2 bulan lalu · 11092 view · 3 min baca · Media 64902_70543.jpg
Foto: Twitter

Adab Kaesang (Bukan) Akhlak Anak Pejabat

Saya suka heran bercampur geli melihat tingkah warga-warganet Indonesia. Satu waktu, hal-hal besar bisa jadi sepele dibikinnya. Kali lain, yang sepele-sepele itu justru seringnya mereka besar-besarkan. Terlalu banyak contoh untuk membuktikannya.

Kemarin, dan mungkin sampai hari ini, cerita tentang Kaesang Pangarep yang turut melayat keluarga Susilo Bambang Yudhoyono di Singapura jadi bahan omongan pengguna media sosial. Itu tentang penampilan adabnya yang dinilai unik. Mereka menyebutnya sebagai “akhlak anak pejabat”. Viral!

Akhlak anak pejabat? Dari mana datangnya?

Umumnya cap itu muncul dari kelompok yang gemar dinamai sebagai “kaum cebong” oleh pelawannya. Mereka tampak mendramatisasi perangai Kaesang yang mencium tangan Presiden RI ke-6 SBY kala melayat untuk mendoakan mendiang istri tercinta, Kristiani Herawati yang populer disapa Ani Yudhoyono, di masjid KBRI Singapura.

Dikisahkan begini: Kaesang ikut dalam antrean para pelayat. Saat tiba giliran, adik Gibran Rakabuming ini lalu membungkuk melewati orang banyak yang sedang duduk untuk kemudian meraih dan mencium tangan SBY. SBY membalasnya dengan pelukan cita berbalut duka.

Kaesang bahkan hampir mencium tangan kedua putra SBY sekaligus, AHY dan Ibas, kalau saja tidak langsung dialihkan dengan pelukan juga. Kaesang tampil layaknya kebanyakan anak kampung yang dididik untuk selalu merendah dalam berelasi.


Anehnya adalah satu di antara warga-warganet itu kemudian mengimbau kepada semua anak pejabat di negeri ini untuk belajar ke Kaesang dalam hal beradab-berakhlak. Kaesang dianggap sebagai contoh paling layak bagaimana anak pejabat mesti berlaku di hadapan publik.

“Kepada anak menteri, anak gubernur, anak bupati, anak kadis, dan anak pejabat lain, nyantai saja. Belajar sama Kaesang dan saudaranya. Akhlak mereka, selain senapas dengan adat istiadat kita, juga dapat poin dalam agama,” tulisnya dalam Akhlak Anak Pejabat.

Tuh, kan? Bagaimana saya tidak heran bercampur geli kalau begitu? Sangat receh!

Kita tahu semua, mencium tangan “orang tua” adalah perkara yang sebenarnya biasa-biasa saja. Pun demikian dengan membungkukkan badan saat hendak melintas di hadapan orang yang sedang duduk. Itu semua adalah kebiasaan, adat istiadat masyarakat tertentu, bukan “kita”.

Foto: detikNews

Tidak ada yang istimewa dari tingkah seperti itu. Bukan sesuatu yang baku, wajib, apalagi sampai menyebut yang bersangkutan sebagai prototipe “orang Timur”. Tidak ada yang lebih ngawur daripada mengharuskan suatu kebiasaan “buruk” seseorang untuk berlaku bagi semua.

Dramatisasi yang Politis

Cerita “kesopan-santunan” Kaesang ini bermula dari kicauan politikus Partai Demokrat, Andi Arief. Melalui akun Twitter-nya, @AndiArief, ia menggambarkan bagaimana sosok Kaesang di hadapan orang yang lagi bersedih hati.

“Setelah salat jenazah Ibu Ani di masjid KBRI Singapura, ada anak muda yang sederhana setengah duduk mencium tangan Pak SBY, lalu SBY berdiri memeluknya. Anak muda itu sebelumnya mengantre bersama masyarakat untuk mendoakan Ibu Ani. Anak itu namanya @kaesangp.”


Wasekjen Partai Demokrat, Rachland Nashidik, turut membagikan hal serupa. Pemilik akun @RachlanNashidik ini mengaku terharu melihat perilaku anak bungsu Presiden RI Joko Widodo tersebut.

“Kemarin, saat jenazah Ibu Ani disalatkan di masjid KBRI, Kaesang datang. Ia antre menunggu. Saat giliran tiba, ia menunduk takzim dan mencium tangan EBY dan AHY, tapi langsung dipeluk. Anak muda berbudi. Saya terharu menyaksikan momen itu.”

Berkat kicauan mereka, nama Kaesang pun lagi-lagi jadi topik panas. Banyak orang memujinya karena menilai adabnya patut ditiru sebagai “akhlak anak pejabat”. Meski tak sedikit pula yang berlaku sebaliknya karena satu dan lain hal, semisal soal pakaiannya yang dianggap tidak atau kurang mengikuti “aturan”; atau yang menganggapnya biasa-biasa saja seperti tulisan ini.

Terlepas dari kebiasaan Kaesang dan perlunya orang untuk mengapresiasi tingkahnya, apa yang para pemujinya lakukan terhadapnya hanyalah dramatisasi yang terlalu berlebihan. Apalagi oleh dua politisi Partai Demokrat, Andi dan Rachlan, yang tak lebih sekadar dramatisasi yang politis belaka.

Ah, namanya juga politisi. Kalau lakunya tidak politis, ya bukan politisi namanya.

Artikel Terkait