Tulisan ini berangkat dari diskusi yang dilaksanakan oleh “Majelis Baca Anak Siak”. Majelis ini merupakan salah satu ranah santri (Anak Siak) untuk berliterasi bersama-sama di luar jam belajar formal sekolah.

Diskusi beberapa hari lalu membahas Adab dan Humaniora itu secara kultural-historis. Medium diskusi saat itu adalah sebuah buku yang berjudul “Cita Humanisme Islam: Panorama Kebangkitan Intelektual dan Budaya Islam dan Pengaruhnya terhadap Renaisans Barat” atau yang diterjemahkan dari “The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and The West” ditulis George Makdisi (1981).

Bagi beberapa orang, mungkin akan berpikir ambigu apa yang disebut dengan kajian Adab? Humaniora? Ada yang berpendapat adab adalah ilmu mengajarkan kesopansantunan, pendidikan moral, dan lain-lain. Begitulah dialektika bahasa. 

Jika mengkaji adab dalam pengertian bahasa arab, kita akan menemukan adab sebagai ilmu tata bahasa dan sastra. Bila dalam bahasa indonesia adab adalah berperilaku baik, sopan, dan hal-hal yang bermoral.

Tapi anehnya, tanpa ada dialektika pun orang-orang langsung memahami apa itu ilmu sastra. Padahal, sastra adalah salah satu output kajian adab itu sendiri. Muara keilmuan seperti sastra, puisi, dan bahasa adalah kajian adab itu.  

Kajian adab lahir dari kalangan bangsa arab klasik sebagaimana pendapat Imam az-Zamakhsyari (1075-1144 M). Mufassir kenamaan penulis kitab tafsir Al-Kasyyaf. Kajian adab merupakan “rumpun pengetahuan yang bertujuan untuk menjaga seseorang agar terhindar dari kesalahan dalam berbicara dan menulis sesuai dengan tradisi wacana arab klasik”.

Kajian adab secara mendalam terbagi kepada dua rumpun oleh orang-orang arab klasik. Rumpun pertama, meliputi teknik penysunan kamus (leksikografi), kata-kata (morfologi), asal usul makna kata (etimologi), susunan kalimat (sintaksis), dan kecapakan bahasa arab: ilmu ma’ani, balaghah, badi’, ritme/persajakan, dan perasamaan bunyi (rima). Rumpun kedua meliputi seni menulis (kaligrafi), merangkai syair, dan kajian sejarah (tarikh).

Lalu bagaimana dengan humaniora? Istilah humaniora sendiri berarti artes liberales dalam bahasa yunani. Kajian humaniora meliputi logika, retorika, dan gramatika atau disebut dengan trivium dalam pendidikan yunani. 

Ruang lingkup humaniora tak ubahnya dengan adab. Hanya saja penambahan kajian humaniora dikuatkan atau diyakini sebagai antitesis dari keilmuan eksak seperti matematika, fisika, dan saudara-saudaranya yang cenderung meningkatkan intelektual saja. Karena, kajian humaniora adalah interpretasi tentang sastra dan sejarah, kritik tentang seni, musik, dan teater yang semuanya membahas tentang batas-batas, kedalaman, dan kapasitas dari semangat manusia.

Relevansi adab dan humaniora sangat dekat dengan banyak kesamaan ouput yang lahir. Perbedaannya secara tampak jelas terletak dalam penamaan dan tempat keilmuan dikenal. Adab dikenal oleh orang-orang arab klasik, humaniora lahir dari keilmuan orang luar arab (أجْنَبِي).

Keunikan adab dan humaniora adalah keunikan manusia itu sendiri, melalui tingkatan berpikirnya membentuk kemampuan mengontrol perkembangan fisik dan mental, menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tentang keberadaan/eksistensi, menikmati suatu pelepasan kreatif dari emosi-emosi, menemukan pola-pola dari kehidupan, serta pencarian manusia akan nilai-nilai kehidupan.

Begitulah kajian ini dibangun diatas peradaban. Karena peradaban dinamai demikian adalah bentuk dari lahirnya sebuah kemajuan, kecerdasan, dan kebudayaan baik lahir maupun batin.

Era sekarang adab dan humaniora dipakai sebagai nama fakultas dalam perguruan tinggi islam yang mempelajari sejarah peradaban, bahasa, sastra, ilmu pustaka, dan terjemah. Dalam perguruan tinggi sekuler dinamai dengan fakultas ilmu budaya dan humaniora dengan pelajaran yang sama pula. Tapi, kebanyakan orang-orang juga tidak menyadari bahwa kajian adab dan humaniora juga merupakan program unggulan pesantren tradisional.

Pokok keilmuan pesantren tidak hanya masalah syariat. Secara tidak sadar, santri/anak siak mempelajari ilmu nahu, sharaf, mantiq, balaghah, tashrif, dan tarikh yang merupakan cabang-cabang keilmuan adab dan humaniora. Mempelajari ilmu-ilmu ini di pesantren berguna sebagai persiapan ilmu untuk mempelajari ilmu agama (tauhid, fikih, tafsir, dan saudara-saudaranya).

Kendati pesantren demikian, seorang santri juga dalam orientasi kehidupannya dihadirkan selera humor, kesantunan, kelembutan dalam tatanan lingkungan. Serta, ada atsar (sisa yang tertinggal) dari sastra Alquran pada diri mereka. Sebab, mereka tidak hanya membaca tapi juga mempelajari ilmu alat untuk memahami keindahan Alquran yang begitu fonomenal. Maka tak khayal jika seorang tamatan pesantren pandai bersastra juga, seperti yang termasyhur Cak Nun, Gus Mus, dan masih banyak yang lain.

Terlebih santri adalah subkultur dari budaya indonesia di pedesaan/kampung. Seorang santri akan mempelajari nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, keislaman. Maka terbuktilah pesantren adalah rumah produksi humaniora skala eksklusif.

Keberadaan santri dan pesantren telah menjadi mata rantai sejarah lokal (tatanan kebudayaan masyarakat). Sehingga, kekokohan tradisi pesantren merupakan salah satu faktor terpenting yang dipandang memiliki ajaran mencairkan tatanan tatanan masyarakat.

Maka, santri dapat disatukan ke dalam pola budaya, sosial, dan politik sampai ke daerah/kampung pedalaman. Bisa dibilang seorang santri adalah bukti yang valid (shaih) bahwa mereka penuntut ilmu yang paham dunia adab dan humaniora.