Tamparan keras pemuda jaman now karena meninggalnya Guru Budi di Sampang, Madura. Bagaimana begitu tega, siswa yang diberi ilmu dan menerima didikan justru memukuli gurunya. Akibat perbuatan itu, Guru Budi meninggal.

Padahal, bila mendengar cerita maupun kisah dari berbagai sumber, Guru Budi ini tengah mengingatkan murid. Karena terlalu gaduh, diminta diam. Si murid cuek. Guru Budi pun sedikit mencoret cat air di pipinya. Entah si murid kerasukan apa sehingga ia menjadi brutal.

Sebenarnya apa yang dilakukan Guru Budi tak seberapa. Bayangkan bila si anak masuk di pesantren, kemudian kena takzir (baca: hukuman). Bisa dijemur untuk hafalan sampai diminta lari di terik siang.

Tak hanya itu saja, kerap kali murid pun dihukum fisik semisal dipukul penggaris, dicubit, atau ditarik rambut samping telinganya. Konsekuensi kalau dia lupa hafalan nahwu, sharaf, ataupun imriti. Tak ada dendam dan marah. Karena ketika mendidik, posisi guru tak ubahnya raja. Segala ucapnya adalah titah.

Dalam konteks ini, sejalan dengan ajaran bagi para penuntut ilmu dalam Talimul Mutaallim. Murid dalam posisi taat, manut, dan pasrah kepada guru. Barangkali Anda pernah membaca ungkapan Imam Ali Karamallahul Wajhah,  Siapa mengajarkan aku satu ilmu, maka aku siap menjadi budaknya."

Lalu kenapa sebegitu kurang ajar, ada siswa memukul gurunya? Yang saya tulis di atas adalah soal adab. Ya, adab penuntut ilmu. Urusan ilmu tak hanya soal menjadi pintar, kemudian menjadi "orang". Bicara ilmu adalah juga soal kemanfaatan. Dan adab ini adalah cahaya keilmuan. Di mana seorang murid sampai kapan pun harus menghormati dan menghargai para pemberi ilmu.

Anda tak usah heran ketika melihat kiai atau ulama bisa berebut cium tangan. Saling memuliakan. Bahkan sampai saling mendahulukan. Itulah adab. Bisa jadi ini lantaran terlalu banyak tontonan kurang tuntunan. Bagaimana yang muda kasar pada yang tua. Sementara yang tua kurang welas asih.

Baiknya saya menceritakan ulang kisah dari teman yang bisa menjadi contoh. Ini soal laku dan akhlak pemimpin di NTB. Ia adalah TGB Dr KH M Zainul Majdi. Gubernur dua periode.

Kisahnya saat munas alim ulama NU di Lombok. Acara berjalan baik sampai pembukaan. Tanpa kabar dan cerita, tetiba beredar banyak foto dan cerita soal TGB yang datang kepada KH Maimoen Zubair. Kiai paling tua di tubuh NU.

TGB mendatangi ke hotelnya. Kalau di Jawa, kalangan pesantren akrab dengan bahasa sowan. Di sana TGB menimba ilmu dan meminta doa.

Masih menurut cerita, hal ini dilakukan TGB ke banyak ulama. Kepada siapa saja yang mulia dari sisi keilmuan. Seperti yang saya dapat foto dari sebuah acara di Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang.

Di tengah bertemunya para ulama, TGB menyampaikan memohon maaf bila suul adab, kedatangannya ke Bahrul Ulum untuk menimba ilmu. Lelaku seperti ini harus sesering mungkin ditunjukkan para pemimpin negeri ini.

Kalau kita semua, barangkali baru jadi lurah atau camat, sudah lupa bagaimana menghormati orang tua. Baru punya mobil sudah merasa tak butuh orang. Dan baru bergelar master lagaknya sudah paling pintar.

Dan soal adab, sekolah terdekat adalah keluarga. Bapak dan ibu jangan semata menuntut anak sekolah, mendapat ilmu, dan nilai tinggi. Mengabaikan aspek penting, yaitu adab. Akhlak kepada para guru.

Para orangtua harus terus mengontrol kelakuan anak. Bukankah orangtua tugasnya tak hanya mencarikan nafkah? Ada nafkah batin yang juga harus diberikan.