Contact adalah sebuah film ber-genre sci-fi yang dirilis pada tahun 1997. Film tersebut merupakan hasil garapan dari sebuah novel mahakarya Carl Sagan yang juga berjudul Contact yang dirilis pada tahun 1985. Contact merupakan salah satu film terbaik karya Robert Zemeckis yang sudah lama berkecimpung di dunia perfilman.

Adalah Ellie Arroway (diperankan Jodie Foster) yang sangat tertarik dengan dunia astronomi. Kecintaannya pada dunia astronomi telah tertanam sejak ia masih kecil. Ayahnya banyak kali menjelaskan tentang astronomi kepadanya. Namun, pembelajaran itu terpaksa berhenti karena sang ayah meninggal dunia ketika Arroway berusia 9 tahun.

Kecintaan kepada astronomi tidak hilang begitu saja dari Arroway bersama kepergian abadi sang ayah. Kelak ketika dewasa, ketertarikannya pada astronomi mengantarnya pada program satelit di Observatorium Arecibo, Puerto Rico, bernama Program SETI. Di tempat inilah Arroway semakin menguatkan tesisnya akan alam semesta: bahwa “ada kehidupan selain di bumi”. Setelah itu, ia mencoba dan terus mencoba membuktikan tesis tersebut dengan penilitian yang bagi banyak orang akan berakhir sia-sia.

Hingga suatu saat, penelitian Arroway mendapatkan sinyal suara dari bintang Vega yang berjarak 26 tahun cahaya dari bumi. Sinyal suara itu hanya dapat dimengerti dengan bahasa matematika, yakni bilangan prima. Sayangnya, mayoritas respon adalah negatif. Kebanyakan respon negatif atas penelitian Arroway datang dari orang-orang beragama yang tampaknya mengakarkan diri kepada iman (Kebenaran Mutlak ada pada Allah). Mereka menentang keras temuan Arroway.

Analisis dalam tulisan ini akan berkutat seputar pemikiran atau gagasan Arroway terkait dengan kehidupan lain selain di bumi. Maka itu, saya hendak membahas tesis Arroway ini dengan menggunakan pendekatan seorang tokoh bernama Giordano Bruno. Bersama tokoh ini, saya juga ingin turut membahas tesis Arroway dengan mempertanyakan kembali tesis Arroway sebagai pertanyaan penuntun: “Benarkah ada kehidupan lain selain kehidupan di bumi?” Dan dari tesis Arroway dan Bruno ini kita akan bersama-sama mencari relevansinya untuk kehidupan manusia.

Giordano Bruno (1548-1600) adalah seorang imam dari ordo Dominikan kelahiran Nola, Italia. Bruno adalah seorang filsuf, bukan seorang astronom. Untuk itu, Bruno lebih dikenal sebagai kosmolog oleh karena pemikiran-pemikirannya banyak berkecimpung seputar alam semesta. Ia juga dikenal dengan ide mengenai alam semesta tak terbatas. Pria Italia yang dikenang sebagai martir pertama ilmu pengetahuan ini tewas dibakar pada tanggal 17 Februari 1600 oleh karena pemikirannya tentang dunia yang tak terbatas yang dinilai bertentangan dengan tradisi Gereja Roma (cf. White: 2002, 47-48).

Pemikiran Bruno mendapat pengaruh yang amat besar dari Nicolaus Copernicus. Bruno sendiri banyak menginterpretasikan pemikiran astronomi dari Copernicus. Salah satu pemikiran Copernicus yang pernah diinterpretasi Bruno adalah gagasan tentang infinite (yang tak terbatas). Dengan gagasan infinite Copernicus, Bruno berhasil menciptakan sebuah kosmologi baru (cf. Gatthi:2011, 29).

Bruno percaya bahwa alam semesta merupakan dunia yang tak terbatas. Ada matahari yang tak terbatas, ada planet-planet yang tak terbatas yang mengelilingi matahari mereka masing-masing (cf. White: 2002, 71-72). Dalam karya berjudul De I’infinito, Universo e Mondi (The Infinite Universe and Its Worlds), Bruno berpendapat bahwa alam semesta ini jumlahnya tak terbatas, yang berisi dunia yang tak terbatas pula, tetapi di dalamnya dihuni oleh makhluk-makhluk cerdas (http://galileo.rice.edu/chr/bruno.html).

Termasuk bumi memiliki dunia-nya yang tak terbatas yang juga dihuni oleh makhluk-makhluk hidup yang diciptakan dengan substansi yang sama seperti halnya kehidupan di bumi (cf. Gatti: 2011, 29). Bahkan bulan, bintang-bintang di langit dan planet-planet di alam semesta memiliki kehidupan.

