“Dipa, ana kertas gambar yang sudah aku warnai?” kata Dena kepada adik laki-lakinya yang berusia 6 tahun. Dena yang berusia 8 tahun sedang sibuk mencari kertas gambarnya yang hilang, dia mengira adik yang menghilangkan kertas gambar miliknya.

Dipa pun menjawab, “Aku.. tidak tahu,” namun Dena tetap bertanya padanya keberadaan kertas gambar tersebut dan mendapat jawaban yang sama. Dipa pun menangis karena merasa tidak dipercaya oleh kakaknya dan perasaan sedih lainnya. Beberapa saat setelah Dipa menangis, Dena pun ikut menangis.

Tak lama, Ibu datang menghampiri mereka berdua. Dengan nada keras, ibu berkata, “Dipa, Dena, kalian kenapa? Nangis kenceng-kenceng!” Bukannya reda, tangisan mereka bertambah keras dan kini ditambah dengan tendangan-tendangan yang tek tentu arah. Kacau!

“Heh! Mama tu gak ngapa-ngapain kalian ya, kenapa nangis? Coba jawab!” suara sesenggukan dari anak-anak pun kian terdengar. 

“Di..di.. pa.. kerrr taas… I..lang,” sambut Dena dengan suara tersangkut di tenggorokan. Dipa merespons dengan tangisan yang semakin menjadi dan hampir menyerang Dena dengan tangannya. 

Ibu pun memisahkan mereka. “Sudah! Sudah! Gitu aja diributin! Kalo gitu mama tinggal pergi aja!” Mereka meraung, melihat ibunya pergi. Kini, di ruang itu hanya terdengar tangisan belaka.

Ilustrasi di atas menggambarkan komunikasi verbal yang tidak efektif. Dena yang bertanya terus-menerus dengan pertanyaan yang sama kepada Dipa namun tidak percaya jawaban Dipa. Dipa menangis karena merasa tidak dipercaya oleh kakaknya. 

Karakter ibu yang digambarkan keras menghalangi dirinya memahami situasi sehingga bukannya menjadi solusi malah membuatnya lebih runyam lagi. Beliau menganggap konflik kedua anaknya tidaklah penting dan akan reda dengan sendirinya kalau ditinggal pergi. 

Tapi.. tunggu dulu! Nyatanya konflik tersebut mungkin akan segera mereda, namun bila berakhir tanpa pemecahan masalah yang tepat, bukan tidak mungkin konflik yang sama akan terulang, baik dalam lingkup yang sama ataupun lebih besar lagi.

Konflik yang terjadi pada anak-anak mungkin terlihat sederhana bahkan sepele bagi orang dewasa. Misalnya, kertas gambar yang hilang, rebutan mainan, ditinggal teman-temannya saat asik bermain atau diberikan janji beli es krim padahal tidak dibelian es krim. Sakit, Bro!

Padahal bila disetarakan dengan konflik orang dewasa, mungkin sakitnya sama dengan kehilangan Hp, tidak lulus ujian masuk universitas, bahkan ditinggal kekasih pas lagi sayang-sayangnya. Ambyar to?

Komunikasi efektif dengan anak tentunya dimulai dari memahami perasaan anak dan mengakui keberadaan perasaan tersebut. Bayangkan kembali ilusteasi di atas, bila saja sang Ibu mendekati anak-anak dengan tenang dan berkata lembut, mungkin anak akan menjawab pertanyaan dengan penjelasan situasi yang lebih baik. Bukannya terbawa emosi negative dan menjadikan anak takut serta bingung menjelaskan situasinya. 

Akui saja, anak sedang mengalami emosi negatif sehingga tidak dapat bersikap positif.

Lihat saja, ketika perasaan kita sedang marah, apakah kita bisa berlaku baik terhadap orang lain? Tentu saja secara alami tidak. Nah, apa yang membedakannya? 

Sebagai manusia dewasa, kita ‘dianggap’ telah mampu memiliki kendali diri lebih matang dibanding usia anak-anak. Idealnya ketika menghadapi anak-anak tentu kita harus mempunyai pengendalian sikap yang sangat perlu diperhatikan agar anak merasa ‘ada’ dan miliki suara untuk berpendapat tanpa harus mengesampingkan perasaan yang sedang dirasakan.

Jika Ibu mau memahami situasi dan perasaan anak, mungkin yang akan dikatakan adalah “Dena sedih ya, kertas gambarnya hilang? Padahal Dena sudah bekerja keras buat gambar itu” atau “Dipa merasa takut ya kalau kakak akan kecewa terhadap Dipa?” dan setelahnya, Ibu bisa mengajak keduanya diskusi tentang solusi apa yang bisa dilakukan untuk masalah tersebut.

 Ketika rasa aman dan percaya sudah dirasakan anak, bukan tidak mungkin anak mau diajak kerja sama untuk mencari solusi.

Hem… mungkin terdengar imajinatif bagi kita yang terbiasa dengan kultur menghakimi dulu, klarifikasi kemudian. Tapi sungguh, meski membutuhkan energi dan usaha lebih untuk memulai hal tersebut, nyatanya itu lebih efektif memecahkan konflik daripada meninggalkannya begitu saja tanpa titik terang yang jelas.

Bila dihubungkan dengan situasi kita di masa pandemi, seharusnya ini dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah dalam melakukan komunikasi yang efektif kepada rakyatnya. Saya begitu sedih mendengar kabar petugas kesehatan yang dilumuri kotoran, ditolak kedatangannya, dan lain sebagainya. 

Hal tersebut berakar dari hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemangku kebijakan dan berimbas buruk bagi tenaga kesehatan ataupun pihak lain yang betul-betul berjuang melawan pandemi.

Jika ilustrasi di atas mengarah pada kemungkinan toxic parents, maka dalam kondisi ini kita mengarah kepada toxic government. Menuntut masyarakat untuk patuh protokol kesehatan dan sebagainya, namun tidak memberi contoh yang baik. Menuntut masyarakat mengurangi kegiata berkumpul dengan massa besar, namun malah mengesahkan aturan yang mengundang rakyat untuk turun ke jalan dalam jumlah besar. 

Haduh. Maunya apa sih? Mau masyarakat tetap sehat fisik dan psikis di pandemi? Ya, penegakkan aturannya itu lho, jangan loyo. Korupsinya itu lho jangan sontoloyo. Hiiiiih.

Bila dianalogikan rakyat sebagai anak-anak dan pemerintah sebagai orang tua. Sekali saja orang tua mampu memahami kebutuhan anak-anak dan melakukan komunikasi dua arah, saya rasa kita akan mampu bekerja sama mengatasi masalah di masa pandemi. Tapi syaratnya, orang tua harus memiliki kesadaran bahwa dirinya bertanggungjawab atas usaha keselamatan anaknya. 

Empati dan peduli terhadap perasaan anaknya serta kekompakan orang tua dalam memberi arahan pada anak-anaknya. Kalau Ibu maunya begini sedangkan bapak maunya begitu, anak-anak malah bingung to kudu ngapain? Sama, rakyat juga bingung kalau kebijakan dan infonya tidak sinkron.