada akhirnya prinsip terakhir kita adalah kembali pada keimanan kita sekaligus bangun nalar-nalar sehat kita.