Itu berarti, melihat pemahaman Bruno, bukan hanya bumi saja yang menyimpan kehidupan, melainkan juga yang ada di luar bumi. Planet bumi yang didiami manusia hanyalah secuil kehidupan dari kehidupan di alam semesta. Kendati demikian, Bruno mengakui bahwa alam semesta itu tetap berada dalam Allah, dan Allah ada dalam alam semersta (a universe in which we are in God, and God is in us. White: 2002, 48)

Menarik bahwa terlihat bahwa entah Arroway maupun Bruno sama-sama mengakui akan adanya kehidupan di luar bumi. Bahkan untuk membuktikan hasil risetnya, Arroway begitu bersemangat  pergi ke tempat sinyal suara itu berada, yakni ke bintang vega yang berjarak 26 tahun cahaya itu.

Namun, ada perbedaan yang cukup mencolok dari Arroway dan Bruno. Ada perbedaan mengenai makhluk yang hidup di luar bumi. Arroway mengatakan bahwa sinyal suara dari makhluk bintang vega itu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa matematika. Dalam hal ini, bahasa matematika merupakan bahasa yang kompleks, yang tidak lazim dipakai dalam sistem bahasa manusia bumi, yang menurut hemat saya bisa saja Arroway menggambarkan makhluk tersebut adalah alien. Sedangkan pandangan Bruno mengenai makhluk di luar bumi itu adalah makhluk yang memiliki keterhubungan materi di luar bumi mirip seperti materi yang ada di bumi (White: 2002, 47-48).

Dengan mengakui bahwa ada kehidupan selain di bumi, hemat saya, itu menandakan adanya makhluk-makhluk tertentu yang sungguh hidup dan yang mendiami suatu tempat tertentu. Kita tentu dapat berspekulasi bahwa makhluk-makhluk tersebut memiliki cara-cara tertentu untuk bertahan hidup; mereka memiliki aturan-aturan hidup tertentu yang mirip seperti di bumi; memiliki perasaan-perasaan seperti makhluk bumi. Singkatnya, makhluk-makhluk tersebut memiliki hidup yang mirip sebagaimana makhluk-makhluk di bumi ini hidup.

Keberadaan makhluk-makhluk tertentu yang hidup menjadi sebuah tanda penting akan adanya kehidupan di tempat di mana mereka diami. Menurut berita yang diturunkan www.cnnindonesia.com pada 2015 lalu, para ilmuwan NASA juga memiliki persepsi yang sama sebagaimana disampaikan oleh Bruno dan juga Arroway dalam film Contact. Bahwa ada kehidupan lain yang ada di luar bumi.

Kepala ilmuwan NASA, Ellen Stofan, berpendapat bahwa kehidupan yang dideteksi di luar bumi adalah mikroba. Pendeteksian mikroba menjadi sangat penting karena dari mikroba lahirlah sebuah kehidupan yang lebih besar. Selain mendeteksi kehidupan mikroba, NASA juga turut mendeteksi kehidupan lain seperti keberadaan air, yang juga diakui sebagai salah satu elemen penting dari adanya kehidupan.

Lalu apa yang penting untuk dilihat dari tulisan ini? Dari nationalgeographic.co.id, diberitakan bahwa ada sekitar setengah juta sampah luar angkasa dan sampah-sampah tersebut sudah semakin menumpuk. Sampah, sebagaimana yang ada di bumi, bisa merusak kehidupan di luar angkasa. Ekosistem luar angkasa bisa tercemar. Kerusakan yang disebabkan oleh sampah bisa menghancurkan kehidupan dari makhluk-makhluk yang ada di luar bumi.

Apabila ekosistem luar angkasa rusak, maka itu bisa sangat berpengaruh buruk,baik terhadap kehidupan di luar bumi maupun kehidupan di bumi kita. Dengan perubahan-perubahan alam yang tak menentu, bisa saja sempah-sampah tersebut menglami keterlemparan hebat, yang mengakibatkan kecelakaan luar biasa dengan benda-benda angkasa, dan bisa juga menghantam bumi.

 Luar angkasa bukanlah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Luar angkasa adalah tempat di mana adapula kehidupan seperti halnya kehidupan di bumi.Maka itu, tidak perlu lagi membuang sampah di luar angkasa. Atau bila perlu, kita lakukan pemusnahan sampah-sampah luar angkasa; sebuah pemusnahan total terhadap sampah-sampah tersebut hingga menjadi abu. Dengan begitu, lingkungan menjadi bersih dan Arroway tetap bisa mendengar sinyal suara dari bintang Vega.